alexametrics

Bocah SD di Karawang Ini Dikabarkan Meninggal Usai Diberi Vaksin Difteri

loading...
Bocah SD di Karawang Ini Dikabarkan Meninggal Usai Diberi Vaksin Difteri
Seorang pelajar kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kedawung 1, Terasysa (10) dikabarkan meninggal usai imunisasi difteri di sekolahnya. Foto korban semasa hidup di FB/Ist
A+ A-
KARAWANG - Seorang pelajar kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kedawung 1, Terasysa (10) dikabarkan meninggal usai imunisasi difteri di sekolahnya. Meninggalnya Terasysa usai diberi vaksi ini menimbulkan kehebohan warga Desa Kedawung, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, karena pemberian vaksin dilakukan serentak seluruh siswa yang kebanyakan warga Desa Kedawung. Warga yang panik membawa anaknya ke klinik, ataupun puskesmas terdekat untuk diperiksa kesehatannya.

Orang tua Tearsysa, Sardi mengatakan anaknya meninggal setelah diberi vaksin dari Puskesmas Lemahabang di sekolah, Sabtu 6 Januari 2018 lalu. Usai diberi vaksin anaknya mengalami demam tinggi sehingga dia membawa anaknya ke Puskemas.

Namun pihak Puskesmas mengaku tidak sanggup menangani sehingga dirujuk ke Klinik Medika. Hal yang sama juga terjadi di Klinik Medika tidak sanggup menangani hingga di rujuk ke RSUD.

"Hari Senin 8 Januari saya bawa anak saya ke RSUD dan sempat menjalani perawatan selama 24 jam dan kemudian anak saya meninggal dunia," katanya, Jumat (12/1/2017).

Sardi mengaku menerima musibah yang dialami keluarganya dengan tabah dan menganggap sebagai takdir. Bahkan ketika dari pihak kepolisian datang untuk autopsi pihaknya menolak dan tidak lagi mempersoalkan kembali. Dia hanya berharap musibah ini tidak terjadi terhadap orang lain. "Kami kelurga sudah menerima ini sebagai takdir dan tidak akan mempersoalkan kembali," katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Karawang Sri Sugihartati mengatakan, belum bisa memberikan diagnosa meninggalnya Terasysa akibat vaksin difteri.

Demam yang diderita Terasysa bisa saja disebabkan oleh diare dan panas. "Diagnosa sementara itu karena diare akut, sepsis dan dehidrasi. Ketika dibawa ke rumah sakit suhu tubuhnya mencapai 39 derajat dan turgornya tidak bagus," katanya.

Sri membantah panas dan diare yang diderita Terasysa karena efek samping vaksin difteri. Menurutnya, panas tersebut bisa saja disebabkan oleh diare. "Kami tidak bisa memberikan diagnosa bahwa meninggalnya Terasysa karena vaksin difteri, sebab hari Minggunya sudah diare dan panas," kata dia.  

Sementara itu sebagian siswa SDN Karangpawitan 1 Kelurahan Karangpawitan Kecamatan Karawang Barat tidak masuk sekolah usai dilakukan vaksin.

Salah seorang orang tua siswa, Asep Saepudin Hasan mengatakan anaknya sudah satu minggu tidak masuk sekolah karena sakit demam, usai diberi vaksi disekolah pada Senin 7 Januari 2017 lalu. Dia mengaku membawa anaknya, Sifa, ke dokter setelah dua hari anaknya menderita demam yang tidak kunjung turun.

"Setelah diberi vaksin anak saya menderita panas tinggi setelah dua hari tidak juga turun akhirnya saya bawa ke dokter. Bukan hanya anak saya saja, teman-temannya juga sebagian tidak masuk sekolah karena sakit," tandas Asep    
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak