Tahun 2012 angka penculikan anak meningkat

Rabu, 26 Desember 2012 - 15:50 WIB
Tahun 2012 angka penculikan...
Tahun 2012 angka penculikan anak meningkat
A A A
Sindonews.com – Tahun 2012 merupakan tahun kelam bagi anak-anak Indonesia. Pasalnya, sejumlah kasus yang menjadikan anak-anak sebagai korban lebih banyak, jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Seperti angka kasus penculikan yang menimpa anak-anak. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan anak (Komnas PA), jumlah kasus penculikan terhadap anak-anak di DKI Jakarta sepanjang Tahun 2012 mencapai 143 kasus.

Angka tersebut lebih tinggi, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 137 kasus. Selain itu, anak yang rentan dengan aksi kekerasan dan belum mampu melindungi diri sendiri, merupakan objek mudah untuk menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh lingkungan keuarga, sekolah ataupun lingkungan rumah.

Tidak jarang sepanjang tahun 2012 ini, media cetak ataupun elektronik memberitakan aksi kekerasan, yang korbannya anak-anak. Baik kekerasan psikis, seksual hingga kasus mutilasi yang korbannya anak-anak.

"Setiap tahun kasus penculikan terus meningkat, karena pelaku tindakan ini memiliki macam-macam cara untuk menculik anak-anak," ujar Arist Merdeka Sirait Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, saat ditemui di Kantornya, Jalan TB Simatupang belum lama ini.

Penculikan Terhadap Anak :

Data Komnas PA menyebutkan, motif penculikan yang dilatarbelakangi oleh dendam hanya mencapai 1.40 persen atau dua kasus. Sedangkan, motif ekonomi yang meminta tebusan mencapai 81,82 persen atau 117 kasus.

Motif karena persoalan keluarga hanya mencapai 1,40 persen dengan dua kasus. Menjadikan anak sebagai eksploitasi ekonomi mencapai 15,38 persen atau 22 kasus.

Dari 143 kasus penculikan anak, terjadi di beberapa lokasi yang tidak jauh dengan lingkungan anak-anak. Seperti lingkungan keluarga yang mencapai 12 kasus atau 8,39 persen anak yang diculik di dekat keluarganya.

Lingkungan yang juga akrab dengan anak seperti sekolah mencapai peringkat kedua, lokasi rawan penculikan yang mencapai 15 kasus atau 10,49 persen. Dan paling paling tinggi, lokasi sosial mencapai 116 kasus dengan 81,12 persen.

"Anak-anak yang diculik biasanya diekploitasi untuk mendapatkan uang. Ada yang di jual, dijadikan pengemis dan bahkan diekploitasi secara seksual. Ini sangat tidak manusiawi," kata pria berjenggot ini.

Dari 143 kasus penculikan, 123 kasus atau 86,01 persen selamat, 19 kasus atau 13,29 persen belum ditemukan dan yang meninggal akibat kasus penculikan mencapai 1 kasus atau 0,70 persen.

Kendati selamat dari aksi penculikan, dampak trauma terhadap anak bisa saja terjadi. Anak-anak korban penculikan, biasanya lebih takut bertemu orang asing, jika dibandingkan dengan anak-anak normal lainnya. Karena, secara sadar anak korban penculikan merekan peristiwa yang dialaminya.

“Perlu adanya penanganan khusus bagi anak korban penculikan, sehingga bisa memiliki keberanian berintreraksi dengan orang lain,” katanya.

Usia 0-5 tahun angka rawan penculikan

Rendahnya pengamana di ruang bersalin dan lemahnya kondisi balita usia 0-5 tahun, rupanya dimanfaatkan oleh sindikat penculikan bayi, untuk menjadi sasaran empuk dalam menjalankan aksi penculikan.

Berdasarkan data dari Komnas PA, kasus penculikan yang melibatkan balita usia 0-5 tahun mencapai 111 kasus atau 81,02 kasus. Untuk usia 6-17 tahun mencapai 7 kasus atau 5,11 persen. Sedangkan usia 13-17 tahun mencapai 19 kasus atau 13,87 persen.

Adapun kasus yang menelantarkan balita usia 0-5 tahun mencapai 63 kasus atau 98,44 kasus. Untuk usia 6-17 tahun mencapai 1 kasus atau 1,56 persen. Sedangkan usia 13-17 tahun tidak ditemukan kasus penelantaran.

Terkait jenis kelamin, balita laki-laki yang menjadi korban penculikan lebih banyak jika dibandingkan dengan balita berjenis kelamin perempuan.

Untuk balita laki-laki yang menjadi korban penculikan mencapai 72 kasus atau 52,55 persen. Sedangkan penelantaran mencapai 99 kasus atau 53,23 persen.

“Jumlah kasus penculikan terhadap balita perempuan mencapai 65 kasus dengan 47,45 persen. Sedangkan, penelantaran mencapai 87 kasus, dengan 46,77 persen,” terang Arist Merdeka Sirait.

Pelaku penculikan didominasi orang terdekat korban

Dari penelusuran komisi Nasional Perlindungan Anak, 48 kasus penculikan dilakukan oleh sindikat penculikan anak, 3 dilakukan oleh teman.

Sementara penculikan oleh orang tidak dikenal ada 92 kasus. Menurut Ketua Komisi Nasional Perindungan Anak Arist Merdeka Sirait, pelaku penculikan saat ini bisa terjadi dimana saja. Bahkan, sindikat penculikan anak sudah masuk ke sekolah, rumah dan tempat publik untuk mencari target korbannya. biasanya

"Mereka biasanya mencari korban di lingkungan perumahan , sekolah dan tempat publik yang memberi ruang untuk beraksi,"ujarnya saat ditemui Sindonews.com.

Dari data yang diberikan Komisi Nasional Perlindungan Anak, dari 143 total kasus penculikan, korban yang selamat dan berhasil ditemukan 123 orang. Sedangkan, yang belum ditemukan 19 orang. Sementara yang meninggal 1 orang.

"Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena banyaknya kasus penculikan yang telah merambah kehidupan harian kita. Karena itu antisipasi dari orang tua, pengasuh atau pihak-pihak yang memiliki tanggungjawab untuk anak-anak kita perlu ditingkatkan," ujarnya.

Pihak Komnas anak sendiri terus melakukan kerja sama, dengan berbagai pihak khususnya Kepolisian, agar terus mengungkap berbagai kasus yang berhubungan dengan penculikan tersebut.

1075 kasus kekerasan seksual dominasi pada anak

Korban kekerasan terhadap anak dalam kurun waktu setahun berjumlah 1657 kasus kekerasan. Dengan rincian kekerasan fisik 819 orang, kekerasan seksual 1075 orang dan kekerasan psikis 743 orang.

Kasus kekerasan yang terjadi pada anak sangat mencengangkan, karena didominasi oleh kekerasan seksual yang menembus 1075 kasus, yang menimpa perempuan 834 kasus sementara laki-laki 241 kasus.

"Ini sangat mencengangkan dan membuat saya terpukul. Mengapa kekerasan pada anak terus terjadi, apalagi jumlah kekerasan ini didominasi oleh kekerasan seksual," ujar Arist Merdeka Sirait, saat ditemui di Komnas Perlindungan Anak, Jalan TB Simatupang.

Ia menuturkan, kekerasan yang terus meningkat karena terjadinya sebuah perilaku penyimpangan yang saat ini kerap terjadi. Akibat persoalan ekonomi, sikap emosional pelaku yang kadang berlebihan membuat anak-anak menjadi korban.

"Ini akibat dari banyaknya persoalan yang tidak pernah diselesaikan, seperti persoalan ekonomi, sikap emosional pelaku yang berlebihan berdampak pada kekerasan pada anak," ujarnya.

Akibat dari kekerasan terhadap anak, lanjutnya, akan membawa dampak buruk bagi perkembangan mereka. Karena mereka akan kehilangan kepercayaan pada semua orang.

"Ini sangat berbahaya bagi anak, jika tidak percaya kepada siapa-siapa lagi," imbuhnya.

Kekerasan anak dilakukan orang terdekat mereka

Kekerasan pada anak, umumnya dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka. Hal ini sangat miris, karena dari data Komnas Perlindungan anak, 118 kasus kekerasan Tahun 2012 ini dilakukan oleh orang tua kandung.

"Sangat disayangkan orang-orang dekat yang melakukan aksi kekerasan pada mereka," jelas Aris Merdeka Sirait.

Selain itu, orang-orang terdekat yang berpotensi melakukan kekerasan pada anak, karena mereka yang paling dekat pada mereka.

Tapi tidak menutup kemungkinan banyak kejadian kekerasan, yang tidak kita ketahui justru lebih menyakitkan anak-anak kita.

"Tidak menutup kemungkinan, ada lebih banyak kejadian kekerasan yang terjadi pada anak-anak kita, seperti berapa banyak anak yang terbuang di jalan dan masalah itu tidak pernah selesai," ujarnya.

Melihat dampak ikutan yang akan berpengaruh pada anak, Arist berharap akan ada solusi yang datang tidak hanya dari Komnas Perlindungan anak, tetapi semua pemangku kepentingan dapat bersinergi dalam memberi kebijakan yang tepat, dalam mengatasi masalah kekerasan pada anak.

“Perlu ada kerjasama yang baik antara pemerintah, Komnas Perlindungan Anak, masyarakat, sekolah dan lingkungan lainnya yang berkaitan dengan anak-anak,” imbuhnya.
(stb)
Berita Terkait
Kaleidoskop 2022: Peristiwa...
Kaleidoskop 2022: Peristiwa dan Tren Terbesar di Dunia Teknologi Sepanjang Tahun Ini
Kaleidoskop Tekno: Daftar...
Kaleidoskop Tekno: Daftar HP Terbaik yang Rilis selama 2022
5 Kasus Besar dan Disorot...
5 Kasus Besar dan Disorot Publik Ditangani Kejagung dari Asabri hingga Valencya
7 Sosok yang Naik Daun...
7 Sosok yang Naik Daun Jadi Artis di Tahun 2021
Kaleidoskop Sains: 5...
Kaleidoskop Sains: 5 Badai Matahari yang Mengejutkan Tahun 2022
Deretan Artis yang Terjerat...
Deretan Artis yang Terjerat Narkoba Sepanjang 2021
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
1 jam yang lalu
Diserahkan Polda Metro...
Diserahkan Polda Metro Jaya ke Kejati Banten, Richard Lee Segera Jalani Sidang
1 jam yang lalu
Pra SPMB 2026 Dibuka,...
Pra SPMB 2026 Dibuka, Pemkot Tangsel Siapkan 9.976 Kuota untuk SMP Negeri
1 jam yang lalu
Kolaborasi Kemanusiaan,...
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
1 jam yang lalu
Perkuat Literasi Keuangan...
Perkuat Literasi Keuangan untuk Guru dan Tenaga Pendidik, MNC Sekuritas Gelar Edukasi Pasar Modal di SMAN 46 Jakarta
3 jam yang lalu
Membuka Peluang Mandiri:...
Membuka Peluang Mandiri: Pemuda Disabilitas Karawang Dibekali Keterampilan Cetak Sablon
3 jam yang lalu
Infografis
22 Tahun Mangkrak, 109...
22 Tahun Mangkrak, 109 Tiang Monorel di Jakarta Dibongkar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved