alexametrics

4 Mahasiswa UNY Manfaatkan Biji Carica Jadi Bahan Bakar Biodiesel

loading...
4 Mahasiswa UNY Manfaatkan Biji Carica Jadi Bahan Bakar Biodiesel
Empat mahasiswa FMIPA UNY (dari kiri ke kanan), Nugroho Wahyu Sumartono (prodi kimia) Sonia Latifah. serta Anisa Ratih Pratiwi (Biologi) dan Joko Wahyono yang berhasil memanfaatkan biji carica sebagai biodesel di kampus setempat, Kamis (23/11/2015). Foto
A+ A-
SLEMAN - Carica (Carica Candamarcensis) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Carica oleh masyarakat sekitar baru dimanfaatkan bagian daging buahnya sebagai produk olahan makanan atau minuman.

Sementara bijinya hanya dibuang dan menjadi limbah produksi. Padahal biji carica mengandung minyak nabati dan jika dolah dapat menjadi sumber energi alternative terbarukan serta ramah lingkungan. Sebab minyak nabati mampu terurai secara bioligis dan lebih sempurna.

Hal inilah yang mendorong empat mahasiswa fakultas matematika dan ilmu pengetahua alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yaitu Joko Wahyono dan Nugroho Wahyu Sumartono (prodi kimia) serta Anisa Ratih Pratiwi dan Sonia Latifah (pendidikan biologi) melakukan penelitian kandungan minyak nabati biji carica, untuk dijadikan bahan bakar biodiesel berbasis potensi lokal.



Joko Wahyono mengatakan, untuk mengolah biji carica menjadi biodoesel ini ada beberapa tahapan. Yaitu ektrasi, esterifikasi dan transesterifikasi. Dari proses tersebut diketahui biji carica bukan hanya memiliki rendemen minyak yang besar, namun juga kandungan asam lemak bebas. Karena itu, perlu menurunkan kadar asam lemak tersebut.

“Proses ini dinamakan esterifikasi,” kata Joko di kampus setempat, Kamis (23/11/2017).

Setelah kadar lemak turun, dilanjutkan dengan proses transertifikasi, yaitu mencamurkan minyak biji carica denga metanol. Campuran ini akan menghasilkan metil ester biodiesel. Dan untuk mempercepat pencampuran tersebut digunakan katlis kalium hidroksida (KOH).

“Hasilnya dari 95,0 gram minyak biji carica yang diolah, diperoleh metil ester biodiesel 64,0 gram, sehingga rendemen hasil sintesis yang diperoleh sebesar 67,3 %,” paparnya.

Anisa Ratih Pratiwi menambahkan selain dengan tahapan tersebut, juga melakukan dengan analisa. Yaitu spektroskopi, viskostas dan kalor. Hasil analisa spektroskopi terlihat beberapa perubahan spektrum antara
minyak biji carica dan biodiesel. Perubahan tersebut berupa penghilangan ataupun penambahan beberapa puncak spektrum pada gugus fungsi tertentu.

Sementara dari analisa viskositas kenematik menunjukkan biodiesel minyak biji carica memiliki nilai viskositas kinematik sebesar 5,132 mm2/s dan titik tuang -6 oC . Atau sesuai dengan standar nasional indonesia (SNI). Sebab berdasarkan SNI, viskositas kinematik biodiesel pada suhu 40 oC antara 2,3–6,0 mm2/s dan titik tuang antara 15– 10 oC.

Sedangkan analisis kalor pembakaran menunjukkan nilai kalor biodiesel berkisar 39–41 MJ/kg lebih rendah dari bahan bakar minyak (46 MJ/kg), petrodiesel (43 MJ/kg) atau petroleum (42 MJ/kg) tetapi lebih tinggi dari batu bara yang berkisar 32–37 MJ/kg).

“Dari hasil analisa ini dapat disimpulkan biji carica memenuhi sebagai bahan bahan bakar biodiesel,” tambah mahasiswa UNY angkatan 2015 tersebut.

Menurut empat mahasiswa FMIPA UNY itu, bahan bakar biodiesel dari biji carica ini selain menjadi energi alternatif yang bisa diperbaharui, juga yang memiliki keungulan lain, yaitu ramah lingkungan. Sebab mudah terurai di alam, relatif tidak beracun serta tingkat emisi karbon diaoksida (CO2) dan gas sukfur oksida (Sox) yang rendah.
4 Mahasiswa UNY Manfaatkan Biji Carica Jadi Bahan Bakar Biodiesel

Keterangan Foto:
Nugroho Wahyu Sumartono mahasiswa prodi kimia FMIPA UNY saat melakukan penelitian biji carica dijadikan bahan bakar biodiesel di laboratorium kampus setempat, beberapa waktu lalu. Foto/IST
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak