alexametrics

Hebat! Mahasiswa ITS Mampu Deteksi Penyakit Leukimia

loading...
Hebat! Mahasiswa ITS Mampu Deteksi Penyakit Leukimia
Hamim Zajuli Al Faroby, mahasiswa ITS Surabaya yang mampu menciptakan program deteksi sejak dini jenis kanker darah atau Leukimia. Foto/Aan Haryono
A+ A-
SURABAYA - Kanker masih menjadi penyakit mematikan di Indonesia. Berbagai terobosan pun dilakukan, salah satunya temuan Hamim Zajuli Al Faroby, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang mampu menciptakan program deteksi sejak dini jenis kanker darah atau Leukimia.

Hamim menuturkan, kanker merupakan suatu penyakit yang unik. Kebanyakan orang kerap terlambat untuk melakukan penanganan. Mereka tidak memahami kalau sedang menderita kanker.

“Penyakit kanker cenderung mengikuti pola pertumbuhan dan penyebaran tertentu. Imbasnya berbeda jenis, berbeda pula cara penanganan,” ujar Hamin, Kamis (15/3/2018).

Mahasiswa jurusan Matematika itu melanjutkan, berdasarkan studi penelitiannya, setidaknya ada empat jenis kanker darah atau penyakit leukimia yang paling umum di dunia.

“Dari empat jenis ini masih terklasifikasi lagi ke dalam beberapa sub jenis," jelasnya.

Semakin dini jenis leukimia teridentifikasi, katanya, maka semakin baik penanganan yang dapat dilakukan. Angka kematian akibat kanker pun bisa ditekan.

“Selama ini tenaga medis membutuhkan serangkaian tes untuk mempelajari contoh jaringan kanker dan tentunya memakan biaya dan waktu yang tidak sedikit,” ucap pria kelahiran Gresik ini.

Memanfaatkan kecerdasan buatan, Hamim berhasil merancang program pendeteksi jenis leukimia dengan memanfaatkan DNA/RNA pasien. Cara ini dianggap jitu untuk bisa mengurangi biaya dan bisa mendeteksi sejak dini.

“DNA/RNA pasien yang telah termutasi karena sel kanker diubah ke dalam bentuk numerik, kemudian dimasukkan ke program dan akan ketahuan jenis leukimia yang diderita pasien,” jelasnya.

Dalam prosesnya, kaya Hamim, program yang menggunakan metode klasifikasi Support Vektor Machine ini memakai 40 data DNA/RNA positif leukimia dari National Center of Biotechnology Information (NCBI) dan European Molekuler Biotechnology Laboratory (EMBL). Semua data-data itu dijadikan bahan utama latihan bagi pengklasifikasian data.

“Hasilnya terdapat 64 ciri dari DNA/RNA Leukimia yang tereduksi lagi menjadi hanya dua ciri,” imbuhnya.

Selanjutnya, data latihan itu digunakan untuk menguji 25 data lain untuk mengetahui akurasinya. Langkah ini bisa mendekteksi sekaligus memahami pola kanker.

“Gunanya untuk melihat performa dari program ini melalui tingkat akurasi prediksi,” sambungnya.

Keluaran dari program ini, lanjutnya, divisualisasi pada bidang dua dimensi untuk mempermudah analisis. Semakin banyak data latihan yang digunakan akan semakin akurat pula prediksi yang diberikan oleh program rancangannya.

“Ke depannya, akan ditambah lagi data yang dilatih agar semakin tinggi tingkat sensifitas dalam mendeteksi jenis leukimia,” terangnya optimistis.

Hamim berencana mengembangkan penelitian terkait program ciptaannya ini hingga mampu mendeteksi keberadaan kanker hanya berdasarkan kode DNA/RNA yang dinumerikkan.

“Rencananya, akan diperluas menjadi program pendeteksi kanker leukimia secara global dan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat,” ungkapnya.
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak