Kualitas Guru Lebih Utama Ketimbang Hasil UN
Senin, 19 Mei 2014 - 10:22 WIB
Kualitas Guru Lebih Utama Ketimbang Hasil UN
A
A
A
JAKARTA - Ujian Nasional (UN) yang dijadikan standar kelulusan untuk SMA dan sederajat serta SMP dan sederajat dinilai masih perlu dievaluasi. Karena, lebih penting prosen UN bukan hasilnya.
Hal itu disampaikan oleh Koordinator Education Forum Erlin Sriana saat dihubungi Sindonews, Minggu 18 Mei 2014 malam.
"Ya harus ada evaluasi kebijakan dong, kan kalau kata Mendikbud 'galah harus dinaikkan supaya siswa dapat termotivasi untuk ambil galah itu' kan. Tapi apa gimana mau ambil galah yang dinaikkan itu tanpa proses yang tepat bagi siswa itu sendiri," katanya.
Dosen Pascasarjana Universitas Muhammidayah Prof Dr. Hamka ini mengatakan, proses kegiatan belajar mengajar siswa sebelum menghadapi UN harusnya lebih dievaluasi. Karena, kualitas guru dalam mengajarkan kepada siswa juga harus diperhatikan untuk standar yang berkualitas.
"Bagaimana seorang guru dapat memberikan pembekalan ilmu maupun dukungan kepada siswanya, di samping itu fasilitas juga tapi yang paling penting guru. Karena mereka yang harus tahu, mereka menjadi guru karena kecintaan mereka pada dunia pendidikan," jelasnya.
Menurut Erlin, soal yang diujikan kebanyakan tidak jelas. Karena, pertanyaan dan jawabannya tidak nyambung.
"Bagaimana kualitas soal UN itu sendiri, bagaimana biar tidak bias atau ambigu antara pilihan jawaban satu dengan lainnya, gimana komposisi terkait paket satu dengan lainnya apakah seimbang misalkan paket ini lebih mudah atau susah itu yang harus dilihat," terangnya.
Erlin mencontohkan, terkait nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang muncul pada UN SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi bias.
"Jadi setelah saya teliti, saya tanya ke teman-teman saya jawabannya apa, jawabannya itu bisa A, bisa B, bisa C, jadi bias atau ambigu sehingga anak-anak juga susah, kemudian kata seperti blusukan, apakah anak-anak di daerah terpencil tahu arti blusukan atau kata blusukan? Jadi tata bahasanya yang membuat kadang-kadang siswa kebingungan," paparnya.
Erlin berharap, tidak ada lagi soal-soal yang sepertinya itu, atau tata bahasa yang salah sehingga membuat siswa dapat kebingungan dalam menjawab soal.
Hal itu disampaikan oleh Koordinator Education Forum Erlin Sriana saat dihubungi Sindonews, Minggu 18 Mei 2014 malam.
"Ya harus ada evaluasi kebijakan dong, kan kalau kata Mendikbud 'galah harus dinaikkan supaya siswa dapat termotivasi untuk ambil galah itu' kan. Tapi apa gimana mau ambil galah yang dinaikkan itu tanpa proses yang tepat bagi siswa itu sendiri," katanya.
Dosen Pascasarjana Universitas Muhammidayah Prof Dr. Hamka ini mengatakan, proses kegiatan belajar mengajar siswa sebelum menghadapi UN harusnya lebih dievaluasi. Karena, kualitas guru dalam mengajarkan kepada siswa juga harus diperhatikan untuk standar yang berkualitas.
"Bagaimana seorang guru dapat memberikan pembekalan ilmu maupun dukungan kepada siswanya, di samping itu fasilitas juga tapi yang paling penting guru. Karena mereka yang harus tahu, mereka menjadi guru karena kecintaan mereka pada dunia pendidikan," jelasnya.
Menurut Erlin, soal yang diujikan kebanyakan tidak jelas. Karena, pertanyaan dan jawabannya tidak nyambung.
"Bagaimana kualitas soal UN itu sendiri, bagaimana biar tidak bias atau ambigu antara pilihan jawaban satu dengan lainnya, gimana komposisi terkait paket satu dengan lainnya apakah seimbang misalkan paket ini lebih mudah atau susah itu yang harus dilihat," terangnya.
Erlin mencontohkan, terkait nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang muncul pada UN SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi bias.
"Jadi setelah saya teliti, saya tanya ke teman-teman saya jawabannya apa, jawabannya itu bisa A, bisa B, bisa C, jadi bias atau ambigu sehingga anak-anak juga susah, kemudian kata seperti blusukan, apakah anak-anak di daerah terpencil tahu arti blusukan atau kata blusukan? Jadi tata bahasanya yang membuat kadang-kadang siswa kebingungan," paparnya.
Erlin berharap, tidak ada lagi soal-soal yang sepertinya itu, atau tata bahasa yang salah sehingga membuat siswa dapat kebingungan dalam menjawab soal.
(mhd)