Hari ini cuaca cerah, Jakarta kembali 'normal'
Senin, 27 Januari 2014 - 22:57 WIB
Hari ini cuaca cerah, Jakarta kembali 'normal'
A
A
A
Sindonews.com - Setelah genangan terjadi di beberapa kawasan Ibu Kota karena guyuran hujan sekira dua pekan terakhir, aktivitas warga Jakarta kembali menggeliat.
Jakarta kembali ke situasi normal dengan kemacetan di berbagai ruas jalan yang menuju pusat bisnis.
Seperti di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kemacetan terjadi lantaran banyaknya kendaraan yang keluar dari komplek perumahan. Sementara sepanjang Jalan MT Haryono hingga Jalan Gatot Subroto juga macet lantaran volume kendaraan dari Bekasi maupun Bogor yang hendak menuju Semanggi.
Di Jakarta Pusat kemacetan terjadi di Jalan Gunung Sahari dari arah Ancol menuju Senen dan Cempaka Putih yang mengarah ke Senen. Selain itu kemacetan juga terjadi di kawasan Kemayoran yang mengarah ke Sunter. Di sini kemacetan terjadi lantaran underpass masih tergenang air sedalam tiga meter. Petugas lalu-lintas terlihat mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan.
Rusaknya beberapa ruas jalan juga menambah parah kemacetan. Seperti di Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Abdullah Safei yang sempat tergenang sekira sepekan terakhir. Setelah surut jalan tersebut banyak berlubang. Sehingga pengendara baik roda dua maupun roda empat mengurangi kecepatan laju kendaraannya.
Kasat lantas Polres Jakarta Pusat Kompol Sakat mengatakan, kemacetan memang sudah menjadi rutinitas warga, namun kali ini kemacetan diperparah lantaran banyaknya jalan rusak, sehingga tidak jarang petugas yang ada dilapangan kerap menganjurkan pengendara untuk melintas di jalur bus Transjakarta.
Hal ini dilakukan agar lalu lintas tidak stagnan. Sakat mengaku dengan banyaknya jalan rusak jam kemacetan bertambah. Bahkan tidak jarang pengendara roda dua terjatuh saat menghindari jalan yang berlubang.
"Sebagai petugas kita selalu standby saat peak hour, karena banyak masyarakat yang tidak sabar akhirnya melawan arus. Hal tersebut yang kita minimalisir," ujarnya, Senin (27/1/2014).
Kemacetan juga terjadi dikarenakan sistem three in one pada jalan protokol sudah mulai diberlakukan, sehingga pengendara mobil yang hanya berpenumpang dua orang menambah kemacetan.
"Kemarin saat banjir three in one dihapuskan, saat ini sudah aktif kembali, sehingga pengendara mencari alternatif jalur lain," tuturnya.
Terkait kemacetan Sakat mengaku tidak bisa berbuat banyak, sebab hak warga untuk bisa memiliki kendaraan pribadi. Dengan demikian petugas kepolisian hanya bisa menjaga dan mengatur agar arus kendaraan bisa dikendalikan agar tidak terjadi stagnasi kendaraan.
Menurutnya peraturan yang membuat masyarakat bisa memiliki mobil lebih dari satu unit. "Jika izin kepemilikan kendaraan dibatasi saya yakin akan bisa mengurangi kemacetan," ujarnya.
Sementara itu Feri Husni pengguna mobil mengatakan, biarpun jalanan macet dirinya merasa lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi. Pasalnya saat ini transportasi publik masih jauh dari kenyamanan. Untuk itu meskipun masih mencicil, dirinya tetap lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.
"Terlepas dari status sosial, saya menggunakan kendaraan pribadi karena memang hanya ini yang nyaman, yang lainnya masih mengkhawatirkan," ujarnya.
Untuk menyiasati agar tidak terjebak macet dirinya selalu berangkat lebih pagi dari rumahnya yang berada di kawasan Pasar Minggu. Dirinya mengaku kadang ketika pulang merasa lelah karena kemacetan menjadi hal yang harus dijumpainya.
Akhirnya Feri kerap menghabiskan waktu di kafe atau mini market untuk istirahat dan menunggu jalan agak sepi. "Konsekuensinya memang harus menghadapi kemacetan, tapi saya sering menepi untuk minum kopi di minimarket, setelah agak lancar saya jalan lagi," tuturnya.
Jakarta kembali ke situasi normal dengan kemacetan di berbagai ruas jalan yang menuju pusat bisnis.
Seperti di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kemacetan terjadi lantaran banyaknya kendaraan yang keluar dari komplek perumahan. Sementara sepanjang Jalan MT Haryono hingga Jalan Gatot Subroto juga macet lantaran volume kendaraan dari Bekasi maupun Bogor yang hendak menuju Semanggi.
Di Jakarta Pusat kemacetan terjadi di Jalan Gunung Sahari dari arah Ancol menuju Senen dan Cempaka Putih yang mengarah ke Senen. Selain itu kemacetan juga terjadi di kawasan Kemayoran yang mengarah ke Sunter. Di sini kemacetan terjadi lantaran underpass masih tergenang air sedalam tiga meter. Petugas lalu-lintas terlihat mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan.
Rusaknya beberapa ruas jalan juga menambah parah kemacetan. Seperti di Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Abdullah Safei yang sempat tergenang sekira sepekan terakhir. Setelah surut jalan tersebut banyak berlubang. Sehingga pengendara baik roda dua maupun roda empat mengurangi kecepatan laju kendaraannya.
Kasat lantas Polres Jakarta Pusat Kompol Sakat mengatakan, kemacetan memang sudah menjadi rutinitas warga, namun kali ini kemacetan diperparah lantaran banyaknya jalan rusak, sehingga tidak jarang petugas yang ada dilapangan kerap menganjurkan pengendara untuk melintas di jalur bus Transjakarta.
Hal ini dilakukan agar lalu lintas tidak stagnan. Sakat mengaku dengan banyaknya jalan rusak jam kemacetan bertambah. Bahkan tidak jarang pengendara roda dua terjatuh saat menghindari jalan yang berlubang.
"Sebagai petugas kita selalu standby saat peak hour, karena banyak masyarakat yang tidak sabar akhirnya melawan arus. Hal tersebut yang kita minimalisir," ujarnya, Senin (27/1/2014).
Kemacetan juga terjadi dikarenakan sistem three in one pada jalan protokol sudah mulai diberlakukan, sehingga pengendara mobil yang hanya berpenumpang dua orang menambah kemacetan.
"Kemarin saat banjir three in one dihapuskan, saat ini sudah aktif kembali, sehingga pengendara mencari alternatif jalur lain," tuturnya.
Terkait kemacetan Sakat mengaku tidak bisa berbuat banyak, sebab hak warga untuk bisa memiliki kendaraan pribadi. Dengan demikian petugas kepolisian hanya bisa menjaga dan mengatur agar arus kendaraan bisa dikendalikan agar tidak terjadi stagnasi kendaraan.
Menurutnya peraturan yang membuat masyarakat bisa memiliki mobil lebih dari satu unit. "Jika izin kepemilikan kendaraan dibatasi saya yakin akan bisa mengurangi kemacetan," ujarnya.
Sementara itu Feri Husni pengguna mobil mengatakan, biarpun jalanan macet dirinya merasa lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi. Pasalnya saat ini transportasi publik masih jauh dari kenyamanan. Untuk itu meskipun masih mencicil, dirinya tetap lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.
"Terlepas dari status sosial, saya menggunakan kendaraan pribadi karena memang hanya ini yang nyaman, yang lainnya masih mengkhawatirkan," ujarnya.
Untuk menyiasati agar tidak terjebak macet dirinya selalu berangkat lebih pagi dari rumahnya yang berada di kawasan Pasar Minggu. Dirinya mengaku kadang ketika pulang merasa lelah karena kemacetan menjadi hal yang harus dijumpainya.
Akhirnya Feri kerap menghabiskan waktu di kafe atau mini market untuk istirahat dan menunggu jalan agak sepi. "Konsekuensinya memang harus menghadapi kemacetan, tapi saya sering menepi untuk minum kopi di minimarket, setelah agak lancar saya jalan lagi," tuturnya.
(hyk)