Keluarga tunggu kedatangan jenazah Lettu Rohmad
Senin, 11 November 2013 - 21:16 WIB
Keluarga tunggu kedatangan jenazah Lettu Rohmad
A
A
A
Sindonews.com - Duka mendalam dirasakan oleh keluarga besar Lettu Rohmad dalam kecelakaan jatuhnnya helikopter milik TNI AD, di dekat pos perbatasan antara Malinau Kalimanta Utara dan Malaysia, pada Sabtu 9 November 2013. Tidak hanya pihak keluarga, warga Dukuh Sandi pun ikut merasakan kedukaan itu.
Sebagai ungkapan duka, warga memasang bendera setengah tiang di sepanjang jalan, mulai dari perbatasan Dukuh Sandi dengan Desa Sedayu, hingga rumah duka di RT 3 RW 5 Dukuh Sandi yang berjarak sekitar satu Km.
Saat di datangi ke rumah duka, susana duka sangat terasa. Warga sekitar masih terus berdatangan untuk sekedar turut berbela sungkawa. Tidak hanya warga, sejumlah alumni Sekolah Penerbang Prajurit Sukarela Dinas Pendek (Sekbang PSDP) TNI lulusan 2010 juga datang.
Tenda besar terpasang di halaman rumah untuk menyambut tamu yang berbelasungkawa. Sejumlah karangan bunga juga berjajar di sejumlah sudut. Diantaranya karangan buka yang dikirim oleh Danrem 073.
Kedua orang tua almarhum Sujono (51) dan Siti Umaroh (39), sudah nampak tegar meski raut muka sedih tak dapat ditutupinya. Mereka masih diselimuti kecemasan, karena sampai tiga hari jenazah Lettu Rohmad belum juga tiba di rumah duka.
Di rumah duka, seluruh persiapan untuk menyambut kedatangan jenazah korban sudah dipersiapkan semua. Meja untuk mensemayamkan jenazah sudah siap, bahkan pihak keluarga bersama warga juga sudah menyiapkan lubang kubur sejak hari Minggu 10 November 2013. Korban akan dimakamkan berdampingan dengan buyutnya.
Sujono, Ayah Lettu Rohmad mengaku, belum mengetahui pasti kapan jenazah anaknya akan tiba di rumah duka. Kabar yang diterimanya dari keluarga yang menjemput di markas Skadron 31/serbu juga masih simpang siur.
“Katanya kemarin, terus ditunda. Katanya hari ini, tapi sampai sekarang juga belum datang. Malah tadi dapat kabar ada penundaan lagi. Katanya faktor cuaca,” katanya saat ditemui di rumah duka.
Sujono mengaku, keluarga besarnya sudah mengiklaskan kepergian anak keduanya tersebut. Hanya saja, dirinya belum merasa tenang sebelum melihat dan memakamkannya secara layak. “Aku ki ora tego (saya tidak tega), masak sampai tiga hari belum di makamkan,” katanya.
Dia berharap, segera ada kepastian kapan jenazah anaknya sampai ke rumah duka. ”Kami itu sudah menerima, mungkin sudah takdir anak saya sampai di sini. Kami berharap, anak saya bisa dimakamkan,” terangnya.
Sujono mengaku, untuk keperluan identifikasi, dirinya juga sudah diminta sampel darah oleh pihak TNI. Dengan sudah dikirimkan sampel darahnya, Dia berharap identifikasi bisa segera diselesaikan. “Tadi pagi ada yang datang minta darah, katanya mau dibawa ke Semarang,” ungkapnya.
Sementara itu, sang Ibu Siti Umaroh mengaku, dengan masih belum datangnya jenazah sang putra, dirinya selalu terbayang-bayang wajah anaknya. Bahkan, dia tidak bisa lepas dari foto Rohmad. Foto Rohmad selalu dibawa kemanapun, bahkan sesekali dia terus mamandangi foto Rohmad.
Siti Umaroh memang sangat terpukul dengan meninggalnya Lettu Rohmad. Maklum, anak kedua dari empat bersaudara tersebut, merupakan kebanggan keluarga. Rohmad memang menjadi kebanggaan bagi keluarganya, bagaimana tidak sejak kecil Rohmad, adalah anak yang sangat cerdas.
Siti Umaroh menceritakan, sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rohmad selalu menjadi siswa teladan. Selain itu, berkat kecerdasannya yang di atas teman-temannya, Rohmad selalu diterima di sekolah favorit. “SMP Sekolah di SMP 1 Grobogan, SMA-nya di SMA Negeri 1 Purwodadi (sekolah favorit di Kabupaten Grobogan),” bebernya.
Selain cerdas, Rohmad juga sangat patuh kepada orang tuanya. Saat sekolah pun tidak pernah memberatkan orang tuanya. Setiap hari, sejak SMP sampai SMA, Rohmad berjalan kaki melewati perbukitan untuk menuju jalan raya.
Jarak rumahnya dengan jalan raya sekitar 5 Km dengan jalan berbatu. Itulah yang menempa ketangguhan Rohmad untuk menjadi seorang perwira. “Walaupun pagi sekolah, kalau siang tetap membantu orang tua di Tegalan. Kami ini kan orang kampung, jadi harus prihatin,” imbuhnya.
Bahkan, sambung Siti, saat mendaftar di Sekbang PSDP, Rohmad pada tahun 2007 atau selepas lulus SMA, tidak pernah meminta uang kepada orang tua. “Kami ini hanya bisa memberikan doa restu. Memang dari kecil cita-citanya menjadi tentara,” katanya.
Sebagai ungkapan duka, warga memasang bendera setengah tiang di sepanjang jalan, mulai dari perbatasan Dukuh Sandi dengan Desa Sedayu, hingga rumah duka di RT 3 RW 5 Dukuh Sandi yang berjarak sekitar satu Km.
Saat di datangi ke rumah duka, susana duka sangat terasa. Warga sekitar masih terus berdatangan untuk sekedar turut berbela sungkawa. Tidak hanya warga, sejumlah alumni Sekolah Penerbang Prajurit Sukarela Dinas Pendek (Sekbang PSDP) TNI lulusan 2010 juga datang.
Tenda besar terpasang di halaman rumah untuk menyambut tamu yang berbelasungkawa. Sejumlah karangan bunga juga berjajar di sejumlah sudut. Diantaranya karangan buka yang dikirim oleh Danrem 073.
Kedua orang tua almarhum Sujono (51) dan Siti Umaroh (39), sudah nampak tegar meski raut muka sedih tak dapat ditutupinya. Mereka masih diselimuti kecemasan, karena sampai tiga hari jenazah Lettu Rohmad belum juga tiba di rumah duka.
Di rumah duka, seluruh persiapan untuk menyambut kedatangan jenazah korban sudah dipersiapkan semua. Meja untuk mensemayamkan jenazah sudah siap, bahkan pihak keluarga bersama warga juga sudah menyiapkan lubang kubur sejak hari Minggu 10 November 2013. Korban akan dimakamkan berdampingan dengan buyutnya.
Sujono, Ayah Lettu Rohmad mengaku, belum mengetahui pasti kapan jenazah anaknya akan tiba di rumah duka. Kabar yang diterimanya dari keluarga yang menjemput di markas Skadron 31/serbu juga masih simpang siur.
“Katanya kemarin, terus ditunda. Katanya hari ini, tapi sampai sekarang juga belum datang. Malah tadi dapat kabar ada penundaan lagi. Katanya faktor cuaca,” katanya saat ditemui di rumah duka.
Sujono mengaku, keluarga besarnya sudah mengiklaskan kepergian anak keduanya tersebut. Hanya saja, dirinya belum merasa tenang sebelum melihat dan memakamkannya secara layak. “Aku ki ora tego (saya tidak tega), masak sampai tiga hari belum di makamkan,” katanya.
Dia berharap, segera ada kepastian kapan jenazah anaknya sampai ke rumah duka. ”Kami itu sudah menerima, mungkin sudah takdir anak saya sampai di sini. Kami berharap, anak saya bisa dimakamkan,” terangnya.
Sujono mengaku, untuk keperluan identifikasi, dirinya juga sudah diminta sampel darah oleh pihak TNI. Dengan sudah dikirimkan sampel darahnya, Dia berharap identifikasi bisa segera diselesaikan. “Tadi pagi ada yang datang minta darah, katanya mau dibawa ke Semarang,” ungkapnya.
Sementara itu, sang Ibu Siti Umaroh mengaku, dengan masih belum datangnya jenazah sang putra, dirinya selalu terbayang-bayang wajah anaknya. Bahkan, dia tidak bisa lepas dari foto Rohmad. Foto Rohmad selalu dibawa kemanapun, bahkan sesekali dia terus mamandangi foto Rohmad.
Siti Umaroh memang sangat terpukul dengan meninggalnya Lettu Rohmad. Maklum, anak kedua dari empat bersaudara tersebut, merupakan kebanggan keluarga. Rohmad memang menjadi kebanggaan bagi keluarganya, bagaimana tidak sejak kecil Rohmad, adalah anak yang sangat cerdas.
Siti Umaroh menceritakan, sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rohmad selalu menjadi siswa teladan. Selain itu, berkat kecerdasannya yang di atas teman-temannya, Rohmad selalu diterima di sekolah favorit. “SMP Sekolah di SMP 1 Grobogan, SMA-nya di SMA Negeri 1 Purwodadi (sekolah favorit di Kabupaten Grobogan),” bebernya.
Selain cerdas, Rohmad juga sangat patuh kepada orang tuanya. Saat sekolah pun tidak pernah memberatkan orang tuanya. Setiap hari, sejak SMP sampai SMA, Rohmad berjalan kaki melewati perbukitan untuk menuju jalan raya.
Jarak rumahnya dengan jalan raya sekitar 5 Km dengan jalan berbatu. Itulah yang menempa ketangguhan Rohmad untuk menjadi seorang perwira. “Walaupun pagi sekolah, kalau siang tetap membantu orang tua di Tegalan. Kami ini kan orang kampung, jadi harus prihatin,” imbuhnya.
Bahkan, sambung Siti, saat mendaftar di Sekbang PSDP, Rohmad pada tahun 2007 atau selepas lulus SMA, tidak pernah meminta uang kepada orang tua. “Kami ini hanya bisa memberikan doa restu. Memang dari kecil cita-citanya menjadi tentara,” katanya.
(san)