alexa snippet

Cerita Pagi

Ben Anderson dan Kudeta Militer 1 Oktober 1965

Selain mengungkap adanya konflik antara bawahan dengan atasan, pada kesimpulannya itu Ben Anderson dan Ruth Mcvey juga mengungkap kedekatan para pemimpin G30S, yakni Untung dan Latif dengan Jenderal Soeharto.

Kedekatan Soeharto dengan Untung tampak pada 1964. Saat itu, Soeharto rela pergi jauh-jauh ke salah satu desa di Jawa Tengah untuk menghadiri perkawinan Untung. Saat menikah, usia Untung sudah cukup tua. Dia sering diejek perjaka tua.

Begitupun dengan Latief. Soeharto dikenal sangat dekat dengan Latif. Bahkan Istri Soeharto, Ibu Tien juga berhubungan erat dengan Istri Latief. Ben Anderson menduga, Ibu Tien yang meminta Soeharto membebaskan Latif dari hukuman mati.

Analisis awal Ben Anderson dan Ruth Mcvey yang kemudian terkenal dengan Cornell Paper menimbulkan kegemparan di Jakarta. Di kalangan aktivis mahasiswa dan kaum intelektual Indonesia, tesis Ben Anderson ini sempat hangat diperbincangkan.

Pada tahun 1967, Ben Anderson sempat berkunjung ke rumah sahabatnya Soe Hok Gie, di Jalan Kebon Jeruk, Jakarta. Saat itu, dia sempat mendiskusikan tesisnya tersebut dengan sejumlah teman-temannya. Di antara yang hadir tampak Salim Said.

Selain mengunjungi para sahabatnya, kedatangan Ben Anderson ke Indonesia saat itu adalah untuk mengikuti sidang Mahmilub. Saat mengikuti sidang pengadilan Letkol AURI Atmodjo, dia menerima salinan fotokopi rekaman stenografis pengadilan.

Rekaman itu berisi dokumen-dokumen penting tentang lampiran-lampiran pada berkas sidang pengadilan. Di dalamnya ternyata ada laporan yang disusun lima orang ahli kedokteran forensik yang memeriksa mayat-mayat enam orang jendral yang dibunuh.

Keenam jenderal itu adalah Yani, Suprapto, Parman, Sutojo, Harjono, dan Pandjaitan, serta seorang letnan muda Tendean yang terbunuh pada pagi-pagi buta tanggal 1 Oktober 1965. Hal ini sangat mengejutkan Ben Anderson sekaligus membuatnya senang.

Laporan mereka yang lugas merupakan lukisan paling obyektif dan tepat yang pernah dimiliki tentang bagaimana tujuh orang itu mati. Mengingat berita-berita yang disajikan oleh surat kabar dan majalah umum berlain-lainan dan sarat kontroversi.

Dokumen penting itu kemudian dia terjemahkan. Disebutkan pada bagian atas setiap visum et repertum (Autopsi) menunjukkan bahwa tim tersebut bekerja pada hari Senin 4 Oktober 1965 atas perintah Mayjen Soeharto selaku Komandan KOSTRAD.

Tim terdiri dari dua orang dokter tentara, termasuk Brigjen Roebono Kertopati yang terkenal, dan tiga orang sipil ahli kedokteran forensik pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) yang salah satunya adalah Dr Sutomo Tjokronegoro.

Sejak mayat diangkat dari Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965 siang, tim langsung bekerja selama 8 jam dari pukul 4.30 sore pada 4 Oktober 1965 sampai 12.30 lewat tengah malam pada 5 Oktober, di Kamar Bedah RSPAD.

Siang harinya, pada Selasa 5 Oktober 1965, mayat-mayat itu langsung dimakamkan dengan upacara militer di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta. Satu hal yang pasti patut diperhatikan, autopsi dilakukan atas perintah langsung Mayjen Soeharto.
halaman ke-2 dari 3
loading gif
Top