Pengamat: Indosat Diduga Tak Lakukan Riset Materi Iklan Soal Bekasi
Selasa, 13 Januari 2015 - 18:21 WIB
Pengamat: Indosat Diduga Tak Lakukan Riset Materi Iklan Soal Bekasi
A
A
A
DEPOK - Keluarnya materi iklan PT Indosat berjudul 'Liburan ke Aussie lebih mudah dibanding ke Bekasi' diduga kuat dilakukan tanpa riset dari perusahaan tersebut.
Pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati mengatakan, proses bullying seolah menjadi menarik karena banyak orang yang merasa menjadi bagian dari tempat itu (yang dibully).
Beberapa waktu lalu, Bekasi juga menjadi bahan bullying di sosial media. Warga Bekasi seolah 'menerima' karena merasa itu adalah candaan untuk mereka sendiri.
Hingga akhirnya muncul iklan dari Indosat yang juga membully Bekasi. Devi menduga kurang adanya riset mendalam dari perusahaan tersebut sehingga terjadi kasus ini.
Padahal, suatu perusahaan yang beriklan seharusnya merepresentatifkan produknya dalam bentuk iklan agar warga menggunakan produk itu.
Bukan justru melakukan bullying seperti yang terjadi di Bekasi.
"Perusahaan harus punya filosofi yang diterjemahkan dalam iklannya. Perusahaan juga harus mampu menjaga hati semua orang agar tidak menyinggung pihak manapun," saran dia.
Ditegaskan dosen program Vokasi UI itu, kasus ini harus menjadi pelajaran bahwa dalam beriklan tidak serta merta bisa mengadopsi apa yang menjadi perbincangan di sosial media.
Karena dunia maya merupakan dunia yang artifisial (palsu)."Saya menduga kurang adanya rasa sensitif dan riset serta meraba perasaan mayarakat di dunia nyata," jelasnya.
Pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati mengatakan, proses bullying seolah menjadi menarik karena banyak orang yang merasa menjadi bagian dari tempat itu (yang dibully).
Beberapa waktu lalu, Bekasi juga menjadi bahan bullying di sosial media. Warga Bekasi seolah 'menerima' karena merasa itu adalah candaan untuk mereka sendiri.
Hingga akhirnya muncul iklan dari Indosat yang juga membully Bekasi. Devi menduga kurang adanya riset mendalam dari perusahaan tersebut sehingga terjadi kasus ini.
Padahal, suatu perusahaan yang beriklan seharusnya merepresentatifkan produknya dalam bentuk iklan agar warga menggunakan produk itu.
Bukan justru melakukan bullying seperti yang terjadi di Bekasi.
"Perusahaan harus punya filosofi yang diterjemahkan dalam iklannya. Perusahaan juga harus mampu menjaga hati semua orang agar tidak menyinggung pihak manapun," saran dia.
Ditegaskan dosen program Vokasi UI itu, kasus ini harus menjadi pelajaran bahwa dalam beriklan tidak serta merta bisa mengadopsi apa yang menjadi perbincangan di sosial media.
Karena dunia maya merupakan dunia yang artifisial (palsu)."Saya menduga kurang adanya rasa sensitif dan riset serta meraba perasaan mayarakat di dunia nyata," jelasnya.
(whb)