Tugas berat Kapolda Metro Jaya Irjen Dwipriyatno
Minggu, 16 Maret 2014 - 10:25 WIB
Tugas berat Kapolda Metro Jaya Irjen Dwipriyatno
A
A
A
Sindonews.com - Tugas Kapolda Metro Jaya yang baru Irjen Dwipriyanto akan jauh lebih berat ketimbang Irjen Putut Eko Bayuseno. Setidaknya ada sembilan tugas berat yang harus ditangani Dwipriyanto.
Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S Pane mengatakan, sembilan tugas berat kapolda baru itu adalah, pertama, mengatasi kemacetan lalu lintas yang kian parah, terutama di pintu masuk Jakarta, seperti Cawang, Tomang, Pluit, kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
Kedua, kata dia, mengungkap kasus penembakan polisi, seperti di Tangerang Selatan dan depan KPK yang tak kunjung terungkap. Ketiga, kasus perampokan bersenjata api, terutama dengan sasaran mini market, yang terus terjadi.
Keempat, kasus brutalisme geng motor, seperti geng motor pita kuning, geng motor yang merusak pos polisi dekat Mabes Polri, yang terbiarkan. Kelima, aksi balapan liar di 45 titik yang terus berlangsung pada Jumat, Sabtu, dan Minggu malam.
Keenam, kata Neta, aksi-aksi premanisme yang menguasai kawasan Tanah Abang, Senayan, Roxi dan lainnya. Ketujuh, aksi polisi yang melakukan penjebakan di 25 titik, seperti jalur busway, underpass, jembatan layang. Kedelapan, antisipasi aksi demo menjelang Pemilu 2014. Kesembilan, antisipasi kekacauan dan kesemrawutan selama kampanye Pemilu 2014.
Maka itu, kata Neta, pihaknya berharap Dwipriyanto segera mengevaluasi kinerja para kapolres dan kemudian melakukan konsolidasi. Tujuannya agar antisipasi dini dan deteksi dini bisa dilakukan dengan maksimal, sehingga stabilitas kamtibmas ibukota Jakarta menjelang Pemilu 2014 tetap terjaga.
"Kapolda jangan segan-segan mencopot kapolres yang tidak becus dalam melakukan antisipasi dan deteksi dini. Sekecil apapun potensi ancaman keamanan di ibu kota tidak boleh dibiarkan. Sebab potensi tersebut menjadi pertaruhan bagi ancaman keamanan nasional, mengingat Jakarta menjadi barometer kamtibmas Indonesia," katanya dalam rilis yang diterima Sindonews, Minggu (16/3/2014).
Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S Pane mengatakan, sembilan tugas berat kapolda baru itu adalah, pertama, mengatasi kemacetan lalu lintas yang kian parah, terutama di pintu masuk Jakarta, seperti Cawang, Tomang, Pluit, kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
Kedua, kata dia, mengungkap kasus penembakan polisi, seperti di Tangerang Selatan dan depan KPK yang tak kunjung terungkap. Ketiga, kasus perampokan bersenjata api, terutama dengan sasaran mini market, yang terus terjadi.
Keempat, kasus brutalisme geng motor, seperti geng motor pita kuning, geng motor yang merusak pos polisi dekat Mabes Polri, yang terbiarkan. Kelima, aksi balapan liar di 45 titik yang terus berlangsung pada Jumat, Sabtu, dan Minggu malam.
Keenam, kata Neta, aksi-aksi premanisme yang menguasai kawasan Tanah Abang, Senayan, Roxi dan lainnya. Ketujuh, aksi polisi yang melakukan penjebakan di 25 titik, seperti jalur busway, underpass, jembatan layang. Kedelapan, antisipasi aksi demo menjelang Pemilu 2014. Kesembilan, antisipasi kekacauan dan kesemrawutan selama kampanye Pemilu 2014.
Maka itu, kata Neta, pihaknya berharap Dwipriyanto segera mengevaluasi kinerja para kapolres dan kemudian melakukan konsolidasi. Tujuannya agar antisipasi dini dan deteksi dini bisa dilakukan dengan maksimal, sehingga stabilitas kamtibmas ibukota Jakarta menjelang Pemilu 2014 tetap terjaga.
"Kapolda jangan segan-segan mencopot kapolres yang tidak becus dalam melakukan antisipasi dan deteksi dini. Sekecil apapun potensi ancaman keamanan di ibu kota tidak boleh dibiarkan. Sebab potensi tersebut menjadi pertaruhan bagi ancaman keamanan nasional, mengingat Jakarta menjadi barometer kamtibmas Indonesia," katanya dalam rilis yang diterima Sindonews, Minggu (16/3/2014).
(mhd)