alexametrics

Mahasiswa Garda Terdepan Hadang Konten Negatif di Media Sosial

loading...
Mahasiswa Garda Terdepan Hadang Konten Negatif di Media Sosial
Redaktur Pelaksana KORAN SINDO Hanna F Fauzie (tengah) bersama praktisi fotografi Bob Soerjodipoero (kiri) memberikan pemaparan dalam workshop Photography and Creative Writing di Universitas Hasanuddin Sulawesi Selatan. Foto SINDO Weekly.
A+ A-
MAKASSAR - Peran generasi muda terutama mahasiswa sangat vital dalam mengantisipasi serangan hoax di media sosial. Oleh karena itu mahasiswa dituntut mampu sebagai garda terdepan dalam menghadang serbuan konten negatif di dunia maya.

Saat membuka Gen Posting (Generasi Positive Thinking) di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (5/9/2017), Direktur Pengolahan dan Penyediaan Informasi Kementerian Komimfo Selamatta Sembiring mengungkapkan kekhawatirannya bila mahasiswa larut dalam penyebaran konten negatif di media sosial.

“Jangan berkontribusi ikut dalam huru-hara di medsos (media sosial). Lebih baik kreatif dalam menyebarkan hal positif,” ucap Selamatta.



Dia menjelaskan hal positif itu berupa menyebarkan konten yang mendidik, enlighten, empowerment, dan membangun karakter nasional. “Maksimalkan hal-hal itu. Jangan buang-buang waktu dengan pornografi, hoax, hate speech, terorisme, radikalisme, dan juga bermain games secara berlebihan,” papar Selamatta.

Dengan perilaku bijak di media sosial, mahasiswa bakal mampu berkontribusi besar dalam memutus derasnya peredaran berita-berita hoax, fitnah, atau ujaran kebencian (hate speech). Sehingga mahasiswa bisa menjadi agent of change dalam membangun nasionalisme generasi muda. Dia juga mendorong agar generasi muda jangan cuma menjadi follower tapi harus menjadi trendsetter.

“Kami berharap adik-adik mahasiswa untuk posting hal-hal positif. Mahasiswa merupakan agent of change, karenanya kami menyasar kampus-kampus bertemu dengan mahasiswa di berbagai universitas,” sambung Selamatta.

Gen Posting menjadi gerakan kampanye penyiaran konten-konten positif yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Majalah SINDO Weekly dan London School of Public Relations (LSPR).

Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kemenkominfo Gun Gun Siswadi menyebutkan kampanye melawan hoax dan hate speech amat penting untuk dilakukan.

"Ada informasi yang sah dan valid, ada informasi positif tapi banyak juga yang informasinya negatif dan hoax," jelas Gun Gun di sela sela workshop bertajuk Nasionalisme Generasi Muda itu.

Lebih lanjut Gun Gun memaparkan, penggunaan media sosial Indonesia didominasi anak muda sebanyak 60%. Sehingga para pengguna dari generasi muda rentan menjadi sasaran hoax. Melalui kegiatan seperti ini, Kominfo mengajak dan mendorong generasi milenial, khususnya mahasiswa, ikut menciptakan informasi positif. Agar media sosial dipenuhi informasi yang bermanfaat dan menggantikan serbuan hoax.

“Kalau sudah banyak yang berperan, mudah-mudahan informasi yang negatif bisa tereleminasi karena ruang publik dipakai untuk informasi yang positif,” timpalnya.

Kemenkominfo menurut pemaparan Gun Gun, telah memblokir sedikitnya 773. Dimana 339 situs berisi konten negatif hingga Desember 2016. Kebanyakan berisi konten pornografi, Sara, radikalisme, penipuan, dan penebar hoax.

Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Kerja Sama Universitas Hasanuddin Prof dr Budu Ph.d Sp.M (K), M.Ed sangat mengapresiasi workshop Photography and Creative Writing karena mahasiswa merupakan senjata yang ampuh dalam menghadang derasnya berita bohong ataupun ajaran kebencian. Karenanya, dia mendorong mahasiswa untuk lebih memanfaatkan media sosial secara baik.

“Kami teman-teman mahasiswa menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan atau fotografi dengan positif. Teknologi digital informasi dan komunikasi memengaruhi jejak langkah kami. Sehingga Gen Posting merupakan campaign yang luar biasa. Kami berharap workshop ini meningkatkan kesadaran mahasiswa secara positif,” imbuh Budu.

Di Universitas Hasanuddin, Gen Posting menghadirkan workshop Photography and Creative Writing yang dibawakan oleh Redaktur Pelaksana KORAN SINDO Hanna F Fauzie serta praktisi fotografi Bob Soerjodipoero. Acara dipandu Ambassador Gen Posting dan Sosial Media Influencer Jessica Wongso.

Hanna menuturkan, dengan menguasai tulisan kreatif (creative writing), generasi milenial bisa menuangkan ide dalam bentuk tulisan di berbagai platform, termasuk media sosial.

Dalam menyaring informasi untuk kebutuhan tulisan, Hanna menyebutkan, jangan sampai
terjebak dan turut menyebarkan berita hoax, ajaran kebencian dan bahkan mem-bully.

“Mari kita isi ruang publik di dunia maya dengan konten positif. Mari secara kreatif kita produksi informasi yang mencerahkan, mendidik dan meningkatkan rasa cinta Tanah Air, karena pemerintah butuh bantuan kita, para generai muda,” paparnya.

Creative writing akan sangat disukai bila tulisan tersebut bisa memberi informasi, mengedukasi, serta menghibur.

“Tujuan semua tulisan sama yakni, to inform, to educate dan to entertain. Alangkah baiknya, jika seluruh memiliki muatan positif. Untuk itu, sebelum memposting atau mengirimkan tulisan, cek dahulu apakah tulisan kita sudah memiliki unsur-unsur positif tersebut,” imbuhnya.

Sementara Bob berpesan, bagi yang tertarik memperdalam fotografi kita harus aware dengan sekeliling kita. “Karena dengan selalu aware dengan apa yang ada dekat kita, kita bakal lebih kreatif. Hasil foto kita juga akan lebih baik karena terus berlatih,” ungkap Bob.Dia menegaskan hasil foto tidak ada kaitannya dengan brand gadget ataupun perangkat foto.

“Hal yang paling utama adalah diri kita, baru setelah itu perlengkapan foto. Lengkapi diri kita dengan skill fotografi, seperti teknik pengambilan foto, angle dan juga editing.
jangan terlalu over dalam mengedit foto,” paparnya.

Fotografi, Bob menjelaskan, melalui karya-karya postif dan indah tentu bisa turut andil dalam memerangi hal-hal negatif yang berada di dunia maya. “Fotografi adalah skill yang mudah dikuasai dan triknya bisa secara gampang dipelajari,” kata Bob.

Sementara sebagai social media influencer Jessica berbagi pengalaman kesuksesannya memanfaatkan media sosial dengan konten-konten kreatif. “Saya rasakan sekali manfaatnya. Bisa menjadi penghasilan dan ini berkat konten positif yang saya share di akun media sosial saya,” ungkap Jessica.

Head of Marcomm SINDO Weekly Adityo mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengatasi tren perilaku negatif di media sosial.

“Workshop ini kami gelar untuk membantu pemerintah menyosialisasikan konten positif dalam bermedia sosial. Di sini kita sharing bagaimana mengambil foto dan menulis konten yang baik di media sosial,” kata Adityo. Selain workshop juga digelar coaching clinic Photography dan Creative Writing di Aula Prof Dr Amirudin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Salah satu peserta coaching, Retno mengatakan pelatihan seperti ini sangat bermanfaat.
“Saya selalu tertarik memperdalam kemampuan saya dalam menulis. Workshop ini membuka wawasan saya. Sekarang saya jadi fokus memanfaatkan media sosial untuk menciptakan konten kreatif,” kata Retno.

Sementara itu, Deputy Editor-in-Chief SINDO Weekly Asep Saefullah menerangkan, workshop kali ini merupakan bentuk dukungan MNC terhadap program pemerintah. Khususnya rangka mengantisipasi penyebaran hoax di kalangan generasi muda.

“Bentuk dukungan kami terhadap program kementerian dalam memerangi hoax dan konten negatif. Apalagi menghadapi pilkada dan pilpres, bagaimana kita belajar di Pilkada DKI,” jelasnya.

Setelah Makassar, Gen Posting akan digelar Jayapura, Papua, 18 Oktober mendatang. Sebelumnya Gen Posting dihelat di Bandung, Yogyakarta, Bali, Medan dan Banjarmasin.
(sms)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak