Aksi Tabur Bunga Korban Pelanggaran HAM Protes Matinya Demokrasi di Yogyayakarta
Senin, 15 Januari 2024 - 12:21 WIB
loading...
Penyintas pelanggaran HAM menggelar aksi tabur bunga di depan gerbang Gedung Agung, Kota Yogyakarta, Senin (15/01/2024). Foto: MPI/Yohanes Demo.
A
A
A
YOGYAKARTA - Sejumlah korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang tergabung dalam Forum Cik Ditiro menggelar aksi tabur bunga di Gedung Agung Yogyakarta pada Senin (15/01/2024). Tabur bunga ini sebagai simbol matinya demokrasi.
Sebelum melakukan tabur bunga di Gedung Agung, massa aksi mengawali kegiatan dengan berjalan kaki dari depan gedung PP Muhammadiyah Jalan KH. Ahmad Dahlan dengan membawa poster bergambar wajah Jokowi.
Sesampainya di depan gerbang timur Gedung Agung, massa langsung melakukan aksi menaburkan bunga dan memberikan nisan bertuliskan 'RIP demokrasi' dengan poster-poster yang disusun memanjang.
Baca Juga: BEM UGM: Mahasiswa Jijik Lihat Gimik Politik Sok Mewakili Anak Muda
Inisiator Forum Cik Ditiro Masduki mengatakan, melalui forum ini, sejumlah penyintas pelanggaran HAM berkumpul untuk menyampaikan keprihatinan atas matinya demokrasi di Indonesia.
”Ini forum, wadah menyampaikan keprihatinan masyarakat sipil bersama elemen yang terkait, yang bersifat jangka panjang. Karena semangat besar kita adalah merawat demokrasi substansial itu, sekarang demokrasi mengalami pembusukan, tetapi kematian,” katanya.
Sebelum melakukan tabur bunga di Gedung Agung, massa aksi mengawali kegiatan dengan berjalan kaki dari depan gedung PP Muhammadiyah Jalan KH. Ahmad Dahlan dengan membawa poster bergambar wajah Jokowi.
Sesampainya di depan gerbang timur Gedung Agung, massa langsung melakukan aksi menaburkan bunga dan memberikan nisan bertuliskan 'RIP demokrasi' dengan poster-poster yang disusun memanjang.
Baca Juga: BEM UGM: Mahasiswa Jijik Lihat Gimik Politik Sok Mewakili Anak Muda
Inisiator Forum Cik Ditiro Masduki mengatakan, melalui forum ini, sejumlah penyintas pelanggaran HAM berkumpul untuk menyampaikan keprihatinan atas matinya demokrasi di Indonesia.
”Ini forum, wadah menyampaikan keprihatinan masyarakat sipil bersama elemen yang terkait, yang bersifat jangka panjang. Karena semangat besar kita adalah merawat demokrasi substansial itu, sekarang demokrasi mengalami pembusukan, tetapi kematian,” katanya.
Lihat Juga :