alexametrics

Cerita Pagi

Rumah Sakit Kardinah: Bangunan Bersejarah Saksi Perjuangan Adik RA Kartini

loading...
Rumah Sakit Kardinah: Bangunan Bersejarah Saksi Perjuangan Adik RA Kartini
Rumah Sakit Kardinah yang berada di Jalan KS Tubun No 4, Kejambon, Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, mempunyai nilai sejarah tersendiri. Foto/Istimewa/Infotegal
A+ A-
Rumah Sakit Kardinah yang berada di Jalan KS Tubun No 4, Kejambon, Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, mempunyai nilai sejarah tersendiri. Bangunan ini seakan menjadi monumen hidup perjuangan adik kandung Raden Ajeng (RA) Kartini, yaitu Raden Ajeng (RA) Kardinah.

RA Kardinah tidak kalah gigih usahanya dalam meningkatkan derajat kaum wanita. Sejak kecil dia bersama saudara kandungnya, Kartini dan Roekmini, mengabdikan diri demi kemajuan wanita dan bangsa.



Pada 1902 Kardinah menikah dengan RM Reksoharjono dan mengikuti suaminya ke Pemalang dan Tegal. Saat suaminya menjadi patih di Pemalang, di lingkungan Kepatihan, Kardinah pun mengajari anak-anak belajar menulis dan menjahit. Cara mendidiknya menarik perhatian kaum priayi karena itu banyak di antara mereka menitipkan anak-anaknya.

Setelah enam tahun di Pemalang, pada 1908 suami Kardinah diangkat menjadi Bupati Tegal bergelar Reksonegoro X. Di Tegal, Kardinah semakin bergairah untuk mencerdaskan perempuan pribumi.

Dia membangun sekolah kepandaian putri bagi gadis pribumi bernama Wismo Pranowo. Selain mengelola sekolah itu, dia mengajarkan anak didiknya membatik dan memasak.

Bukan itu saja, Kardinah pun merintis pembangunan rumah sakit untuk membantu masyarakat agar mendapat pengobatan yang baik. Apalagi sejak kecil Kardinah bercita-cita membangun rumah sakit untuk umum. Cita-cita itu berawal dari seringnya dia melihat ketidakadilan dalam pelayanan kesehatan.

Apabila sakit, dia berbaring di tempat tidur dengan memakai selimut dan obatnya dari dokter. Tetapi bila pelayan yang sakit, hanya berbaring di balai-balai berselimut tipis dan obatnya seadanya.

Dalam pikiran Kardinah, meskipun kecil, harus sebuah rumah sakit umum. Lalu dia pergi ke Pekalongan menemui Residen Pekalongan Schilling, untuk membicarakan rencana pembangunan rumah sakit tersebut.

Residen menyatakan sangat setuju dengan gagasan Kardinah dan menyanggupi akan memberi bantuan, dengan catatan rumah sakit itu harus diberi nama Kardinah. Akhirnya pada 1927 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit oleh Soematri Sosrohadikoesoemo, adik Kardinah.

Saat itu Kardinah sakit dan harus dirawat di Semarang, sehingga rancangan dan pelaksanaan pembangunan rumah sakit itu diserahkan kepada temannya yang berkebangsaan Belanda, B Hommes. Rumah sakit itu ternyata dibangun dari uang hasil penjualan buku dan kompensasi sekolah kepandaian putri Wismo Pranomo, yang diambil alih Pemerintah Belanda.

Waktu itu Kardinah berhasil mengumpulkan uang 16.000 gulden (F 16.000), jumlah yang sangat besar pada waktu itu. Buku karya Kardinah yang dijual pada Pemerintah Belanda adalah buku penuntun memasak dan membatik.

Semula Kardinah berharap ada subsidi dari pemerintah. Namun subsidi yang dia tunggu untuk membantu pembiayaan sekolah yang dia bangun, tidak kunjung datang. Keadaan ini menghidupkan kembali semangat untuk mewujudkan apa yang belum terlaksana dan apa yang berguna untuk bangsa.

Akhirnya rumah sakit yang diidam-idamkan Kardinah berdiri. Rumah sakit baru yang disediakan kardinah untuk masyarakat umum ini diberi nama Kardinah Ziekenhuis. Dari hasil penjualan buku-bukunya itu, Kardinah masih dapat mendirikan sebuah rumah penampungan bagi orang-orang miskin, tidak jauh dari rumah sakit.

Atas kerja sosialnya, Kerajaan Belanda memberi bintang kepada Kardinah, yakni: Ridder van Oranje Nassau. Suaminya, Haryono yang menjadi Bupati Tegal sampai 1930, juga mendapat bintang Ridder in de Orde van de Nederlandsche Leeuw.  
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak