alexa snippet

Di Sepanjang 'Jalan Gelap', Nyala Harapan Terbentang

Di Sepanjang Jalan Gelap, Nyala Harapan Terbentang
Tutus Setiawan (kaus hitam) dan para penyandang tunanetra di Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) bekerja keras melalui pelatihan, membaca buku, sampai pemetaan peluang untuk berdaya di dunia kerja. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A+ A-
SURABAYA - Keterbatasan penglihatan bagi para penyandang tunanetra tak membuat tumpul spirit mandiri dalam menjalani hidup. Mereka tetap tegak berdiri. Membuka jalan di 'jalur gelap' untuk menemukan riang kehidupan. Perjalanan cadas yang ditempuh mengubah banyak kehidupan. Sebuah langkah berani yang dipilih membawanya menembus batas kemampuan.

Jalanan masih basah akibat hujan di pagi hari ketika Tutus Setiawan (38) membuka pintu pagar rumahnya. Senyumnya mengembang, menyambut para tunanetra yang datang ke rumahnya di Jalan Karah 15A Surabaya, Jawa Timur. Dua tamunya langsung dibawa ke lantai dua, melewati ruang tamu yang nyaris tanpa ada cahaya.

Di rak buku dari kayu jati yang sudah lapuk, berjajar buku yang ditata rapi. Peta dunia berwarna hijau yang bentuknya cembung ke depan lengkap dengan huruf braille ada di atasnya, tepat menghadap ketika seseorang datang ke rumahnya. Dua kipas angin yang ada di atas membuat ruangan sedikit sejuk dari udara Kota Pahlawan yang panas.

"Kesempatan kita untuk bekerja tak hanya bisa menjadi tukang pijat atau pemusik. Kami memang terbatas dalam kemampuan, tapi kami masih berdaya dengan skill lainnya," ujar Tutus, Selasa (26/12/2017).

Suara ponsel berdering. Nada deringnya begitu keras memenuhi seisi ruangan yang sempit. Tangannya langsung cekatan untuk segera menerima telepon. Dari ujung ruangan, ia berkata kiriman papan catur akan segera dikirim lewat paket kilat. Papan catur buatannya mulai banyak pesanan. Desainnya khusus di tiap permukaan papan. Dia mencoba untuk melihat potensi pasar yang tinggi dan menarik minat pembeli.
Tutus Setiawan (kaus hitam) dan para penyandang tunanetra di Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) bekerja keras melalui pelatihan, membaca buku, sampai pemetaan peluang untuk berdaya di dunia kerja. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
Sebelum sempat duduk di lantai, komputer yang ada di samping rak buku mulai dinyalakan. Tak ada yang beda, ia begitu lincah seperti orang kebanyakan. Dengan keterbatasan yang dimiliki, ia tak ragu dengan kehadiran teknologi. Akun media sosial Facebook dan Twitter mulai dibuka. Dengan lincah ia berselancar di dunia maya berkat bantuan aplikasi khusus penyandang tunanetra di aplikasi komputer miliknya.
 
Kedua tamunya, Sugi Hermanto (34) dan Atung Yunanto (45), langsung sibuk dengan kumpulan e-book yang siap dilahap oleh beberapa temannya sesama tunanetra. Mereka tak lagi mengonsumsi buku-buku dalam tulisan braille. Aplikasi di ponsel pintar dipilih untuk mengonsumsi buku bacaan yang berat.

Novel-novel legendaris yang ditulis oleh Joanne Kathleen (JK) Rowling, Anton Pavlovich Chekhov, Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma maupun Ahmad Tohari tak lepas dari pantauan Sugi dan Atung. Mereka menganggapnya sebagai suplemen yang dahulu tak pernah didapat para penyandang tunanetra. "Kami kini bisa membaca serial buku yang menarik dari seluruh penjuru dunia," kata Sugi sambil menunjukkan e-book yang berhasil disimpan di ponsel pintarnya.

Pengetahuan dan informasi bagi mereka harus terus dilahap dengan benar. Ini menjadi satu-satunya kesempatan yang menjadi modal utama bagi mereka untuk terus berdaya. Mereka juga tak mau hanya menjadi pelengkap kehidupan. Spirit yang dibawa untuk terus berdaya menjadikan mereka tangguh dalam menjalani kehidupan.

Semua buku-buku itu pun ada yang disalin dalam kepingan CD. Mereka membagikannya pada semua tunanetra yang ada di Surabaya dan beberapa kota lainnya di Jatim. Beberapa di antaranya juga berisi tentang buku kumpulan kreativitas yang bisa diwujudkan dalam produk yang bisa dijual ke masyarakat umum.

"Kami memang berbeda dalam membaca buku. Makanya kami membaca buku melalui telinga, kami tak mau menyerah untuk bisa meningkatkan kemampuan kami," ucap Sugi.

Melalui Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT), Tutus dan teman-temannya menerobos batasan kemampuan yang selama ini mengurung para tunanetra. Mereka tak hanya mau menyerah pada nasib. Segala upaya pun dilakukan dengan lebih sistematis. Semua bidang ilmu mulai dipelajari sebagai bekal menatap dunia kerja.

"Kesempatan yang ada tak mau kami lewatkan. Bukan karena kasihan, tapi kemampuan kami yang akan memberikan bukti untuk bisa menjalankan berbagai pekerjaan," tegasnya.

Berdayakan Gerakan Literasi
Jalan literasi pun ditekuni yang diimbangi dengan riset serta pelatihan khusus yang diperuntukkan bagi penyandang tunanetra. Bacaan yang cukup kemudian didukung dengan kondisi dunia kerja serta bingkai peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para tunanetra memberikan pembeda langkah mereka saat ini.

Bacaan yang lengkap disempurnakan dengan pelatihan soft skills buat persiapan kerja dan membuka usaha. Sejenak mereka melupakan keterbatasan yang dimiliki. Untuk mematangkan langkah, hasil riset yang sudah dilakukan melengkapi jalan yang dipilih ke depan.
 
Tutus pun mulai mencoba untuk menyelesaikan masalah para penyandang tunanetra sejak di hulu. Sejak menempuh pendidikan di tingkat dasar, para penyandang tunanetra yang dahulu dilokalisir di satu sekolah mulai bisa menempuh pendidikan di berbagai sekolah umum yang punya kelas inklusi. Pergaulan para penyandang tunanetra pun lebih luas dan bermacam-macam.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top