alexa snippet

Terjadi 29 Kasus, Kabupaten Purwakarta KLB Difteri

Terjadi 29 Kasus, Kabupaten Purwakarta KLB Difteri
Kasis Surveillance dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta Eva Lystia Dewi saat memberikan keterangan terkait KLB Difteri/SINDOnews/Asep Supiandi
A+ A-
PURWAKARTA - Kabupaten Purwakarta berstatus kejadian luar biasa (KLB) difteri, menyusul temuan 29 kasus penyakit yang disebabkan bakteri corynebacterium diphtheria sepanjang 2017 ini. Bahkan, empat penderita difteri masih harus menjalani perawatan intensif di ruang isolasi sejumlah rumah sakit di Jawa Barat.  

“Satu kasus difteri saja yang muncul sudah dikategorikan KLB. Kalau menilik dari perkembangan kasusnya, di Purwakarta menunjukkan penurunan. Untuk 2016 lalu tercatat sebanyak 41 kasus, dan tahun ini menjadi 29 kasus yang tersebar di delapan wilayah puskesmas,” ungkap Kepala Seksi Surveillance dan Imunisasi Dinkes Kabupaten Purwakarta Eva Lystia Dewi kepada SINDOnews, Jumat (8/12/2017).

Dia membenarkan adanya empat pasien difteri yang masih menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit. Ke empat pasien itu dirawat menyebar, dua orang di RSUD Bayu Asih, satu orang di Rumah Sakit Siloam dan satu orang lagi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Satu pasien terpaksa diujuk ke RSHS karena fasilitas untuk penanganan pasien itu belum memdai, salah satunya ketersediaan ruang isolasi. Di RSUD Bayu Asih hanya ada empat kamar, dua untuk dewasa dan dua lagi untuk anak-anak. “Tapi dua pasien sudah membaik,”ujar Eva.

Status KLB seperti itu memaksa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Puwakarta bertindak cepat dengan melakukan imunisasi massal secara serentak dengan menyasar 310.150 warga dengan rentang usia satu hingga kurang dari 19 tahun, pekan depan. Selain itu imunisasi yang dilakukan tidak hanya cukup sekali. Setelah sekali diimuniasi maka hal serupa dilakukan satu bulan dan enam bulan kemudian.

Pihaknya mengimbau agar masyarakat Purwakarta tidak menolak terhadap imunisasi massal tersebut. Sebab, penularan penyakit itu sangat cepat dan mudah. Selain difteri juga bisa mengancam jiwa apabila penderitanya tidak segera ditangani secara medis.

Sementara itu, Wakil Direktur RSUD Bayu Asih Asep Gumilar menyebutkan, dari dua pasien difteri, kini tinggal satu orang lagi yang harus menjalani perawatan medis. Bahkan, pengawasan pun tidak seketat di awal-awal pasien masuk rumah sakit.

“Satu pasien sudah pulang dan seorang lagi masih menjalani perawatan medis. Untuk yang dirawat ini pun tidak lagi di ruang isolasi tapi sudah berada di ruangan biasa. Kedua pasien ini merupakan warga Cisalada, Jatiluhur. Wilayah itu pun sebelumnya sempat menolak dilakukan imunisasi difteri,” tandas dia.  
 
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top