alexametrics

Lagi-Lagi Pertarungan Kader Banteng

loading...
Lagi-Lagi Pertarungan Kader Banteng
Deklarasi kesepakatan damai paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali 2018 di depan monument Bajra sandi, Renon, Denpasar. FOTO/DOK.SINDONEWS
A+ A-
DENYUT nadi Kota Bali masih beraturan pada pekan lalu. Jalan-jalan pun bersih. Tak ada poster maupun bendera partai yang menusuk mata. Ini agak aneh. Sebab, tahun ini Pulau Dewata akan mengadakan pilkada. "Bendera parpol (partai politik) dan poster sempat menghiasi jalan-jalan pada tiga hari setelah para kandidat mendaftar. Sekarang sudah bersih semua," jelas Wayan, seorang warga Nusa Dua.



Pria yang bekerja sebagai sopir antar-jemput tamu Hotel Goodway Nusa Dua ini mengaku belum memutuskan siapa yang akan dipilih pada pilkada tahun ini. "Dua pasang calon sama-sama kuat, jadi bingung memilih siapa," tuturnya.

Sejumlah kalangan memprediksi jagoan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bakal unggul. Maklum saja, PDI-P memang partai kuat di sini. Partai besutan Megawati Soekarnoputri itu selalu memperoleh suara terbanyak di Pulau Dewata. Saat ini, PDI-P menempatkan 27 politikusnya di DPRD Provinsi Bali. Pada periode sebelumnya, ada 24 kader. Kekuatan ini merembet hingga persaingan kursi Bali I yang selalu diperebutkan oleh politikus atau kepala daerah yang pernah diusung PDI-P.

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali tahun ini kembali menyajikan pertarungan head to head antara I Wayan Koster-Tjokorda Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) dan Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra-I Ketut Sudikerta. Menariknya, Koster merupakan Ketua DPD I PDI-P Bali dan Mantra adalah Wali Kota Denpasar dua periode yang diusung PDI-P. Namun, yang mendapatkan tiket dari Megawati adalah Koster. "Ini tentu setelah pertimbangan kiri-kanan. Kadang tiap malam saya tidur enggak nyenyak, seperti main catur," ujar Megawati saat mengumumkan jagoannya itu.

Wajar saja presiden kelima Indonesia itu agak hati-hati memilih calon gubernur yang diusung. Lima tahun lalu, jagoan PDI-P, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan kalah 996 suara dari I Made Mangku Pastika-I Ketut Sudikerta. Kala itu, PDI-P dikeroyok sembilan parpol pengusung Pastika, antara lain, Golkar, Demokrat, PAN, Gerindra, dan Hanura. "Buat saya, sebetulnya aneh waktu lima tahun lalu, Bali bergeser ke tangan orang lain," katanya.

Apakah PDI Perjuangan kembali berkuasa di Pulau Dewata? Bagaiamana peluangnya dalam Pilgub Bali 2018? Simak laporan selengkapnya di Majalah SINDO Weekly Edisi 07/VII/2018 yang terbit Senin (16/4/2018) hari ini.



Lagi-Lagi Pertarungan Kader Banteng
(amm)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak