Antisipasi Bunuh Diri, Ini yang Harus Dilakukan Keluarga
Kamis, 09 April 2015 - 11:59 WIB
Antisipasi Bunuh Diri, Ini yang Harus Dilakukan Keluarga
A
A
A
JAKARTA - Kasus bunuh diri yang dilakukan Nanda Zharpan Saputra (23) warga Pesanggrahan, Jakarta Selatan ditengarai karena korban terlalu bersikap tertutup.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, keluarga harus bisa mengajarkan sikap sosial kepada anaknya sehingga jika ada permasalahan tidak langsung bertindak nekat.
Nanda melakukan aksi bunuh diri dengan cara menusuk lehernya dengan pisau. Diduga aksi tersebut dilakukan Nanda karena depresi tidak juga mendapat pekerjaan.
Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen menilai, cara korban bunuh diri menandakan dia ingin mencari perhatian dari lingkungan sekitar. Dengan cara yang demikian maka diharapkan bisa membuat lingkungan sekitar terperangah.
Dikatakan Dewi, orang dengan ciri demikian sebelumnya kuat dugaan pernah melakukan upaya serupa dalam rangka mencari perhatian. (Baca: Stres Menganggur, Sarjana Ini Tusuk Lehernya Sendiri)
"Hanya saja mungkin tidak terlalu dipedulikan oleh lingkungan sehingga dia sampai nekat dengan cara dia sendiri," kata Dewi, Kamis (8/4/2015).
Dilihat lebih jauh, sambung dia, sistem pendidikan Indonesia sangat instan. Dimana seseorang dituntut untuk menjadi sarjana dalam waktu lima tahun.
Kemudian proses belajar dari tingkat dasar yang hanya terpaku pada akademis saja tanpa adanya faktor afektif.
"Padahal kemampuan bersosial itu sangat membantu. Jadi tidak hanya sekedar pintar tetapi juga bagaimana dia berkomunikasi dan menghadapi masalah sangat diperlukan," ungkapnya.
Untuk mencegah hal serupa maka perlu ditingkatkan bersosial. Peningkatan untuk saling peduli dan tidak individualistis. Sehingga jika ada kerabat atau orang terdekat yang sudah memiliki gelagat bertindak nekat bisa dicegah.
"Jangan individual dan lebih perlu ditingkatkan rasa saling pedulinya," saran dia.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, keluarga harus bisa mengajarkan sikap sosial kepada anaknya sehingga jika ada permasalahan tidak langsung bertindak nekat.
Nanda melakukan aksi bunuh diri dengan cara menusuk lehernya dengan pisau. Diduga aksi tersebut dilakukan Nanda karena depresi tidak juga mendapat pekerjaan.
Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen menilai, cara korban bunuh diri menandakan dia ingin mencari perhatian dari lingkungan sekitar. Dengan cara yang demikian maka diharapkan bisa membuat lingkungan sekitar terperangah.
Dikatakan Dewi, orang dengan ciri demikian sebelumnya kuat dugaan pernah melakukan upaya serupa dalam rangka mencari perhatian. (Baca: Stres Menganggur, Sarjana Ini Tusuk Lehernya Sendiri)
"Hanya saja mungkin tidak terlalu dipedulikan oleh lingkungan sehingga dia sampai nekat dengan cara dia sendiri," kata Dewi, Kamis (8/4/2015).
Dilihat lebih jauh, sambung dia, sistem pendidikan Indonesia sangat instan. Dimana seseorang dituntut untuk menjadi sarjana dalam waktu lima tahun.
Kemudian proses belajar dari tingkat dasar yang hanya terpaku pada akademis saja tanpa adanya faktor afektif.
"Padahal kemampuan bersosial itu sangat membantu. Jadi tidak hanya sekedar pintar tetapi juga bagaimana dia berkomunikasi dan menghadapi masalah sangat diperlukan," ungkapnya.
Untuk mencegah hal serupa maka perlu ditingkatkan bersosial. Peningkatan untuk saling peduli dan tidak individualistis. Sehingga jika ada kerabat atau orang terdekat yang sudah memiliki gelagat bertindak nekat bisa dicegah.
"Jangan individual dan lebih perlu ditingkatkan rasa saling pedulinya," saran dia.
(ysw)