alexa snippet

Cerita Pagi

Sisi Lain Mbah Dardak, dari Hobi hingga Cara Mendidik Anak-anak

Sisi Lain Mbah Dardak, dari Hobi hingga Cara Mendidik Anak-anak
KH Mochamad Dardak atau Mbah Dardak. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
A+ A-
Cerita Pagi kali ini kembali membahas sosok KH Mochamad Dardak atau Mbah Dardak, kakek Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak.

Selain dikenal sebagai seorang imam masjid, Mbah Dardak atau Eyang Dardak dikenal gemar bermain catur. Dia bahkan dikenal sebagai pelatih catur yang andal. "Banyak anak didiknya di catur yang menjadi juara," kenang Zainal Abidin, putra pasangan Mochamad Dardak-Hj Siti Mardiyah Dardak.

Zainal adalah putra keenam dari pasangan itu. Sementara, mantan Wakil Menteri PU RI Hermanto Dardak yang juga ayah Emil Elestianto Dardak, anak ketujuh.

Menurut Zainal, ayahnya punya teman bermain catur seorang berlatar belakang pendeta Nasrani. Selepas Salat Isya, seingat dia, dua orang itu mulai 'berhadapan'.

Adu cerdik di atas papan kotak hitam putih itu biasanya berlangsung sengit. Tidak jarang memakan waktu berjam-jam. "Biasanya mereka bertanding hingga selesai jelang Salat Subuh," katanya.

Zainal juga masih ingat, ayahnya seorang yang toleran. Pergaulan sosialnya luas, tidak mengenal sekat dan batas. Dalam berinteraksi, Mbah Dardak dikenal luwes. Tak heran sebagian besar kalangan, mulai masyarakat menengah bawah hingga atas, menyukainya. "Bapak seorang yang toleran. Tidak membatasi pergaulan serta memerhatikan orang kecil," ujarnya.

Saat menjadi santri, Mbah Dardak muda mondok di pesantren di Solo, Jawa Tengah. Dia mendalami ilmu agama Islam di sana. Menteri Agama ke-14 RI di era Presiden Soeharto, Munawir Sjadzali, menjadi salah satu teman seangkatannya.

Dardak memulai karier sebagai PNS di Departemen Agama (kini Kemenag). Dia mengabdi kepada negara sebagai penghulu di Kantor Urusan Agama. Wilayah kerjanya pindah-pindah. Sebelum pensiun di KUA Trenggalek, Dardak pernah bertugas di KUA Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Mbah Dardak juga menjadi guru di Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA). Dia mengajar pelajaran bahasa Arab.

"Terakhir kerja hingga pensiun di Kantor KUA Trenggalek," kata Zainal.

Di Kota Trenggalek, Dardak bersama istri dan 10 buah hatinya bertempat tinggal di rumah pengulon Dukuh Kauman Ngantru. Tempat tinggal ini bersebelahan dekat dengan masjid jami' (kini Masjid Agung Baitur Rachman).

Mbah Dardak menyandang status imam besar masjid jami'. Dia juga takmir serta rutin mengisi khotbah Salat Jumat. Sayangnya, rumah pengulon dukuh itu hanya tinggal cerita. "Karena ada pelebaran masjid, dalam perjalanannya rumah pengulon menjadi bagian bangunan masjid," ujarnya.

Bagaimana Mbah Dardak mendidik putra-putrinya? Seluruh anak-anak Mbah Dardak bersekolah umum. Mereka mendapat asupan ilmu agama dari masjid dan madrasah ibtidaiyah yang saat itu bernama MINU.

Menurut Zainal, anak pertama hingga keempat Mbah Dardak bersekolah di Kediri. Sebab, kala itu di Trenggalek belum ada sekolah SMA. Mereka dititipkan pada Bupati Kediri RM Machin yang merupakan adik ipar istrinya. "Baru anak kelima hingga sepuluh disekolahkan di SMA Trenggalek, termasuk Hermanto Dardak dan adik-adik," jelasnya.
 
Zainal menambahkan, ayah dan ibunya selalu menekankan pentingnya kedisiplinan, terutama menyangkut ilmu agama dan kewajiban salat lima waktu. Mbah Dardak tidak jarang bersikap keras jika anak-anaknya berani meninggalkan salat lima waktu.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top