Hindari gagal panen, petani harus ubah pola tanam
Kamis, 05 September 2013 - 15:04 WIB
Hindari gagal panen, petani harus ubah pola tanam
A
A
A
Sindonews.com - Bayangan bakal gagal panen terus menghantui para petani di tengah musim kemarau seperti sekarang ini. Pasalnya petani hanya bisa mengandalkan air dari waduk-waduk.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Dinas PU Pengairan Jawa Timur Sunoko agar tidak terjadi gagal panen saat musim kemarau, petani sebaiknya mengubah pola tanam. Artinya, mengikuti perkembangan musim.
"Agar tidak gagal panen, pola tanam harus diubah, Terlebih lagi, prediksi BMKG hujan baru bisa turun saat bulan Oktober mendatang," kata Sunoko di Surabaya, Kamis (5/9/2013).
Ia menjelaskan, pola tanam yang terjadi di Jawa Timur pada tahun ini adalah areal persawahan ditanami padi sebanyak dua kali kemudian berpindah Polowijo (Pada Saat kemarau). Nah, terjadi saat ini petani menanam padi dengan pola tanam Polowijo.
Tanaman polowijo ini tidak membutuhkan banyak air. Pola tanam padi bisa digunakan dengan pola tanam polowijo, katanya. Contohnya, menanam padi dengan SRI (System of Rice Intensification).
Dengan menggunakan SRI tidak membutuhkan banyak air untuk pengairan sawah. Teknisnya adalah, sebelum disebari pupuk, sawah di beri air. Kemudian air tersebut dibuang hingga tak tersisa baru diberi pupuk.
"Sistim SRI ini membuat anakkan padi bisa tumbuh karen areal sawah tidak ada air. Tapi resikonya sawah akan ditumbuhi dengan rumput namun demikian padi tetap tumbuh. Biasanya, malah petani yang kuno-kuno itu memberikan air yang penuh ke sawahnya. Nah disini khan mengingat kebutuhan air saat kemarau," jelasnya.
Kata Sunoko, dengan mengubah pola tanam inilah, solusi agar petani tidak gagal panen saat kemarau. "Di usahakan pada bulan November harus sudah panen," tambahnya.
Sunoko mencatat, kebutuhan air untuk areal pertanian cukup banyak. Dari data yang ada kebutuah air untuk areal pertanian ini mencapai 1 liter perdetik perhektar dalam kondisi normal.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Dinas PU Pengairan Jawa Timur Sunoko agar tidak terjadi gagal panen saat musim kemarau, petani sebaiknya mengubah pola tanam. Artinya, mengikuti perkembangan musim.
"Agar tidak gagal panen, pola tanam harus diubah, Terlebih lagi, prediksi BMKG hujan baru bisa turun saat bulan Oktober mendatang," kata Sunoko di Surabaya, Kamis (5/9/2013).
Ia menjelaskan, pola tanam yang terjadi di Jawa Timur pada tahun ini adalah areal persawahan ditanami padi sebanyak dua kali kemudian berpindah Polowijo (Pada Saat kemarau). Nah, terjadi saat ini petani menanam padi dengan pola tanam Polowijo.
Tanaman polowijo ini tidak membutuhkan banyak air. Pola tanam padi bisa digunakan dengan pola tanam polowijo, katanya. Contohnya, menanam padi dengan SRI (System of Rice Intensification).
Dengan menggunakan SRI tidak membutuhkan banyak air untuk pengairan sawah. Teknisnya adalah, sebelum disebari pupuk, sawah di beri air. Kemudian air tersebut dibuang hingga tak tersisa baru diberi pupuk.
"Sistim SRI ini membuat anakkan padi bisa tumbuh karen areal sawah tidak ada air. Tapi resikonya sawah akan ditumbuhi dengan rumput namun demikian padi tetap tumbuh. Biasanya, malah petani yang kuno-kuno itu memberikan air yang penuh ke sawahnya. Nah disini khan mengingat kebutuhan air saat kemarau," jelasnya.
Kata Sunoko, dengan mengubah pola tanam inilah, solusi agar petani tidak gagal panen saat kemarau. "Di usahakan pada bulan November harus sudah panen," tambahnya.
Sunoko mencatat, kebutuhan air untuk areal pertanian cukup banyak. Dari data yang ada kebutuah air untuk areal pertanian ini mencapai 1 liter perdetik perhektar dalam kondisi normal.
(lns)