Minimalisir sampah di kali, DKI gunakan alat baru
Kamis, 25 Juli 2013 - 11:39 WIB
Minimalisir sampah di kali, DKI gunakan alat baru
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Pesisir dan Panatas Dinas Kebersihan DKI Jakarta Budi Karya Irwanto mengatakan, akan membuat sistem baru bernama jebakan atau trap sampah terkait penanganan sampah di saluran dan kali di Jakarta.
"Permasalahan sampah di kali harus disaring dari sejak awal, sehingga ketika sampai di pintu air, jumlahnya tidak menjadi terlalu signifikan," katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (25/7/2013).
Menurutnya, trap sampah ini akan dianggarkan jajarannya pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) apabila upaya mendatangkan alat berat tidak terealisasi hingga akhir tahun.
Sistem trap sampah nantinya juga mudah dioperasikan dan lebih murah ketimbang Saringan Sampah Otomatis (SSO) milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI.
"Saat ini ada 23 SSO di Jakarta yang efektivitasnya dipertanyakan. Alat SSO itu banyak yang rusak, daya angkut sampahnya juga tidak banyak, biaya operasionalnya juga tinggi, butuh solar dan listrik," jelasnya.
Budi menjelaskan, dana yang dihabiskan untuk satu unit SS0 mencapai belasan miliar rupiah. Perawatan alat tersebut juga sulit dan memakan biaya tinggi karena menggunakan motor dan mekanisme elektrik.
Sedangkan trap sampah yang tengah diwacanakan pihaknya hanya menggunakan sling atau kawat baja besar, jaring dan pelampung.
"Satu jebakan bisa menampung sampah hingga setengah meter kubik. Kemudian pada satu titik, kita bisa pasang enam hingga 20 jebakan, tergantung lebar kali," terangnya.
Anggaran yang dibutuhkan di satu titik jebakan sampah dengan lebar 30 meter, lanjut Budi, diperkirakan akan menelan biaya Rp100 hingga Rp200 juta. Melalui alat ini, penanganan sampah di kali diyakini bisa lebih efektif.
"Kita sudah mulai uji coba, nanti tinggal pengadaan lagi. Bila sudah pakai trap ini, kita tinggal tidur saja nanti saringan jebakannya juga penuh sampah," ucapnya.
"Permasalahan sampah di kali harus disaring dari sejak awal, sehingga ketika sampai di pintu air, jumlahnya tidak menjadi terlalu signifikan," katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (25/7/2013).
Menurutnya, trap sampah ini akan dianggarkan jajarannya pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) apabila upaya mendatangkan alat berat tidak terealisasi hingga akhir tahun.
Sistem trap sampah nantinya juga mudah dioperasikan dan lebih murah ketimbang Saringan Sampah Otomatis (SSO) milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI.
"Saat ini ada 23 SSO di Jakarta yang efektivitasnya dipertanyakan. Alat SSO itu banyak yang rusak, daya angkut sampahnya juga tidak banyak, biaya operasionalnya juga tinggi, butuh solar dan listrik," jelasnya.
Budi menjelaskan, dana yang dihabiskan untuk satu unit SS0 mencapai belasan miliar rupiah. Perawatan alat tersebut juga sulit dan memakan biaya tinggi karena menggunakan motor dan mekanisme elektrik.
Sedangkan trap sampah yang tengah diwacanakan pihaknya hanya menggunakan sling atau kawat baja besar, jaring dan pelampung.
"Satu jebakan bisa menampung sampah hingga setengah meter kubik. Kemudian pada satu titik, kita bisa pasang enam hingga 20 jebakan, tergantung lebar kali," terangnya.
Anggaran yang dibutuhkan di satu titik jebakan sampah dengan lebar 30 meter, lanjut Budi, diperkirakan akan menelan biaya Rp100 hingga Rp200 juta. Melalui alat ini, penanganan sampah di kali diyakini bisa lebih efektif.
"Kita sudah mulai uji coba, nanti tinggal pengadaan lagi. Bila sudah pakai trap ini, kita tinggal tidur saja nanti saringan jebakannya juga penuh sampah," ucapnya.
(mhd)