Kecelakaan Maut di Batang, Duka Selimuti Keluarga Korban
Senin, 15 September 2014 - 16:37 WIB
Kecelakaan Maut di Batang, Duka Selimuti Keluarga Korban
A
A
A
SEMARANG - Kecelakaan maut di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menyisakan kesedihan bagi keluarga korban tewas. Tak terkecuali bagi Suparni, ibu dari Temu Pancawati, salah satu korban tewas.
Suasana kelabu menyelimuti warga Jalan Pergiwati III RT3/6 Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara, siang tadi. Dengan wajah murung dan bingung, puluhan warga memasang tenda-tenda di depan rumah tiga warga mereka yang tewas akibat kecelakaan maut di jalur pantura, tepatnya di Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang sekitar pukul 04.00 WIB.
Warga tak menyangka, tiga tetangga mereka yakni Temu Pancawati (40), Sutriana (40), dan seorang bocah berusia lima tahun Fatimah Azahra tewas secara mengenaskan dalam musibah kecelakaan itu. Warga masih bertanya-tanya dan seolah tidak percaya dengan kenyataan tersebut.
Di dalam rumah para korban, isak tangis begitu keras terdengar. Warga yang menjenguk juga ikut meneteskan air mata karena larut dalam kesedihan yang melanda keluarga.
"Saya dengar kabar jam 09.00 WIB tadi pagi. Katanya anak saya kecelakaan. Saya langsung shock mendengar itu," kata Suparni (66), ibu dari salah satu korban, Temu Pancawati, saat ditemui di rumahnya, Senin (15/9/2014).
Suparni tak menyangka, anak bungsunya itu akan pergi meninggalkannya secara cepat dan tragis. Bahkan, hingga saat ini dirinya belum mampu menerima kenyataan Temu Pancawati, anak perempuan yang telah bersamanya selama puluhan tahun itu kini telah tiada.
"Anaknya baik, selama ini tidak pernah membuat masalah. Dia itu sangat patuh sama orangtua dan sangat menyayangi saya," imbuhnya sambil menangis.
Suparni mengatakan, sebetulnya sudah ada firasat buruk mengenai kecelakaan yang akan menimpa anaknya itu. Selama seharian sebelum keberangkatannya ke Bandung, Temu Pancawati terlihat murung dan tidak banyak beraktivitas.
"Dia itu seharian di rumah, kelihatan murung dan bengong terus. Saya juga sebenarnya melarang dia pergi piknik karena sebelumnya juga sudah piknik bersama ibu-ibu PKK di sini. Tapi dia tetap ngeyel dan ikut," paparnya.
Suparni juga merasakan firasat buruk saat adiknya melihat termos di rumahnya tiba-tiba pecah. Padahal, di dalam termos itu tidak ada isinya sama sekali. Namun hal itu tidak dipedulikan Suparni karena tidak tahu akan kejadian ini.
"Saya hanya berharap anak saya diterima di sisi-Nya. Juga menantu dan cucu saya Dafa yang juga terlibat kecelakaan itu diberikan keselamatan sehingga dapat berkumpul dengan kami lagi," pungkasnya sambil mengusap foto anaknya Temu Pancawati bersama suaminya Agung Budi Harto (39) dan anaknya Dafa Umar Alrafi (11).
Diberitakan sebelumnya, kecelakaan maut terjadi di Batang, Jawa Tengah. Minibus berpenumpang sembilan orang terguling dan menabrak truk dari arah berlawanan. Akibatnya, lima orang tewas, enam luka.
Kecelakaan maut tersebut terjadi di jalur pantura Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing, Batang, Jawa Tengah, Senin (15/9/2014) pagi.
Diduga, kecelakaan maut ini akibat sopir minibus Daihatsu Luxio H 9285 VR yang melaju dari arah barat mengantuk dan oleng ke kiri. Sopir kemudian banting kemudi ke kanan, terguling hingga akhirnya menabrak truk bernopol N 8663 UZ yang bermuatan pepaya, yang melaju dari arah timur.
Suasana kelabu menyelimuti warga Jalan Pergiwati III RT3/6 Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara, siang tadi. Dengan wajah murung dan bingung, puluhan warga memasang tenda-tenda di depan rumah tiga warga mereka yang tewas akibat kecelakaan maut di jalur pantura, tepatnya di Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang sekitar pukul 04.00 WIB.
Warga tak menyangka, tiga tetangga mereka yakni Temu Pancawati (40), Sutriana (40), dan seorang bocah berusia lima tahun Fatimah Azahra tewas secara mengenaskan dalam musibah kecelakaan itu. Warga masih bertanya-tanya dan seolah tidak percaya dengan kenyataan tersebut.
Di dalam rumah para korban, isak tangis begitu keras terdengar. Warga yang menjenguk juga ikut meneteskan air mata karena larut dalam kesedihan yang melanda keluarga.
"Saya dengar kabar jam 09.00 WIB tadi pagi. Katanya anak saya kecelakaan. Saya langsung shock mendengar itu," kata Suparni (66), ibu dari salah satu korban, Temu Pancawati, saat ditemui di rumahnya, Senin (15/9/2014).
Suparni tak menyangka, anak bungsunya itu akan pergi meninggalkannya secara cepat dan tragis. Bahkan, hingga saat ini dirinya belum mampu menerima kenyataan Temu Pancawati, anak perempuan yang telah bersamanya selama puluhan tahun itu kini telah tiada.
"Anaknya baik, selama ini tidak pernah membuat masalah. Dia itu sangat patuh sama orangtua dan sangat menyayangi saya," imbuhnya sambil menangis.
Suparni mengatakan, sebetulnya sudah ada firasat buruk mengenai kecelakaan yang akan menimpa anaknya itu. Selama seharian sebelum keberangkatannya ke Bandung, Temu Pancawati terlihat murung dan tidak banyak beraktivitas.
"Dia itu seharian di rumah, kelihatan murung dan bengong terus. Saya juga sebenarnya melarang dia pergi piknik karena sebelumnya juga sudah piknik bersama ibu-ibu PKK di sini. Tapi dia tetap ngeyel dan ikut," paparnya.
Suparni juga merasakan firasat buruk saat adiknya melihat termos di rumahnya tiba-tiba pecah. Padahal, di dalam termos itu tidak ada isinya sama sekali. Namun hal itu tidak dipedulikan Suparni karena tidak tahu akan kejadian ini.
"Saya hanya berharap anak saya diterima di sisi-Nya. Juga menantu dan cucu saya Dafa yang juga terlibat kecelakaan itu diberikan keselamatan sehingga dapat berkumpul dengan kami lagi," pungkasnya sambil mengusap foto anaknya Temu Pancawati bersama suaminya Agung Budi Harto (39) dan anaknya Dafa Umar Alrafi (11).
Diberitakan sebelumnya, kecelakaan maut terjadi di Batang, Jawa Tengah. Minibus berpenumpang sembilan orang terguling dan menabrak truk dari arah berlawanan. Akibatnya, lima orang tewas, enam luka.
Kecelakaan maut tersebut terjadi di jalur pantura Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing, Batang, Jawa Tengah, Senin (15/9/2014) pagi.
Diduga, kecelakaan maut ini akibat sopir minibus Daihatsu Luxio H 9285 VR yang melaju dari arah barat mengantuk dan oleng ke kiri. Sopir kemudian banting kemudi ke kanan, terguling hingga akhirnya menabrak truk bernopol N 8663 UZ yang bermuatan pepaya, yang melaju dari arah timur.
(zik)