3 langkah atasi banjir di Jakarta
Senin, 26 November 2012 - 10:37 WIB
3 langkah atasi banjir di Jakarta
A
A
A
Sindonews.com - Salah satu dampak negatif dari salahnya tata ruang di Jakarta adalah banjir. Kawasan yang sebagaimana berfungsi sebagai daerah resapan air, kini banyak dialih fungsi menjadi perumahan.
Selain itu, unsur 30% kota adalah ruang terbuka hijau, dan 5% ruang terbuka biru, masih jauh dari harapan. Namun, ada tiga upaya atau konsep untuk menanggulangi permasalahan krusial di ibu kota ini.
Pakar lingkungan Nirwono Yoga mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah, revitalisasi saluran air dengan menggunakan konsep eco drainase, yaitu saat musim hujan, air tidak dibuang secara langsung ke laut, melainkan ke tanah.
"Agar diserap oleh tanah dan menjadi cadangan air di musim kemarau," ujar Yoga usai menghadiri siaran Sindo Radio, MNC Tower, Jakarta, Senin (26/11/2012).
Kedua, revitalisasi saluran air seperti kali, situ, dan danau. Artinya, pemerintah dilarang membangun waduk atau saluran air yang baru, selain melainkan mengoptimalkan fungsi tersebut. Pasalnya, masih ada sekitar 50% saluran air yang masih belum optimal.
"Kita tahu, (waduk, kali, dan situ) yang baru berfungsi itu sekitar 47%, masih ada sekitar 50% yang belum optimal. Daripada memikirkan membangun waduk baru. Ini kan lebih kepada project oriented," tambahnya.
Langkah ketiga, mengembalikan fungsi tata ruang Jakarta. Yaitu, banyaknya kawasan resapan air seperti di bantaran kali yang saat ini telah menjadi hunian segera dibebaskan.
"Kita tahu banjir di Jakarta merupakan daerah peruntukan kawasan resapan air, mulai dari tepi sungai, situ yang diuruk yang menjadi perumahan. Sekarang, mau enggak pemerintah melepas mata rantai tersebut," terangnya.
Selain itu, unsur 30% kota adalah ruang terbuka hijau, dan 5% ruang terbuka biru, masih jauh dari harapan. Namun, ada tiga upaya atau konsep untuk menanggulangi permasalahan krusial di ibu kota ini.
Pakar lingkungan Nirwono Yoga mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah, revitalisasi saluran air dengan menggunakan konsep eco drainase, yaitu saat musim hujan, air tidak dibuang secara langsung ke laut, melainkan ke tanah.
"Agar diserap oleh tanah dan menjadi cadangan air di musim kemarau," ujar Yoga usai menghadiri siaran Sindo Radio, MNC Tower, Jakarta, Senin (26/11/2012).
Kedua, revitalisasi saluran air seperti kali, situ, dan danau. Artinya, pemerintah dilarang membangun waduk atau saluran air yang baru, selain melainkan mengoptimalkan fungsi tersebut. Pasalnya, masih ada sekitar 50% saluran air yang masih belum optimal.
"Kita tahu, (waduk, kali, dan situ) yang baru berfungsi itu sekitar 47%, masih ada sekitar 50% yang belum optimal. Daripada memikirkan membangun waduk baru. Ini kan lebih kepada project oriented," tambahnya.
Langkah ketiga, mengembalikan fungsi tata ruang Jakarta. Yaitu, banyaknya kawasan resapan air seperti di bantaran kali yang saat ini telah menjadi hunian segera dibebaskan.
"Kita tahu banjir di Jakarta merupakan daerah peruntukan kawasan resapan air, mulai dari tepi sungai, situ yang diuruk yang menjadi perumahan. Sekarang, mau enggak pemerintah melepas mata rantai tersebut," terangnya.
(san)