Sekolah diminta tanggungjawab tewasnya Anindita
Selasa, 23 Juli 2013 - 10:10 WIB
Sekolah diminta tanggungjawab tewasnya Anindita
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Zainuddin mengecam pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) yang menewaskan salah seorang peserta bernama Anindita Puspita. Dia pun mendesak pihak SMK 1 Pandak, Bandul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bertanggungjawab atas kejadian tersebut.
"Sekolah dianggap bertanggung jawab jika terjadi peristiwa tindak kekerasan, apalagi jika terjadi penyiksaan yang mengakibatkan kematian pada peserta MOS," kata Zainudin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/7/2013).
"Semua ini, karena sekolah lalai telah membiarkan pelaksanaan kegiatan permulaan siswa baru tersebut sepenuhnya dilakukan oleh siswa senior di sekolah tanpa ada pengawasan dari sekolah," lanjutnya.
Dia pun menyayangkan, peristiwa tewasnya siswa saat mengikuti MOS kembali terjadi dan mendesak agar kegiatan tersebut dihapuskan.
"Kemendikbud ikut bertanggung jawab dengan adanya kajadian ini. Tidak ada alasan pemerintah untuk melanjutkan program MOS ini karena pendekatan yang digunakan selama ini adalah perpoloncoan, bukan lagi sebagai wadah orientasi siswa," tegasnya.
Menurutnya, jika pemerintah tetap menginginkan agar MOS tetap dilaksanakan, maka seharusnya pola pelaksanaan dan pendekatan MOS diubah.
"Apalagi MOS tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan, maka seharusnya pendekatan keimanan jauh lebih efektif untuk diterapkan pada siswa," imbuhnya.
Karena itu, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mendesak agar pemerintah dan sekolah dapat lebih tegas dalam menerapkan aturan dan pengawasan terhadap pelaksanaan MOS agar tindak kekerasan tidak terjadi lagi kedepannya.
"Terkait jika terdapat adanya tindak pidana dalam pelaksanaan MOS, maka pihak kepolisian harus bertindak tegas dalam mengusut kasus tersebut sesuai aturan hukum yang berlaku," pungkasnya.
"Sekolah dianggap bertanggung jawab jika terjadi peristiwa tindak kekerasan, apalagi jika terjadi penyiksaan yang mengakibatkan kematian pada peserta MOS," kata Zainudin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/7/2013).
"Semua ini, karena sekolah lalai telah membiarkan pelaksanaan kegiatan permulaan siswa baru tersebut sepenuhnya dilakukan oleh siswa senior di sekolah tanpa ada pengawasan dari sekolah," lanjutnya.
Dia pun menyayangkan, peristiwa tewasnya siswa saat mengikuti MOS kembali terjadi dan mendesak agar kegiatan tersebut dihapuskan.
"Kemendikbud ikut bertanggung jawab dengan adanya kajadian ini. Tidak ada alasan pemerintah untuk melanjutkan program MOS ini karena pendekatan yang digunakan selama ini adalah perpoloncoan, bukan lagi sebagai wadah orientasi siswa," tegasnya.
Menurutnya, jika pemerintah tetap menginginkan agar MOS tetap dilaksanakan, maka seharusnya pola pelaksanaan dan pendekatan MOS diubah.
"Apalagi MOS tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan, maka seharusnya pendekatan keimanan jauh lebih efektif untuk diterapkan pada siswa," imbuhnya.
Karena itu, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mendesak agar pemerintah dan sekolah dapat lebih tegas dalam menerapkan aturan dan pengawasan terhadap pelaksanaan MOS agar tindak kekerasan tidak terjadi lagi kedepannya.
"Terkait jika terdapat adanya tindak pidana dalam pelaksanaan MOS, maka pihak kepolisian harus bertindak tegas dalam mengusut kasus tersebut sesuai aturan hukum yang berlaku," pungkasnya.
(san)