alexa snippet

Titik Nadir sang Incumbent di Pilgub Sumatera Selatan

Titik Nadir sang Incumbent di Pilgub Sumatera Selatan
Tampak foto tim sukses salah satu calon saat memasang atribut jagoannya di Pilgub Sumsel. Koran SINDO/Hendri
A+ A-
PALEMBANG - Setiap gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada), biasanya incumbent selalu berada di atas angin dan menjadi rebutan banyak partai politik (parpol) tentunya.

Terlebih, jika popularitas dan elektabilitas incumbent tersebut mumpuni, pastinya yang bersangkutan akan dengan mudah merebut tiket parpol dan melenggang maju.

Tapi, untuk di pilkada Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), ini sepertinya tidak berlaku. Malah incumbent saat ini, wagub Ishak Mekki baru mengantongi dua dukungan parpol kecil, PBB dan PPP (kursi keduanya di DPRD Sumsel belum cukup syarat untuk mengusung calon).

Sementara partai tempat Ishak Mekki bernaung, yakni Demokrat sampai sekarang belum memberi keputusan tentang siapa calon yang mau diusung.

Situasi semakin rumit, karena selain Ishak Mekki, ada kader Demokrat lainnya Sarjan Tahir, yang juga digadang-gadang maju dan sama-sama berebut tiket dari Demokrat.

Malah, pengamat politik dari Lembaga Riset Publik (LRP) Muhammad Yunus menyatakan, nama Sarjan Tahir cukup diperhitungkan dalam konstalasi pilgub Sumsel. Perintis Demokrat Sumsel ini dinilai memiliki modal kuat dari segi dukungan, jaringan mau pun kualitas personal.

Menurut Yunus, sosok Sarjan juga mudah diterima masyarakat lantaran pendekatan yang digunakan berbeda dari umumnya. Jika calon lain mengandalkan baliho dan media luar ruang dalam bersosialisasi, Sarjan memilih bergerilya terjun langsung ke masyarakat.

Yang menarik untuk dicermati, mengapa sampai sekarang Demokrat dalam hal ini SBY belum memberi rekomendasi kepada kadernya bertarung di Pilkada Sumsel, khususnya kepada Ishak Mekki yang notabene menjabat Ketua DPD Demokrat Sumsel.

Sementara untuk sejumlah pilkada di luar Sumsel, SBY malah sudah memberi rekomendasi, bahkan kepada pasangan calon yang jelas-jelas bukan kader Demokrat.

Sebut saja seperti di Jawa Timur (pasangan Khofifah-Emil Dardak), Sulawesi Selatan (pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar), dan Jawa Barat (pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu).

"Sebetulnya majelis tinggi Demokrat sudah memberi rekomendasi ke saya, tapi belum saya ambil surat rekomendasinya. Saya juga ingin nantinya rekomendasi itu tidak hanya mencantumkan nama saya, tapi juga nama pasangan saya (cawagub)," kilah Ishak Mekki dihubungi KORAN SINDO.

Ishak Mekki pun meyakini, restu demokrat akan jatuh ke dirinya. Apalagi, sudah tiga kali dirinya bertemu dan rapat dengan majelis tinggi Partai Demokrat pusat. Dan, Ishak Mekki mengaku, dalam setiap pertemuan ketua majelis tinggi dalam hal ini SBY, selalu menyinggung pencalonan dirinya. "Jadi sekali lagi, rekomendasi itu sebenarnya sudah turun, tapi sengaja belum saya ambil," tekannya lagi.

Sebenarnya, bukan hanya Ishak Mekki yang belum cukup syarat mengantongi dukungan parpol untuk maju di Pilgub Sumsel. Ada nama tenar lainnya yang juga mengalami nasib serupa, yakni Herman Deru. Walau sudah mendapat dukungan Nasdem (5 kursi) dan kabarnya juga PAN (6 kursi), namun Bupati OKU Timur ini tetap saja tak bisa maju, karena butuh minimal 15 kursi sebagaimana yang disyaratkan.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top