alexametrics

65 Siswa SD di Surabaya Diduga Dicabuli Wali Kelas

loading...
65 Siswa SD di Surabaya Diduga Dicabuli Wali Kelas
Tersangka M Saebatul Hamdi saat diamankan di Mapolda Jawa Timur. Foto Koran SINDO/Lukman Hakim
A+ A-
SURABAYA - Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) membekuk M Saebatul Hamdi (29) di rumahnya di Simo Sidomulyo 8/41B RT 006 RW 017 Kelurahan Petemon, Kecamatan Sawahan, Surabaya. Pria yang berprofesi sebagai guru itu diduga mencabuli 65 anak didiknya di salah satu SD di Kecamatan Semampir, Surabaya.

Rata-rata anak yang menimba ilmu di sekolah ini antara 8 sampai 11 tahun. Dari jumlah korban, 34 mengalami pelecehan secara verbal dan sisanya, 31 non verbal.

Modusnya, kata dia, tersangka meremas kemaluan anak, mengusap bokong anak hingga meremas kemaluan tersangka. Bahkan perbuatan tersebut disaksikan siswa yang lain.



Pencabulan dilakukan tersangka di dalam ruang kelas, di kolam renang hingga di dalam bus. Perbuatan itu dilakukan tersangka saat menjadi wali kelas di tahun 2013 sampai 2017.
“Semua korbannya adalah anak laki-laki," ungkap Machfud, Kamis (22/2/2018).

Dia menambahkan, pada Sabtu 17 Februari 2018 pihak sekolah mengirim pesan melalui group Whatsapp kelas IV A dan V A yang berisi agar datang ke aula sekolah pada hari Senin 18 Februari 2018.

Tujuannya, untuk memberitahukan perbuatan tersangka. Lalu wali murid menghadirinya pada Selasa 19 Februari 2018 untuk rapat dan kepala sekolah menceritakan perbuatan cabul yang dilakukan tersangka. Selanjutnya kasus ini dilaporkan ke Polda Jatim.

Pada Rabu 21 Februari 2018 pukul 18.00 WIB dilakukan penangkapan terhadap tersangka di rumahnya dan besoknya dilakukan penahanan. "Tersangka kami jerat Pasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak," katanya. Namun begitu, tersangka membantah jumlah korban yang diduga dia cabuli berjumlah 65 anak.

Dia hanya menyebut sekitar empat anak saja. Pria berkulit kuning itu juga mengaku tidak mengiming-imingi korban dengan apapun saat beraksi. Bahkan dia membantah melakukan pencabulan.

Tersangka berdalih apa yang dia lakukan hanya menyuruh siswa didiknya duduk didepannya dan tidak diapa-apakan. “Hanya empat anak saja dan itu tidak saya apa-apain. Kenapa kok jumlahnya menjadi banyak karena ada laporan lainnya dari orang tua siswa,” kilah tersangka.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak