alexa snippet

Tinggalkan Dunia Hitam, Mengabdi di Komunitas Harapan

Tinggalkan Dunia Hitam, Mengabdi di Komunitas Harapan
Meninggalkan dunia hitam, Agung Setia Budi mengabdi pada lingkungannya melalui Komunitas Harapan. Dia dibantu anaknya, Muhammad Whizzkid Marhaenis. Foto/KORAN SINDO/Andik Sismanto
A+ A-
SEMARANG - Sejak sering mengalami sakit pada 2009, mulai paru-paru hingga diabetes akut sampai kaki kanannya diamputasi di tahun 2012, Agung Setia Budi memutuskan untuk keluar dari dunia hitam. Bekas preman itu memilih mengabdi pada lingkungannya.

Untuk memperbaiki diri, pria ini bersama anak tercintanya, Muhammad Whizzkid Marhaenis (14), getol menebar virus pendidikan kepada anak-anak di kampungnya secara gratis. Ia pun memberanikan diri untuk mendirikan Komunitas Harapan pada 2 Januari 2013.

Rumah sempit di Kampung Sumeneban 104 RT 3 RW 4 Kelurahan Kauman, Semarang Tengah, setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu selalu dipadati anak-anak mulai usia sekolah PAUD, TK, SD, sampai SMP. Setidaknya ada 50 anak ikut belajar di komunitas tersebut. Mereka adalah anak-anak yang berada di lingkungan tempat tinggal Agung.

Kepada anak-anak tersebut, Agung memberikan pelajaran mulai dari belajar budi pekerti, agama, bahasa Indonesia-Inggris-Jawa, kesenian, berbagai keterampilan kerajinan tangan, terutama seni mengolah sampah, hingga menonton film inspiratif.  Anak-anak ini belajar tanpa dipungut biaya.

Agung mengaku, mendirikan Komunitas Harapan didorong keinginannya supaya generasi muda, terutama anak-anak yang tinggal di kampung padat tersebut memiliki impian, cita-cita, dan tentu saja akhlak mulia.

"Kampung ini memiliki karakteristik masyarakat yang keras, bebas, dan jauh dari nilai-nilai pendidikan. Oleh karena itu saya ingin sekali mengubahnya," katanya.

Awal mendirikan Komunitas Harapan memang tidak mudah. Namun, keuletan dan ketekunannya untuk menyebakan virus belajar akhirnya membuahkan hasil. Anak-anak yang belajar pun semakin banyak dan rajin.

Saat ini, dia sering dibantu oleh relawan dari berbagai kampus, di antaranya Undip, Unnes, Udinus, dan Unissula. Anak asuh yang aktif di Komunitas Harapan, empat di antaranya mendapatkan beasiswa dari Hoshizora Foundation Yogyakarta.

Tak hanya itu, aktivitas sosial yang dilakukan Agung dan Whizzkid ini beberapa kali mendapat perhargaan. Di ruangan rumahnya terpampang berbagai penghargaan, di antaranya AIESEC in Diponegoro University dan Hoshizona Foundation. Bahkan, organisasi AIESEC yang merupakan pertukaran pelajar dan mahasiswa internasional, dalam setahun dua kali mengirimkan para mahasiswa dari lintas negara.

"Ada yang dari negara Portugal, Jepang, Korea, Jerman, Amerika dan Inggris. Biasanya di sini membantu mengajar selama tiga minggu. Terakhir, 17 Agustus lalu, para turis itu ikut lomba makan kerupuk, warga juga senang kedatangan turis ikut mengajar," kata Agung.

Keuletan dan kegigihan Agung memang menurun pada anaknya, Muhammad Whizzkid Marhaenis, yang selalu mendampingi ayahnya. Siswa kelas 3 SMP Negeri 38 Semarang ini selalu membantu ayahnya saat mengajar kepada anak-anak, termasuk menyediakan properti yang dibutuhkan ayahnya.

Di luar mengajar dan beraktivitas pendidikan, sisa waktu keduanya dihabiskan untuk bergelut dengan sampah untuk dijadikan berbagai kerajinan. "Sepulang dari sekolah, menghabiskan waktunya untuk membantu," katanya.

Whizzkid rupanya memiliki jiwa seni. Buktinya, dari sampah-sampah yang dikumpulkan dapat disulap menjadi barang bernilai tinggi di antaranya miniatur tank, kapal, vespa, Harley Davidson, jam dinding, dan berbagai jenis mobil. Dari barang daur ulang sampah itu mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Bahkan, banyak dipesan oleh orang luar negeri, di antaranya Amerika, Australia, Philipina, Jerman, dan Bahrain.
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top