Tahun ini, 287 orang tewas kecelakaan di Sidoarjo
Rabu, 19 Desember 2012 - 15:45 WIB
Tahun ini, 287 orang tewas kecelakaan di Sidoarjo
A
A
A
Sindonews.com - Angka kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polres Sidoarjo tahun ini dinyatakan meningkat dua kali lipat. Berdasarkan data, salah satu penyebab meningkatnya angka kecelakaan tersebut dikarenakan membludaknya kepemilikan kendaraan bermotor (ranmor).
Menurut data yang diperoleh dari Satuan Lantas (Satlantas) Polres Sidoarjo, selama tahun 2012 ada sebanyak 1.280 kasus Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas). Dari data tersebut, disebutkan 287 korban meninggal dunia, 74 korban luka berat dan 1.483 luka ringan dengan kerugian material sekira Rp1,3 miliar.
Sedangkan untuk kasus kecelakaan selama tahun 2011 lebih sedikit atau sebanyak 539 kasus lakalantas. Rinciannya, sebanyak 172 korban meninggal dunia, 102 luka berat, 539 luka ringan dan kerugian material Rp687.470.000.
Kasat Lantas Polres Sidoarjo AKP Fahri Anggia Natua Siregar mengatakan, bila dilihat dari jumlah kasus kecelakaan, tahun 2012 memang ada peningkatan. Salah satu faktor penyebabnya karena pertumbuhan ranmor dan penduduk di Sidoarjo.
"Tingkat kecelakaan itu bisa dilihat dari jumlah kendaraan dan penduduknya. Kita bandingkan dengan daerah yang penduduknya sedikit dan pertumbuhan kendaraannya sedikit, tentu kasus kecelakaannya juga sedikit," papar Fahri usai membuka simulasi tindakan penanganan Lakalantas yang digelar, di Parkir Timur GOR Delta Sidoarjo, Rabu (19/12/2012).
Pertumbuhan kendaraan di Sidoarjo, lanjut Fahri cukup signifikan. Bahkan, setiap bulannya ada sekira 7.000 kendaraan baru, baik roda dua maupun roda empat. Jika dikalkulasikan dalam setahun, di Sidoarjo penambahan kendaraan mencapai 100 ribu unit.
"Melihat jumlah kendaraan begitu banyak, jadi tingkat kecelakaan juga meningkat," tegas Fahri.
Untuk menurunkan tingkat kecelakaan, beberapa upaya sudah dilakukan Satlantas Polres Sidoarjo. Diantaranya menggandeng pelajar dan mahasiswa untuk sosialisasi dan kampanye tertib lalu lintas. Selain itu, Satlantas juga menggandeng sopir angkutan umum agar tertib berkendara.
"Untuk sopir angkutan kita sudah deklarasikan ikrar tertib berlalulintas," ucap Fahri.
Menurut Fahri, kawasan yang rawan terjadi kecelakaan, diantaranya jalur Surabaya-Mojokerto. Seperti di kawasan Trosobo, Taman, Balongbendo sampai Tarik. Kawasan itu terkenal dengan jalur terngkorak.
Sedangkan di dalam kota, kawasan Jalan Lingkar Timur kerap terjadi kecelakaan. Bahkan, dalam sebulan dari data yang ada minimal ada dua kasus kecelakaan di Jalan Lingkar Timur yang menghubungkan Gedangan ke Candi tersebut.
Semnetara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo HM Husni Thamrin mengakui, pertumbuhan kendaraan di Sidoarjo cukup besar. Untuk menekan angka kecemacetan dan kecelakaan di Sidoarjo, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satlantas untuk melakukan survei jalan dan rambu lalu lintas.
"Kalau ada rambu yang kurang akan kita tambah," jelasnya.
Bukan hanya itu, mulai Januari 2013 Dishub akan memberlakukan pengaturan jam kerja. Untuk pegawai swasta masuk pukul 07.30 WIB, Pegawai Negeri Sipil (PNS) masuk pukul 08.00 WIB, dan anak sekolah pukul 06.30 WIB.
Menurut Husni Thamrin, pemberlakukan jam kerja itu akan dituangkan dalam Peraturan Bupati (Perbup).
"Surabaya sudah memberlakukan itu. Jadi Sidoarjo tinggal menyinkronkan saja. Kebijakan itu akan segera kita sosialisasikan," pungkasnya.
Menurut data yang diperoleh dari Satuan Lantas (Satlantas) Polres Sidoarjo, selama tahun 2012 ada sebanyak 1.280 kasus Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas). Dari data tersebut, disebutkan 287 korban meninggal dunia, 74 korban luka berat dan 1.483 luka ringan dengan kerugian material sekira Rp1,3 miliar.
Sedangkan untuk kasus kecelakaan selama tahun 2011 lebih sedikit atau sebanyak 539 kasus lakalantas. Rinciannya, sebanyak 172 korban meninggal dunia, 102 luka berat, 539 luka ringan dan kerugian material Rp687.470.000.
Kasat Lantas Polres Sidoarjo AKP Fahri Anggia Natua Siregar mengatakan, bila dilihat dari jumlah kasus kecelakaan, tahun 2012 memang ada peningkatan. Salah satu faktor penyebabnya karena pertumbuhan ranmor dan penduduk di Sidoarjo.
"Tingkat kecelakaan itu bisa dilihat dari jumlah kendaraan dan penduduknya. Kita bandingkan dengan daerah yang penduduknya sedikit dan pertumbuhan kendaraannya sedikit, tentu kasus kecelakaannya juga sedikit," papar Fahri usai membuka simulasi tindakan penanganan Lakalantas yang digelar, di Parkir Timur GOR Delta Sidoarjo, Rabu (19/12/2012).
Pertumbuhan kendaraan di Sidoarjo, lanjut Fahri cukup signifikan. Bahkan, setiap bulannya ada sekira 7.000 kendaraan baru, baik roda dua maupun roda empat. Jika dikalkulasikan dalam setahun, di Sidoarjo penambahan kendaraan mencapai 100 ribu unit.
"Melihat jumlah kendaraan begitu banyak, jadi tingkat kecelakaan juga meningkat," tegas Fahri.
Untuk menurunkan tingkat kecelakaan, beberapa upaya sudah dilakukan Satlantas Polres Sidoarjo. Diantaranya menggandeng pelajar dan mahasiswa untuk sosialisasi dan kampanye tertib lalu lintas. Selain itu, Satlantas juga menggandeng sopir angkutan umum agar tertib berkendara.
"Untuk sopir angkutan kita sudah deklarasikan ikrar tertib berlalulintas," ucap Fahri.
Menurut Fahri, kawasan yang rawan terjadi kecelakaan, diantaranya jalur Surabaya-Mojokerto. Seperti di kawasan Trosobo, Taman, Balongbendo sampai Tarik. Kawasan itu terkenal dengan jalur terngkorak.
Sedangkan di dalam kota, kawasan Jalan Lingkar Timur kerap terjadi kecelakaan. Bahkan, dalam sebulan dari data yang ada minimal ada dua kasus kecelakaan di Jalan Lingkar Timur yang menghubungkan Gedangan ke Candi tersebut.
Semnetara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo HM Husni Thamrin mengakui, pertumbuhan kendaraan di Sidoarjo cukup besar. Untuk menekan angka kecemacetan dan kecelakaan di Sidoarjo, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satlantas untuk melakukan survei jalan dan rambu lalu lintas.
"Kalau ada rambu yang kurang akan kita tambah," jelasnya.
Bukan hanya itu, mulai Januari 2013 Dishub akan memberlakukan pengaturan jam kerja. Untuk pegawai swasta masuk pukul 07.30 WIB, Pegawai Negeri Sipil (PNS) masuk pukul 08.00 WIB, dan anak sekolah pukul 06.30 WIB.
Menurut Husni Thamrin, pemberlakukan jam kerja itu akan dituangkan dalam Peraturan Bupati (Perbup).
"Surabaya sudah memberlakukan itu. Jadi Sidoarjo tinggal menyinkronkan saja. Kebijakan itu akan segera kita sosialisasikan," pungkasnya.
(rsa)