alexametrics

DPR Desak Polri Usut Dalang Pembunuhan Salim Kancil

loading...
DPR Desak Polri Usut Dalang Pembunuhan Salim Kancil
Anggota Komisi 3 DPR-RI Nasir Djamil mendesak Polri mengusut dalang pembunuhan Salin Kancil.(dok.Sindonews)
A+ A-
JAKARTA - Pembunuhan terhadap Salim Kancil, aktivis tambang di Lumajang menyita perhatian Anggota Komisi 3 DPR RI, Muhammad Nasir Djamil.

"Situasi dan kondisi masyarakat di Lumajang saat ini sangat memprihatinkan, Polri diharapkan dapat segera mengungkap dalang kasus pembunuhan terhadap Salim Kancil dan penganiayaan terhadap Tosan di Lumajang," ujar Nasir.

Seperti diketahui, Salim Kancil dan Tosan merupakan korban penganiayaan berat akibat penolakan mereka terhadap aktivitas penambangan pasir di wilayahnya.



"Kasus ini telah menambah deret panjang kasus kekerasan yang dialami petani dalam kasus pertambangan, kinerja Polri selama ini patut dipertanyakan," sebut Nasir

Nasir menyayangkan lambatnya respon aparat penegak hukum dalam menangani dugaan kekerasan yang diduga sudah dimulai sejak 10 September lalu.

"Konflik dan ancaman pembunuhan terhadap sejumlah aktivis di sekitar wilayah tambang itu sudah cukup lama, kenapa polisi baru bergerak setelah ada korban?" sebutnya.

Menurut Nasir tragedi kemanusiaan ini tidak boleh terulang kembali. "Saya berharap Polda Jatim dapat membentuk tim khusus dan bisa melibatkan komnas HAM dalam mengusut tuntas kasus ini, sampai pada pengungkapan aktor intelektual dibalik konflik yang terjadi selama ini," tegasnya.

Untuk itu, Nasir mengatakan pihaknya bersama Komisi III DPR RI akan memantau perkembangan kasus ini dan terus mengawasi kerja Polri, Kejaksaan dan Komnas HAM dalam menangani tragedi kemanusiaan di Lumajang.

"Komisi III tentu akan memantau dan mengawasi langkah dan upaya apa yang akan dilakukan Polri serta memperhitungkan berapa lama Polri sanggup mengungkap dalang dibalik tragedi ini," pungkasnya.
(nag)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak