Cuaca Ekstrem Melanda hingga Awal Februari 2026, Jabar Status Awas!

Selasa, 27 Januari 2026 - 06:45 WIB
BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia hingga awal Februari 2026. Foto/Dok.SindoNews
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia hingga awal Februari 2026. Berdasarkan laporan terbaru BMKG pada Selasa (27/1/2026), wilayah Jawa Barat kini menyandang status “Awas” untuk potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem dalam periode 27 hingga 29 Januari 2026.

Sementara itu, BMKG juga mencatat bahwa pada periode 23 - 26 Januari 2026, sejumlah wilayah telah diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem.



Baca juga: BNPB Catat Bencana Hidrometeorologi Melanda Sejumlah Wilayah dalam 24 Jam Terakhir

DKI Jakarta mencatatkan curah hujan tertinggi mencapai 171,8 mm/hari, disusul oleh Banten (148,9 mm/hari), Jawa Barat (106,8 mm/hari), dan Sumatera Selatan (86,2 mm/hari).

Dari laporan BMKG, kondisi ini dipicu oleh aktivitas Monsun Asia yang menguat, serta adanya fenomena InterTropical Convergence Zone (ITCZ) yang membentuk pola awan memanjang dari Samudra Hindia hingga Laut Arafura.

Selain itu, eks-Siklon Tropis (TC) Luana yang telah melemah menjadi Pusat Tekanan Rendah turut memperparah kondisi atmosfer dengan meningkatkan labilitas dan kelembapan udara.

Baca juga: Dampak Cuaca Esktrem, Industri Maskapai Mengaku Boncos 20%

Analisis dinamika atmosfer menunjukkan bahwa fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase negatif yang mengindikasikan kondisi La Niña Lemah. Kondisi ini meningkatkan pasokan uap air di wilayah Indonesia, terutama bagian timur.

Kemudian, fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) atau seruakan angin utara lintas ekuator diprediksi masih aktif. Hal ini bersamaan dengan potensi pembentukan daerah tekanan rendah di selatan Banten dan Teluk Carpentaria yang memicu konvergensi (perlambatan kecepatan angin) di Indonesia bagian selatan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!