Daerah pinggiran kota krisis air bersih
Selasa, 02 Oktober 2012 - 22:00 WIB
Daerah pinggiran kota krisis air bersih
A
A
A
Sindonews.com - Daerah Pinggiran Kota Sengkang, seperti Kelurahan Atakkae Kecamatan Tempe dan Desa Assorajang Kecamatan Tanasitolo mulai mengalami krisis air bersih sejak satu pekan terakhir. Warga mulai mengeluhkan kurangnya air bersih di daerah mereka.
"Sudah sekitar satun pekan kami kekurangan air bersih, sejak sungai radiagani mengalami pendangkalan," kata Warga Empagae Desa Assorajang Agusalim menjelaskan, Selasa (2/10/2012).
Dia menjelaskan, sungai radiagani merupakan sumber air bagi masyarakat Empagae dan khususnya bagian timur Desa Assorajang, namun dengan surutnya air sungai akibat kemarau di daerah tersebut, perusahaan air swasta milik warga tidak lagi bisa mensuplai ke rumah warga.
"Ini di karenakan mesin pompa sudah tidak bisa lagi mengisap air yang terlalu sedikit," katanya.
Karena kekurangan air, warga kemudian beromohon ke dinas Sosial, tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Wajo untuk bantuan air bersih karena menurut warga sudah tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan.
"Kemarin kami sudah menerima bantuan air bersih dua tangki dari Dinas Sosial, kami mengusulkan hal ini karena sudah tidak ada upaya yang bisa dilakukan," katanya.
Direktur PDAM Kabupaten Wajo Fahruddin, mengakua daerah pinggiran kota sudah mulai krisis air bersih. Untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya mensuplai air dengan menggunakan mobil tanki sesuai dengan permintaan masyarakat.
"Atakkae dan Empagae memang rawan krisis air jika terjadi musim kemarau," katanya.
Kendati demikian, kemarau yang terjadi di Kabupaten Wajo hingga saat ini belum mempengaruhi produksi PDAM 110 liter perdetik, meski belum berpengaruh pihak PDAM merasa khawatir jika tidak ada hujan dalam satu bulan kedepan maka kearau yang terjadi saat ini di pastikan akan memepngaruhi produksi PDAM.
"Turunnnya debit air sungan cenranae sebagai sumber air kita belum begitu berpengaruh pada produksi air, kecuali kalau debit air sungai turun lagi sekitar sekitar meter, maka tentu akan berpengarus pada produksi, tapi untuk saat ini belum," kata direktur PDAM Wajo Fahruddin.
Begitupun dengan kwalitas air, katanya, hingga saat ini beelum berubah, yang artinya air yang disuplai ke rumah-rumah pelanggan PDAM masih jernih.
"Mudah-mudahan kondisi debit air disungai walennae tetap bertahan seperti itu, karena kalau turun lagi maka tentu akan akan menyulitkan pengoprasian mengingat air sudah bercampur dengan tanah yang disebabkan tingginya aktifitas disepanjang sungai sampai danau tempe," katanya.
"Sudah sekitar satun pekan kami kekurangan air bersih, sejak sungai radiagani mengalami pendangkalan," kata Warga Empagae Desa Assorajang Agusalim menjelaskan, Selasa (2/10/2012).
Dia menjelaskan, sungai radiagani merupakan sumber air bagi masyarakat Empagae dan khususnya bagian timur Desa Assorajang, namun dengan surutnya air sungai akibat kemarau di daerah tersebut, perusahaan air swasta milik warga tidak lagi bisa mensuplai ke rumah warga.
"Ini di karenakan mesin pompa sudah tidak bisa lagi mengisap air yang terlalu sedikit," katanya.
Karena kekurangan air, warga kemudian beromohon ke dinas Sosial, tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Wajo untuk bantuan air bersih karena menurut warga sudah tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan.
"Kemarin kami sudah menerima bantuan air bersih dua tangki dari Dinas Sosial, kami mengusulkan hal ini karena sudah tidak ada upaya yang bisa dilakukan," katanya.
Direktur PDAM Kabupaten Wajo Fahruddin, mengakua daerah pinggiran kota sudah mulai krisis air bersih. Untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya mensuplai air dengan menggunakan mobil tanki sesuai dengan permintaan masyarakat.
"Atakkae dan Empagae memang rawan krisis air jika terjadi musim kemarau," katanya.
Kendati demikian, kemarau yang terjadi di Kabupaten Wajo hingga saat ini belum mempengaruhi produksi PDAM 110 liter perdetik, meski belum berpengaruh pihak PDAM merasa khawatir jika tidak ada hujan dalam satu bulan kedepan maka kearau yang terjadi saat ini di pastikan akan memepngaruhi produksi PDAM.
"Turunnnya debit air sungan cenranae sebagai sumber air kita belum begitu berpengaruh pada produksi air, kecuali kalau debit air sungai turun lagi sekitar sekitar meter, maka tentu akan berpengarus pada produksi, tapi untuk saat ini belum," kata direktur PDAM Wajo Fahruddin.
Begitupun dengan kwalitas air, katanya, hingga saat ini beelum berubah, yang artinya air yang disuplai ke rumah-rumah pelanggan PDAM masih jernih.
"Mudah-mudahan kondisi debit air disungai walennae tetap bertahan seperti itu, karena kalau turun lagi maka tentu akan akan menyulitkan pengoprasian mengingat air sudah bercampur dengan tanah yang disebabkan tingginya aktifitas disepanjang sungai sampai danau tempe," katanya.
(azh)