alexa snippet

Cerita Pagi

Pengebom B-26 Invader dan Cureng Bikin Kocar-Kacir Gerombolan PKI

Pengebom B-26 Invader dan Cureng Bikin Kocar-Kacir Gerombolan PKI
Pengebom B-26 Invader TNI AU.Foto/Istimewa
A+ A-
Panglima Kodam Brawijaya Mayjen M Jasin pada Juni 1968 menggelar operasi militer dengan sandi Operasi Trisula untuk menumpas sisa-sisa pentolan dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membuat basis di Blitar Selatan. Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18 pertama Kolonel Inf Witarmin ditunjuk sebagai pemimpin Operasi Trisula.

Beberapa pentolan PKI yang ikut bergabung di Blitar Selatan di antaranya Sabandi Rewang Parto, mantan anggota Politbiro Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI); Oloan Hutapea; dan Sukatno, mantan Ketua Pemuda Rakyat. PKI di Blitar Selatan menggelar Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) dan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR).

Operasi Trisula merupakan operasi gabungan, sehingga TNI mengerahkan kekuatan besar-besaran untuk memukul para pemberontak. Tentara menyisir kawasan hutan Blitar Selatan untuk mencari pemberontak yang bersembunyi di gua-gua.

Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), sekarang TNI Angkatan Udara, ikut ambil bagian dalam Operasi Trisula. AURI diwakili Komando Wilayah Udara IV dan langsung di bawah pimpinan Panglima Kowilu IV Komodor Udara Suwoto Sukendar.

Berdasar Surat Perintah Operasi Panglima Kowilu IV No 84/PO/1968 tertanggal 6 Juni 1968, untuk menunjang operasi ini dibentuk suatu task force Operasi Elang dengan tugas utama memberikan bantuan baik di darat maupun dari udara.

Bantuan operasi udara berupa bantuan taktis, yakni bombing, straffing, dan rocketting, dari udara, untuk mempersempit ruang gerak gerombolan PKI. AURI mengerahkan sejumlah pesawat, yaitu 2 pesawat pemburu P-51 Mustang, satu pengebom B-26 Invader, dan satu pesawat AT-16 Harvard. Pada 10 Juli 1968 dilakukan air straffing dengan senjata 12,7 terhadap kubu-kubu lawan.

"Pelaksanaan operasi penghancuran dilakukan dengan penembakan-penembakan roket dan senapan mesin 12,7 mm dari udara terhadap sasaran di areal yang luas di lereng-lereng gunung dengan hutan yang sangat lebat di sepanjang pantai selatan Blitar," demikian ditulis dalam buku Perjuangan TNI AU.

Pengebom B-26 Invader cukup efektif melakukan penembakan dan pengeboman dari udara. Si Moncong Hiu ini dilengkapi 14 senapan mesin berat (SMB) Browning AN-M3 kaliber 12,7 mm, 8 roket, dan 8 bom seberat 227 kg. Dengan 14 SMB, pengebom B-26 mampu menjalani misi COIN (counter-insurgency) atau anti gerilya.

B-26 bukan saja memberikan bantuan tembakan udara bagi gerakan tempur pasukan darat, tetapi juga melakukan serangan udara langsung untuk membuka jalan dan memberikan perlindungan udara helikopter yang akan mendorong logistik ke posisi pasukan di darat.

Sebab, pada Operasi Trisula AURI juga mengerahkan pesawat angkut militer C-130 B Hercules dan helikopter Mi-4. Pesawat ini tugas utamanya mengadakan pengangkutan udara untuk keperluan pengangkutan pasukan, logistik, survei, dan VIP flight.

Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat), sekarang dikenal Pasukan Khas TNI AU (Paskhas), turut serta dalam Operasi Trisula. Dalam mendukung operasi ini Korps Baret Jingga ini mengerahkan satu kompi pasukannya dari Resimen III dibawah pimpinan LU II Wim Mustamu.

Gerombolan PKI yang semula bersembunyi di hutan-hutan terpaksa meninggalkan persembunyiannya dan bergeser ke arah utara. Di sana sudah siap tim penyapu dari darat menghentikan mereka. Operasi Trisula mencatat 33 tokoh PKI ditembak mati dan 850 orang pengikut PKI ditangkap selama tiga bulan operasi.

Sebagai tanda peringatan penumpasan PKI ini, maka di daerah Bakung, Kabupaten Blitar Selatan yang dijadikan Markas Komando operasi ini didirikan monumen yang diberi nama Monumen Trisula. Monumen Tugu Trisula dibentuk dan diresmikan pada 18 Desember 1972 oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top