alexametrics

Ritual Guyangan Rojo Koyo

Sucikan Ternak Agar Beranak Pinak

loading...
Sucikan Ternak Agar Beranak Pinak
Warga mengarak hewan ternak untuk mengikuti ritual Guyangan Rojo Koyo, kemarin. tradisi ini digelar setiap menjelang Idul Adha.
A+ A-
Rabu (16/9) pagi, puluhan warga Dusun Pokoh 2, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo terlihat berkumpul di balai dusun. Sebagian besar dari mereka membawa hewan ternak seperti kambing dan sapi.

Terlihat empat orang warga dengan berpakaian Jawa lengkap memanggul nasi gudangan (nasi dengan sayur irisan daun pepaya dan bumbu dari parutan kelapa). Di belakang mereka, belasan orang berpakaian jathilan terlihat sangat menghayati peran mereka menjadi penari.

Sesekali, hewan-hewan yang ditarik oleh puluhan warga berjingkrak dan berlari seolah berontak. Namun hewan-hewan tersebut akhirnya kembali jinak setelah disentuh oleh salah seorang tetua adat Dusun Pokoh 2. Dari balai Dusun mereka lantas mengarak hewan-hewan yang sebagian untuk Idul Kurban ini ke dekat sumber air utama dusun tersebut.



Sekitar 300 meter arak-arakan tersebut sampai di Kali Gayam, sebuah wilayah yang ada sumber air utama tersebut. Ratusan warga yang nampak antusias mengikuti acara prosesi tersebut. Sesampai di area yang agak lapang, warga berkumpul sementara puluhan hewan tersebut berjajar rapi ditambat dengan beberapa buah bambu.

Tetua adat lantas memanjatkan doa di dekat bejana berupa tempayan menampung aliran air dari Sendang Sari dan di dalamnya terdapat kembang setaman. Tetua kampung, memanjatkan doa yang intinya agar diberi ketenteraman serta kesejahteraan, terutama bagi Rojo Koyo (hewan peliharaan mereka).

“Inti doanya tadi agar hewan-hewan ternak kami bisa tempulur atau mudah beranak,” tutur Legiman, Kaum Rois Dusun tersebut. Usai berdoa, salah satu tokoh masyarakat lantas mengambil segenggam daun dadap dan dua orang lainnya mengambil air Sendang yang didoakan tersebut.

Satu per satu hewan-hewan peliharaan milik warga lalu diperciki air yang mereka anggap suci tersebut dengan menggunakan daun dadap tersebut. Usai disucikan dengan percikan air suci, pemilik ternak langsung memburu nasi gudangan. Dengan alas daun jati, mereka mengambil nasi gudangan tersebut dan mengambil seadanya.

Mereka lantas menyuapi masingmasing ternak miliknya dengan nasi gudangan tersebut. Harapannya, dengan makan nasi gudangan tersebut, ternak-ternak mereka “doyan” makan dedaunan sehingga daging yang dihasilkan juga lebih banyak. Usai diberi makan, tetua kampung lantas menyebar duit receh dan uboramperitual tersebut.

Ratusan warga berdesakan memperebutkan uang receh dan uboramperitual tersebut. Uang receh dan ubo rampetersebut nantinya akan mereka letakkan di kandangkandang ternak mereka, harapannya agar ternak mereka lebih makmur. “Biar ternak kami subur dan mudah beranak,” ujar Ketua Panitia Merti Dusun Pokoh 2, Samirin.

Kepala Dukuh Pokoh 2, Haryono mengungkapkan, menjelang pelaksanaan Hari Raya Kurban ini warga memang berinisiatif ingin menyucikan ternak-ternak yang mereka pelihara. Kebetulan saat ini, Hari Raya Idul Kurban bersamaan dengan acara merti dusun yang mereka gelar setiap tahunnya.

Sehingga mereka menggelar kedua acara tersebut secara bersamaan. “Di sini (Pokoh 2) seluruh warganya memelihara hewan. Ada yang sapi, kambing, dan ayam. Akan tetapi paling banyak kambing,” ujarnya. Khusus untuk hewan ternak, di dusunnya biasanya menyelenggarakan tiga kali upacara. Setiap empat bulan sekali, para pemilik ternak tersebut menyelenggarakan acara Gumbrekan.

ERFANTO LINANGKUNG
Bantul
(bbg)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak