Tangani tumpukan sampah, Depok gandeng Jepang
Selasa, 27 Agustus 2013 - 14:41 WIB
Tangani tumpukan sampah, Depok gandeng Jepang
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok gandeng Pemerintah Kota (Pemkot) Osaki, Jepang untuk mengurangi jumlah volume sampah yang dihasilkan setiap harinya yang mencapai 4.200 meter kubik. Peran Pemerintah Osaki akan memberikan pendampingan kepada masyarakat agar lebih sadar memilah sampah dari lingkungan rumah tangga.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, Pemkot Osaki sudah mengunjungi Depok beberapa kali untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap sampah. Dia menambahkan, sampah organik bisa diolah dari mulai rumah dengan cara biopori hingga di Unit Pengolahan Sampah (UPS).
"Sampah-sampah di rumah, yaitu sampah organik. Sampah organik yang lembut di rumah tangga seperti sisa makanan bisa dengan biopori, ada juga jenis sampah kasar," ujarnya kepada wartawan di UPS Jalan Merdeka, Sukmajaya, Depok, Selasa (27/8/2013).
"Tapi mudah diurai bisa membuat lubang di rumahnya jadi potensi kompos, tetapi ada juga di lingkungan yang termasuk daun dan ranting bisa diolah di UPS," tambahnya.
Setiap UPS mampu mengurangi 30 meter kubik sampah organik, kata dia, sementara sampah non organik akan diolah 200 bank sampah dan akan menjadi nilai ekonomis.
Mahmudi mengungkapkan, dari 40 UPS, baru ada 10 UPS yang siap terintegrasi dengan masyarakat untuk mengurangi sampah dengan optimal.
"Kami kan ada 40 UPS, yang beroperasi ada 30an, dan yang sangat siap terintegrasi ada 10 UPS, peran Pemerintah Kota Osaki adalah memberikan pendampingan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat seperti yang diterapkan di Osaki," jelasnya.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, Pemkot Osaki sudah mengunjungi Depok beberapa kali untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap sampah. Dia menambahkan, sampah organik bisa diolah dari mulai rumah dengan cara biopori hingga di Unit Pengolahan Sampah (UPS).
"Sampah-sampah di rumah, yaitu sampah organik. Sampah organik yang lembut di rumah tangga seperti sisa makanan bisa dengan biopori, ada juga jenis sampah kasar," ujarnya kepada wartawan di UPS Jalan Merdeka, Sukmajaya, Depok, Selasa (27/8/2013).
"Tapi mudah diurai bisa membuat lubang di rumahnya jadi potensi kompos, tetapi ada juga di lingkungan yang termasuk daun dan ranting bisa diolah di UPS," tambahnya.
Setiap UPS mampu mengurangi 30 meter kubik sampah organik, kata dia, sementara sampah non organik akan diolah 200 bank sampah dan akan menjadi nilai ekonomis.
Mahmudi mengungkapkan, dari 40 UPS, baru ada 10 UPS yang siap terintegrasi dengan masyarakat untuk mengurangi sampah dengan optimal.
"Kami kan ada 40 UPS, yang beroperasi ada 30an, dan yang sangat siap terintegrasi ada 10 UPS, peran Pemerintah Kota Osaki adalah memberikan pendampingan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat seperti yang diterapkan di Osaki," jelasnya.
(mhd)