Adolf Hitler meninggal di Surabaya

Selasa, 03 Desember 2013 - 06:30 WIB
A A A
Buku itu berisi catatan penyelamatan sang Fuhrer dari Berlin hingga kemungkinan terakhir adalah Surabaya. Buku itu diperkuat lagi dengan catatan pribadi Dokter Poch, seorang dokter berkewarganegaraan Jerman di Sumbawa yang diyakini sebagai Adolf Hitler yang sesungguhnya.

Dalam catatan Poch, dia dan istrinya menghindari pengejaran sekutu meninggalkan Roma, sama persis dari buku tua itu, bahwa kode tersebut adalah F B S G J B S R. Yakni F yang berarti Fuhrer (sang pemimpin), kemudian B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum akhirnya ke Sumbawa Besar.

Dokter Poch sendiri diidentifikasi sebagai Hitler yang sesungguhnya oleh seorang dokter lulusan Universitas Indonesia (UI), dr Sosrohusodo, yang bertugas di rumah sakit di Sumbawa. Dr Sosrohusodo bahkan menulis pengalamannya tersebut pada sebuah artikel di Harian Pikiran Rakyat sekira tahun 1983.

Dalam tulisan artikel tersebut, dr Sosrohusodo menyebutkan jika dirinya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di Sumbawa pada tahun 1960.

Dia mengatakan, jika dokter tua asal Jerman yang ditemui dan diajaknya bicara adalah Hitler di masa tuanya. Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, yakni dokter tersebut tak bisa berjalan normal, dan selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan. Tak hanya itu, ia menyebut jika tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar.

"Dokter Poch berkepala gundul dan juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang itu berusia 71 tahun," tulis dr Sosrohusodo.

Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang dia temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk menjadi dokter. Bahkan, dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan.

Keyakinan Sosro, bahwa dia bertemu Hitler dan Eva Braun, membuatnya makin tertarik membaca buku dan artikel soal Hitler. Kata dia, setiap melihat foto Hitler di masa jayanya, dia makin yakin bahwa Poch, dokter tua asal Jerman yang dia temui adalah Hitler.

Keyakinannya bertambah saat seorang keponakannya, memberinya buku biografi Adolf Hitler karangan Heinz Linge yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria. Dalam halaman 59 artikel itu diceritakan kondisi fisik Hitler di masa tua.

"Sejumlah orang Jerman tahu Hitler menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan syaraf," sebut dr Sosrohusodo.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1304 seconds (10.177#12.26)