Satu semester, 1.621 jiwa tewas kecelakaan di Jateng
Kamis, 11 Juli 2013 - 16:43 WIB
Satu semester, 1.621 jiwa tewas kecelakaan di Jateng
A
A
A
Sindonews.com - Korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Jawa Tengah masih tinggi. Semester pertama tahun ini, tercatat 1.621 tewas, 579 luka berat dan 12.275 orang luka ringan akibat kecelakaan lalu lintas.
Faktor manusia menjadi penyebab tertinggi kecelakaan itu, kurangnya kesadaran berlalu lintas. Sepeda motor menjadi kendaraan terbanyak terlibat kecelakaan di angka 10.473, lebih tinggi dari mobil beban di urutan ke dua dengan jumlah 1.922.
Berdasarkan data Polda Jawa Tengah pada semester I tahun ini, terjadi 9.342 kecelakaan. Dalam hitungan kalkulatif, kecelakaan ini mengundang kerugian materi hingga Rp10,18 miliar.
Baik jumlah kecelakaan maupun korban, memang mengalami penurunan dibanding semeseter II pada 2012. Saat itu, tercatat ada 11.637 kecelakaan dengan 1.839 korban meninggal, 1.886 luka berat dan 15.015 luka ringan.
Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Istu Hari Winarto, mengatakan hal yang tidak kalah penting untuk meminimalisir fatalitas korban adalah keterlibatan instansi kesehatan pasca terjadi kecelakaan.
"Keterlibatan dinas kesehatan ini, untuk mengurangi fatalitas. Jangan korban luka berat yang masuk rumah sakit, malah ditanya dulu siapa yang bertanggungjawab. Mestinya pasien datang, harus diterima dulu, dirawat untuk menyelamatkan," katanya Kamis (11/7/2013).
Penyebab tingginya kecelakaan, kata Istu, masyarakat kerap tidak patuh rambu-rambu dan melakukan pelanggaran lalu lintas lainnya. Pelanggaran rambu tercatat tertinggi dibanding pelanggaran kelengkapan kendaraan bermotor, kelengkapan surat hingga pelanggaran marka.
"Kondisi jalan dan kendaraan tentu berpengaruh, selain pola mengemudi si pengendara. Kami kedepankan preemtif melalui pendidikan tertib lalu lintas sejak dini, preventif dengan patroli hingga represif, penegakan hukum," tambahnya.
Untuk represif, kata Istu, tetap memerhatikan aspek pertimbangan. Misalnya; seorang ibu mengantar anak bersekolah pakai sepeda motor, tetapi anaknya tidak pakai helm.
"Itu akan lebih baik jika diingatkan, daripada proses lama, malah terlambat sekolah. Kalau pelanggaran tidak pakai helm, tapi naik motornya ngebut, zig zag, tentu kami tilang," jelasnya.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Djihartono mengimbau agar masyarakat patuh pada rambu-rambu ketika berkendara.
"Pelanggaran lalu lintas terbanyak itu pada jam-jam kerja. Rata-rata pelajar, mahasiwa hingga karyawan, menjadi pelaku pelanggaran lalu lintas hingga kecelakaan lalu lintas," tambahnya.
Faktor manusia menjadi penyebab tertinggi kecelakaan itu, kurangnya kesadaran berlalu lintas. Sepeda motor menjadi kendaraan terbanyak terlibat kecelakaan di angka 10.473, lebih tinggi dari mobil beban di urutan ke dua dengan jumlah 1.922.
Berdasarkan data Polda Jawa Tengah pada semester I tahun ini, terjadi 9.342 kecelakaan. Dalam hitungan kalkulatif, kecelakaan ini mengundang kerugian materi hingga Rp10,18 miliar.
Baik jumlah kecelakaan maupun korban, memang mengalami penurunan dibanding semeseter II pada 2012. Saat itu, tercatat ada 11.637 kecelakaan dengan 1.839 korban meninggal, 1.886 luka berat dan 15.015 luka ringan.
Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Istu Hari Winarto, mengatakan hal yang tidak kalah penting untuk meminimalisir fatalitas korban adalah keterlibatan instansi kesehatan pasca terjadi kecelakaan.
"Keterlibatan dinas kesehatan ini, untuk mengurangi fatalitas. Jangan korban luka berat yang masuk rumah sakit, malah ditanya dulu siapa yang bertanggungjawab. Mestinya pasien datang, harus diterima dulu, dirawat untuk menyelamatkan," katanya Kamis (11/7/2013).
Penyebab tingginya kecelakaan, kata Istu, masyarakat kerap tidak patuh rambu-rambu dan melakukan pelanggaran lalu lintas lainnya. Pelanggaran rambu tercatat tertinggi dibanding pelanggaran kelengkapan kendaraan bermotor, kelengkapan surat hingga pelanggaran marka.
"Kondisi jalan dan kendaraan tentu berpengaruh, selain pola mengemudi si pengendara. Kami kedepankan preemtif melalui pendidikan tertib lalu lintas sejak dini, preventif dengan patroli hingga represif, penegakan hukum," tambahnya.
Untuk represif, kata Istu, tetap memerhatikan aspek pertimbangan. Misalnya; seorang ibu mengantar anak bersekolah pakai sepeda motor, tetapi anaknya tidak pakai helm.
"Itu akan lebih baik jika diingatkan, daripada proses lama, malah terlambat sekolah. Kalau pelanggaran tidak pakai helm, tapi naik motornya ngebut, zig zag, tentu kami tilang," jelasnya.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Djihartono mengimbau agar masyarakat patuh pada rambu-rambu ketika berkendara.
"Pelanggaran lalu lintas terbanyak itu pada jam-jam kerja. Rata-rata pelajar, mahasiwa hingga karyawan, menjadi pelaku pelanggaran lalu lintas hingga kecelakaan lalu lintas," tambahnya.
(rsa)