alexametrics

Keluarga Pejuang Pertempuran Surabaya Tinggal di Bunker Belanda

loading...
Keluarga Pejuang Pertempuran Surabaya Tinggal di Bunker Belanda
Ilustrasi pertempuran Surabaya. Foto:Istimewa
A+ A-
SURABAYA - Belasan keluarga pejuang di Surabaya, Jawa Timur, tinggal di bunker peninggalan Belanda. Bunker tersebut pada saat penjajahan dipakai sebagai tempat persembunyian dan pusat komunikasi oleh tentara Belanda.

Lokasi bunker peninggalan Belanda tersebut, berada di Jalan Rajawali, pusat Kota Surabaya, tidak jauh dari lokasi meninggalnya Jendral Mallaby.

Bungker berbentuk kapsul, dengan tebal tembok hampir 80 centimeter dan pintu terbuat dari besi baja tebal ini sengaja dibangun mirip rumah di perkampungan agar tidak diketahui oleh tentara Indonesia.



Ironisnya, kini bangunan bersejarah tersebut kurang terawat dan dihuni 14 keluarga pejuang veteran cacat. Kepada wartawan, mereka mengaku telah tinggal di bunker itu sejak 1945 setelah Belanda diusir dari Indonesia.

Penghuni bunker ini sebenarnya sudah mempunyai rumah pemberian bantuan dari pemerintah. Namun letaknya di pinggiran kota Surabaya dan mereka mengaku sengaja menempati bunker tersebut lantaran lebih dekat dengan aktivitas pekerjaan mereka.

Menurut pengurus cacat veteran Surabaya, bangunan bunker ini dihuni oleh 14 kepala keluarga pejuang kemerdekaan. Saat ini, para pejuang itu sudah meninggal semuanya, hanya tinggal anak dan cucunya saja.

Rencananya, tahun 2017 Pemkot Surabaya akan membangun atau merekondisi bunker seperti bentuk semula karena bunker tersebut bisa digunakan sebagai salah satu rujukan para wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Bunker Belanda ini merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang harus dilestarikan seperti bangunan Jembatan Merah, dan Hotel Yamato yang menjadi tempat perobekan bendera merah putih biru.
(san)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak