alexametrics

Warga Lereng Merapi Temukan Bebatuan Kuno

loading...
Warga Lereng Merapi Temukan Bebatuan Kuno
Bebatuan yang ditemuan para pekerja membuat jembatan di Lereng Merapi, tepatnya di Dusun Gendekan, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. / Foto/istimewa
A+ A-
MAGELANG - Warga Lereng Merapi, tepatnya di Dusun Gendekan, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, dikejutkan dengan penemuan struktur bangunan berbahan bebatuan. Bebatuan yang ditemukan warga saat akan membangun jembatan yang menghubungkan antar desa. Kini, bebatuan klasik tersebut masih dalam penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.

Informasi diperoleh menyebutkan, warga beberapa waktu yang lalu saat membuat jembatan yang akan menghubungkan antar desa menggunakan alat berat mengenai bebatuan ini. "Saat alat berat melakukan penggalian sedalam tujuh meter mengenai gundukan bebatuan," kata Kepala Dusun Gendekan, Wusono, Rabu (14/12).



Salah satu warga setempat, Yanto mengaku, sempat membawa pulang bebatuan tersebut. Namun malamnya, ia merasa ada orang yang mondar-mandir di rumahnya. Saat itu juga, dia kemudian mengembalikan bebatuan yang diambilnya. "Saya takut, saya kembalikan," ujarnya.

Kabar adanya penemuan bebatuan tersebut sempat tersebar. Untuk itu, warga sekitar berdatangan melihatnya, bahkan tersiar kabar pula bebatuan candi. Untuk itu, kabar penemuan ini pun dilaporkan menuju BPCB Jateng. Dan, BPCB Jateng pun melakukan kunjungan di lapangan, kemarin.

Pengkaji Pelestari Cagar Budaya, BPCP Jawa Tengah, Wahyu Kristanto mengatakan jika sedang melakukan peninjauan awal, karena adanya laporan dari warga masyarakat. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diduga semacam pagar. "Jadi bukan komponen sebuah bangunan, tapi struktur bangunan, baru struktur karena indikasi kita temukan ke muncak atau bagian atas dari sebuah struktur," kata dia.

Adapun dari temuan tersebut, katanya, nantinya masih akan dilakukan pendalaman mengingat minimnya data. Sedangkan yang ditemukan tersebut tidak tinggi jika dilihat hanya sekitar 50 sentimeter atau hampir satu meter. "Kalau candi ini bangunan, tapi ini masih bagian dari komponen bangunan. Nanti akan ada tindak lanjut untuk penelitian," ujarnya.

Melihat bebatuannya, pihaknya memprediksi dari bentuk arsitektur hampir sama dengan candi-candi di Lereng Merapi, sekitar abad 8-9 Masehi. Namun demikian, pihaknya tidak mengetahui apakah Candi Hindu atau Candi Buddha karena belum adanya indikasinya. "Kita menunggu kajian, apakah keberadaan di sini karena transformasi atau lainnya," katanya.

Menyinggung soal jumlah bebatuan, Wahyu mnuturkan jika masih dilakukan penghitungan, namun tidak sampai 100 potong. Sedangkan ukurannya bermacam-macam, ada yang 25 cm, tapi ada yang 50 cm.

"Kalau dilihat dari bentuknya hampir sama dengan komponen arsitektur bangunan klasik orang dulu. Ketika Mataram Hindu di sini (Lereng Merapi), potensial untuk didirikan bangunan suci karena gunung dianggap tempat berdiam para dewa, daerahnya subur. Jadi selain dijadikan tempat pemujaan juga untuk mendirikan tempat ketenangan," kata dia.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak