Jakbar akui 40 persen halte memprihatinkan
Kamis, 20 Maret 2014 - 19:26 WIB
Jakbar akui 40 persen halte memprihatinkan
A
A
A
Sindonews.com - Buruknya kondisi halte di Jakarta Barat diakui Kasudin Perhubungan Jakarta Barat. Dari 450 halte yang ada, 40 persennya dalam kondisi memprihatinkan.
Pelaksana tugas (Plt) Kasudinhub Jakarta Barat, Anton Parura mengakui keberadaan halte Jakarta Barat memang kondisinya memprihatinkan. Pihaknya sudah melakukan perbaikan disejumlah titik, khususnya pengembalian fungsional halte yang telah berganti fungsi menjadi tempat berdagang.
Seperti misalnya di kawasan Palmerah yang dijadikan tempat berjualan es kelapa. Untuk mengusirnya, Anton memasang barikade beton (MCB) sebanyak dua buah. Begitu juga di dekat pasar Rawa Belong yang dijadikan tempat berdagang mie ayam.
Kedepanya, lanjut Anton pihaknya akan membuat pagar di depan halte yang nantinya hanya terdapat pintu masuk sejumlah pengguna angkutan saja.
“Kami telah memasang barikade beton di depan halte agar para PKL tidak berjualan. Memang pemandangannya menjadi tidak enak, namun fungsinya tetap terjaga. Artinya, halte tersebut tetap bertuan,” kata Anton ketika dihubungi, Kamis (20/3/2014).
Anton menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan survei terhadap sejumlah halte yang kondisinya sangat memprihatinkan. Nantinya pihaknya akan memprioritaskan terlebih dahulu yang kondisinya benar-benar sudah rusak.
“Kami terbentur anggaran. Per kecamatan hanya dialokasikan Rp100 juta, padahal tiap kecamatan terdapat 40-60 halte,” ujarnya.
Baca juga:
Halte di Jakarta sudah 'dikuasai'
Pelaksana tugas (Plt) Kasudinhub Jakarta Barat, Anton Parura mengakui keberadaan halte Jakarta Barat memang kondisinya memprihatinkan. Pihaknya sudah melakukan perbaikan disejumlah titik, khususnya pengembalian fungsional halte yang telah berganti fungsi menjadi tempat berdagang.
Seperti misalnya di kawasan Palmerah yang dijadikan tempat berjualan es kelapa. Untuk mengusirnya, Anton memasang barikade beton (MCB) sebanyak dua buah. Begitu juga di dekat pasar Rawa Belong yang dijadikan tempat berdagang mie ayam.
Kedepanya, lanjut Anton pihaknya akan membuat pagar di depan halte yang nantinya hanya terdapat pintu masuk sejumlah pengguna angkutan saja.
“Kami telah memasang barikade beton di depan halte agar para PKL tidak berjualan. Memang pemandangannya menjadi tidak enak, namun fungsinya tetap terjaga. Artinya, halte tersebut tetap bertuan,” kata Anton ketika dihubungi, Kamis (20/3/2014).
Anton menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan survei terhadap sejumlah halte yang kondisinya sangat memprihatinkan. Nantinya pihaknya akan memprioritaskan terlebih dahulu yang kondisinya benar-benar sudah rusak.
“Kami terbentur anggaran. Per kecamatan hanya dialokasikan Rp100 juta, padahal tiap kecamatan terdapat 40-60 halte,” ujarnya.
Baca juga:
Halte di Jakarta sudah 'dikuasai'
(ysw)