alexa snippet

DPRD Raja Ampat Didemo Ratusan Warga

DPRD Raja Ampat Didemo Ratusan Warga
Ratusan massa yang menamakan diri sebagai Aliansi Anak Negeri Peduli Raja Ampat (Agripera) demo di depan Kantor DPRD Raja Ampat. Foto/MNC Media/Chanry AS
A+ A-
WAISAI - Ratusan massa yang menamakan diri sebagai Aliansi Anak Negeri Peduli Raja Ampat (Agripera) melakukan aksi demo di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Raja Ampat, Kamis 27 Juli 2017, kemarin.

Mereka menuntut penghentian konflik politik DPRD dengan pemerintah daerah, yang menyebabkan pembangunan di Kabupaten Bahari tersebut jalan di tempat.

Sejumlah orasi Agripera menentang adanya konflik politik, yang diduga dilakukan pimpinan DPRD Kabupaten Raja Ampat berinisial HW.

Komunitas Agripera yang diketuai oleh Abraham Umpain menginginkan adanya perdamaian dan rasa saling hormat terhadap pimpinan, demi membangun Tanah Para Raja lebih kondusif.

Pasalnya, Raja Ampat merupakan destinasi wisata terkenal di Dunia. Namun dengan adanya konflik yang diduga diciptakan oleh oknum tidak bertanggung jawab dan bukan anak asli Raja Ampat mengakibatkan, moral destinasi wisata itu menjadi jelek.

“Masyarakat Raja Ampat menghendaki pembangunan dan pelayanan, bukan konflik yang berkepanjangan. Stop ciptakan konflik atas nama Raja Ampat,”ungkap Abraham Umpain dalam aksi orasinya di halaman kantor DPRD Raja Ampat, Kamis (27/7/2017) siang.
 
Selain itu, Agripera menuntut dan mendesak dewan kehormatan DPRD Raja Ampat untuk menindak tegas keterlibatan oknum anggota DPRD yang turut terlibat langsung atau tidak langsung dalam memprovokasi masyarakat terhadap stabilitas keamanan dan pembangunan di Raja Ampat yang berimplikasi mengorbankan masyarakat umum. Jumlah massa sekitar 100 orang dengan membawa Alat peraga Spanduk dan Pamflet.

Pada aksi demo tersebut hanya ada delapan anggota DPRD yang dinyatakan aktif melaksanakan tugas dan kedelapan anggota tersdbut memberanikan diri berhadapan langsung dengan massa dan mendengar secara langsung aspirasi demo damai dari Agripera.

Soleman Dimara mengatakan, dalam orasinya bahwa, anak adat asli Raja Ampat yang memiliki bahasa, dusun dan lahir di Tanah Raja Ampat berhak menjadi pemimpin. Pasalnya, berbagai isu yang merusuhkan nama Raja Ampat adalah hal yang memalukan anak Negeri.

"Kami ingin perdamaian dan tidak ada pertikaian di atas tanah ini. Jika, ada kesalah pahaman, mari kita duduk selesaikan baik-baik. Jangan berteriak yang memalukan kami," ungkap Soleman Jack Dimara dalam orasinya.

Sementara itu, diketahui bahwa dalam beberapa minggu ini, Ketua DPRD tidak pernah masuk kantor dan tidak menghadiri Asosiasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi) Regional Zona VII Papua dan Papua Barat gelar rakorwil dan workshop, yang berlangsung di Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat belum lama ini.

Massa pendemo diterima secara langsung aspirasi oleh Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Raja Ampat, Rahmawati Tamima melontarkan ucapan terima kasih atas kritikan positif dari Agripera terhadap lembaga Legislatif.

Diuraikannya, dua anggota DPRD sedang mengikuti pelaksanaan Sidang Sinode di Raja Ampat Utara dan Wakil Ketua 2 DPRD sedang ada keperluan keluarga di luar Kota Waisai.

Rahamawati juga membenarkan atas tidak hadirnya Ketua DPRD dalam agenda penting Adkasi belum lama ini dan telah lama tidak masuk Kantor.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top