Jumlah Pekerja Anak di Jatim Capai 1,51% Pada 2022
Selasa, 13 Juni 2023 - 08:14 WIB
loading...
Jumlah pekerja anak di Jawa Timur mencapai 1,51 persen pada tahun 2022.Foto/ilustrasi
A
A
A
SURABAYA - Jumlah pekerja anak di Jawa Timur (Jatim) terus mengalami penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pekerja anak usia 10-17 tahun di Jatim pada 2020 di angka 2,59%. Tahun 2021 turun menjadi 2,01% dan 2022 di angka 1,51%.
Jatim sendiri merupakan tiga daerah terendah untuk prosentase pekerja anak usia 10-17 tahun setelah DKI Jakarta di angka 0,61% dan Aceh 1,01%. “Tahun 2022 pekerja anak di Jatim di angka 1,51% dan itu berada jauh dibawah rerata nasional yakni 2,44%. Ini bukti komitmen kami untuk selalu melindungi hak anak-anak di Jatim," kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Selasa (13/6/2023).
Khofifah menjelaskan, pekerja anak memiliki dampak jangka panjang yang merugikan. Karena, anak-anak yang terjebak dalam pekerjaan tidak layak seringkali berhenti dari pendidikan mereka dan membatasi peluang masa depan mereka.
"Bahkan, mereka juga berisiko tinggi mengalami penyalahgunaan, eksploitasi, dan kondisi kerja yang berbahaya. Pada momen ini, hal-hal seperti inilah yang akan menjadi fokus utama kami dalam pengentasan pekerja anak," tegas orang nomor satu di Pemprov Jatim ini.
Baca juga: Kisah Penjual Nasi Goreng Naik Haji dari Tabungan Uang Rokok Selama 20 Tahun
Jatim sendiri merupakan tiga daerah terendah untuk prosentase pekerja anak usia 10-17 tahun setelah DKI Jakarta di angka 0,61% dan Aceh 1,01%. “Tahun 2022 pekerja anak di Jatim di angka 1,51% dan itu berada jauh dibawah rerata nasional yakni 2,44%. Ini bukti komitmen kami untuk selalu melindungi hak anak-anak di Jatim," kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Selasa (13/6/2023).
Khofifah menjelaskan, pekerja anak memiliki dampak jangka panjang yang merugikan. Karena, anak-anak yang terjebak dalam pekerjaan tidak layak seringkali berhenti dari pendidikan mereka dan membatasi peluang masa depan mereka.
"Bahkan, mereka juga berisiko tinggi mengalami penyalahgunaan, eksploitasi, dan kondisi kerja yang berbahaya. Pada momen ini, hal-hal seperti inilah yang akan menjadi fokus utama kami dalam pengentasan pekerja anak," tegas orang nomor satu di Pemprov Jatim ini.
Baca juga: Kisah Penjual Nasi Goreng Naik Haji dari Tabungan Uang Rokok Selama 20 Tahun
Lihat Juga :