Polda selidiki bocornya kunci jawaban UN
Senin, 08 April 2013 - 17:57 WIB
Polda selidiki bocornya kunci jawaban UN
A
A
A
Sindonews.com - Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah akan melakukan penyelidikan untuk menindaklanjuti informasi yang beredar tentang bocornya kunci jawaban soal Ujian Nasional (UN) SMA dan sederajat.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar (Polisi) Djihartono, mengatakan jika terbukti maka oknum pembocor kunci jawaban ujian soal UN itu bisa diproses pidana.
"Kami akan tindaklanjuti itu, informasi di Salatiga ada kebocoran kunci jawaban, kami akan tindaklanjuti dengan pihak sekolah, unsur pidananya bisa saja perusakan atau lainnya," ungkapnya saat ditemui, di Mapolda Jawa Tengah, Senin (8/4/2013).
Pihaknya, ujar Djihartono, tentu bekerjasama dengan pihak sekolah untk mengawal proses pelaksanaan ujian itu. Pengawalan ini mulai dari datangnya soal, pendistribusian, termasuk pengamanan penyimpanannya.
"Pengamanan di antaranya akan dilakukan dengan digembok beberapa kali, yang memegang kunci itu banyak, tidak bisa hanya satu orang yang membukanya, jadi memang sudah tersimpan sedemikian rupa, kalau ada bocoran jawaban kami tentu akan periksa itu," lanjutnya.
Di sisi lain, Djihartono berargumen, bocornya kunci jawaban UN, tentu berdampak tidak baik bagi dunia pendidikan.
"Kalau jawabannya bocor, tentu hasil ujian akan bagus, tapi kan tidak murni," lanjutnya.
Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah, Mahmud Mahfud, mengatakan sejauh ini soal-soal UN belum didistribusikan ke daerah-daerah.
"Jadi soal memang belum diambil, saya sudah cek ke beberapa daerah, termasuk Salatiga, untuk distribusi hingga pengamanan soal UN itu tentu melibatkan kepolisian," katanya saat dikonfirmasi.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mendukung langkah Polda yang langsung menindaklanjuti informasi tentang jual beli jawaban soal UN tersebut.
"Kalau benar seperti itu, tentu kriminal, tindak pidananya bisa membocorkan ataupun memalsukan," lanjutnya.
Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Hamidah Abdurrachman mengatakan Polda harus melakukan pengusutan terhadap kemungkinan bocornya kunci jawaban itu.
"Kalau memang soal belum sampai ke daerah, bisa juga itu ulah oknum-oknum tertentu untuk mencari keuntungan, kalau itu ternyata bukan naskah asli berarti ada pemalsuan juga," ungkapnya melalui pesan singkat BlackBerry Messenger (BBM) kepada KORAN SINDO.
Diberitakan sebelumnya, di Kota Salatiga marak beredar informasi kebocoran kunci jawaban dan diperjual belikan.
Kunci jawaban soal UN pada 15 - 18 April mendatang itu dijual dengan sistem berantai. Dari siswa ke siswa. Harganya Rp60ribu-Rp100ribu.
Beberapa siswa mengaku ditawari kunci jawaban oleh seseorang tak dikenal. Masing-masing kunci jawaban soal UN dijual bervariasi. Mulai termurah, Rp60ribu yaitu soal Bahasa Indonesia dan Rp100 untuk soal Matematika dan Bahasa Inggris.
Penjualan kunci jawaban soal UN itu diduga sudah terkoordinir dengan baik. Siswa yang bersedia membeli akan dikirimi jawaban melalui handphone.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar (Polisi) Djihartono, mengatakan jika terbukti maka oknum pembocor kunci jawaban ujian soal UN itu bisa diproses pidana.
"Kami akan tindaklanjuti itu, informasi di Salatiga ada kebocoran kunci jawaban, kami akan tindaklanjuti dengan pihak sekolah, unsur pidananya bisa saja perusakan atau lainnya," ungkapnya saat ditemui, di Mapolda Jawa Tengah, Senin (8/4/2013).
Pihaknya, ujar Djihartono, tentu bekerjasama dengan pihak sekolah untk mengawal proses pelaksanaan ujian itu. Pengawalan ini mulai dari datangnya soal, pendistribusian, termasuk pengamanan penyimpanannya.
"Pengamanan di antaranya akan dilakukan dengan digembok beberapa kali, yang memegang kunci itu banyak, tidak bisa hanya satu orang yang membukanya, jadi memang sudah tersimpan sedemikian rupa, kalau ada bocoran jawaban kami tentu akan periksa itu," lanjutnya.
Di sisi lain, Djihartono berargumen, bocornya kunci jawaban UN, tentu berdampak tidak baik bagi dunia pendidikan.
"Kalau jawabannya bocor, tentu hasil ujian akan bagus, tapi kan tidak murni," lanjutnya.
Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah, Mahmud Mahfud, mengatakan sejauh ini soal-soal UN belum didistribusikan ke daerah-daerah.
"Jadi soal memang belum diambil, saya sudah cek ke beberapa daerah, termasuk Salatiga, untuk distribusi hingga pengamanan soal UN itu tentu melibatkan kepolisian," katanya saat dikonfirmasi.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mendukung langkah Polda yang langsung menindaklanjuti informasi tentang jual beli jawaban soal UN tersebut.
"Kalau benar seperti itu, tentu kriminal, tindak pidananya bisa membocorkan ataupun memalsukan," lanjutnya.
Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Hamidah Abdurrachman mengatakan Polda harus melakukan pengusutan terhadap kemungkinan bocornya kunci jawaban itu.
"Kalau memang soal belum sampai ke daerah, bisa juga itu ulah oknum-oknum tertentu untuk mencari keuntungan, kalau itu ternyata bukan naskah asli berarti ada pemalsuan juga," ungkapnya melalui pesan singkat BlackBerry Messenger (BBM) kepada KORAN SINDO.
Diberitakan sebelumnya, di Kota Salatiga marak beredar informasi kebocoran kunci jawaban dan diperjual belikan.
Kunci jawaban soal UN pada 15 - 18 April mendatang itu dijual dengan sistem berantai. Dari siswa ke siswa. Harganya Rp60ribu-Rp100ribu.
Beberapa siswa mengaku ditawari kunci jawaban oleh seseorang tak dikenal. Masing-masing kunci jawaban soal UN dijual bervariasi. Mulai termurah, Rp60ribu yaitu soal Bahasa Indonesia dan Rp100 untuk soal Matematika dan Bahasa Inggris.
Penjualan kunci jawaban soal UN itu diduga sudah terkoordinir dengan baik. Siswa yang bersedia membeli akan dikirimi jawaban melalui handphone.
(rsa)