alexametrics

Ekspor Ikan ke China Diharapkan Tingkatkan Pendapatan Nelayan Kalbar

loading...
Ekspor Ikan ke China Diharapkan Tingkatkan Pendapatan Nelayan Kalbar
Gubernur Kalimantan Barat Cornelis saat Launching Ekspor Perdana Ikan ke China oleh PT Xin Haiy Wan. Foto/SINDOnews/Odie K
A+ A-
PONTIANAK - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) untuk pertama kalinya melakukan ekspor ikan ke China dengan kapasitas 40 ton per pesanan. Ekspor ikan ini diharapkan dapat membantu peningkatan pendapatan nelayan di Kalbar.

Gubernur Kalbar Cornelis memastikan, dengan adanya investasi China untuk ekspor ikan dari Kalimantan Barat tersebut, perputaran ekonomi diharapkan bisa semakin baik. Ekspor Ikan ini menjadi angin segar bagi para nelayan di Kalimantan Barat agar semakin menikmati hasil keuntungan dari tangkapan.

"Dengan adanya ekspor ikan ini nelayan-nelayan kita bisa menikmati keuntungan dari hasil tangkapan mereka. Mereka bisa mendapatkan harga dengan pantas dan layak, sehingga antara tantangan di lautan dengan pendapatan seimbang dan kesejahteraan nelayan meningkat," ujar Cornelis seusai penandatanganan Peresmian Dermaga Pelabuhan Perikanan Pantai Sungai Rengas, Gedung Pos Pengawas Perikanan dan Peluncuran Pertama Kapal Pengawas Bi'lao 02 di Perikanan Pantai Sungai Rengas, Senin (11/12/2017).

Cornelis mengungkapkan, belum lama ini Pemprov Kalbar juga telah melakukan ekspor perdana beras. "Kali ini kita juga sudah mulai mengekspor sendiri ikan kita, tentunya ini menjadi modal bagi kita dalam meningkatkan perekonomian Kalimantan Barat," kata Cornelis.



Mantan Bupati Landak itu berharap, investasi yang masuk tersebut bisa memberikan efek besar bagi masyarakat Kalbar, khususnya bagi nelayan. "Saya berpesan kepada investor China ini agar tidak macam-macam dan dapat memberikan keuntungan bagi nelayan. Jangan melakukan spekulasi harga, jika tidak ingin izinnya kita tarik," kata Cornelis.

Demikian juga dengan eksportir agar menjaga kualitas ikan-ikan jangan sampai menggunakan bahan pengawet berbahaya sehingga bisa merusak reputasi Kalimantan Barat. "Tolong dijaga kualitas mutu ikan ekspor karena di Tiongkok kebutuhan akan Ikan sangat tinggi."

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalbar Gatot Rudiono mengatakan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk pertama kalinya melakukan ekspor ikan ke China dengan kapasitas ekspor 40 ton. "Kita bekerja sama dengan eksportir dari Tiongkok yang sudah berinvestasi di Kalbar. Mereka meminta kuota ikan dari Kalbar sebanyak 40 ton untuk setiap pemesanan," kata Gatot Rudiono

Dia menjelaskan, nantinya perusahaan asal China tersebut akan membeli ikan dari nelayan lokal Kalbar, tentunya dengan spesifikasi ikan yang telah ditetapkan oleh perusahaan tersebut. "Agar nelayan kita bisa memenuhi permintaan perusahaan, kita telah memberikan pelatihan kepada nelayan tersebut, agar bisa menjaga kualitas ikannya dengan baik dan masuk kriteria ekspor," tuturnya.

Gatot menjelaskan, karena saat ini kondisi pelabuhan Pontianak tidak memadai untuk masuknya kapal dengan kapasitas 40 ton, proses pengiriman akan dilakukan dengan dua tahap, karena kapal yang bisa masuk hanya dengan kapasitas 20 ton.

"Ini memang tidak efisien, karena kita harus melakukan dua kali pengiriman. Namun, paling tidak dari cost yang dikeluarkan jelas bisa ditekan, karena kita tidak lagi melalui Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga investor bisa langsung membawa ikannya ke Tiongkok dari pelabuhan kita," katanya.

Gatot menambahkan, ikan itu nantinya akan kembali dijual oleh perusahaan China tersebut ke beberapa negara lainnya. Yang jelas, katanya, dengan adanya investasi dari China tersebut, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan.

"Jika selama ini masyarakat nelayan kita hanya mencari ikan untuk memenuhi kuota masyarakat Kalbar, dengan adanya perusahaan ini, masyarakat nelayan tentu akan lebih giat lagi untuk mencari ikan, karena hasil tangkapan mereka sudah pasti terserap oleh pasar."
(zik)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak