Redam tawuran, Kemendikbud siapkan solusi jangka menengah
Sabtu, 29 September 2012 - 04:40 WIB
Redam tawuran, Kemendikbud siapkan solusi jangka menengah
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah mempersiapkan solusi jangka menengah terkait tawuran yang semakin marak. Solusi jangka menengah ini untuk meredam aksi tawuran yang sudah menjadi tradisi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6 dan 70.
Dirjen Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikmen Kemendikbud) Hamid Muhammad mengatakan, solusi jangka menengah yang direkomendasikan pada pertemuan kemarin ialah perlu penguatan pendidikan karakter oleh kepala sekolah dan guru.
Dia tidak meminta pendidikan karakter masuk dalam semua mata pelajaran namun diperlukan kepedulian dari para guru jika melihat ketidakdisiplinan pada sang anak maka harus segera ditegur. Teguran itupun tidak perlu menunggu bimbingan dari wali kelas, guru agama atau guru Bimbingan Penyuluh (BP) karena pemerintah menginginkan jangan terjadi pembiaran yang dapat memupuk tradisi kekerasan dikedua sekolah tersebut.
Kegiatan ekstrakurikuler juga harus diperkuat untuk memfasilitasi anak agar dapat mengekspresikan diri. Dirjen juga meminta kedua sekolah untuk membuat kegiatan bersama sebagai salah satu cara untuk memperpendek sekat perbedaan antara keduanya. Konsolidasi dari para alumni juga harus berperan serta untuk membimbing para yuniornya dengan pendekatan informal. Dia juga meminta ada penataan lingkungan sekolah agar tidak terlihat kumuh seperti yang terlihat kini.
Ketua Gabungan Alumni SMAN 70 dan SMAN 6 Jakarta Alex Asmasoebrata setuju bila pos terpadu itu diaktifkan untuk mengawasi kehadiran sekolah saat masuk dan pulang sekolah. Dia juga meminta kegiatan ekstrakurikuler lebih ditingkatkan agar anak tidak berkeliaran di jalan.
“Polisi ngapain aja kerjanya. Seharusnya mereka lebih mampu mengawasi karena mappingnya pun sudah jelas. Saya bukan menyalahi tapi kenapa polisi tidak pernah menanggapi padahal teknologi mereka pun hebat. Teroris aja mereka sikat karena ada Densus 88. Lalu Pemprov DKI pun ada 9.000 Satpol PP, mereka ngapain aja,” ungkap Alex, Jumat 28 September 2012.
Alumni SMAN 6 Atik meminta Gelanggan Remaja Bulungan untuk dioptimalkan menjadi sarana kegiatan olahraga dan kesenian. Dia juga menganjurkan para alumni untuk intensif datang ke kedua sekolah untuk memberikan pendekatan kepada para yuniorna sehingga menjamin tidak terjadi lagi kasus tawuran.
Ketua Komite SMAN 70 Ricky Agusyadi berpendapat kasus tawuran kemarin menjadi momentum yang bagus bagi pemerintah untuk menurunkan dana untuk membantu kegiatan ekstrakurikuler yang sudah ada.
“Seperti ekskul boxing meskipun tidak ada ring namun tetap berjalan hanya dengan samsak tinju saja,” ungkapnya.
Dirjen Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikmen Kemendikbud) Hamid Muhammad mengatakan, solusi jangka menengah yang direkomendasikan pada pertemuan kemarin ialah perlu penguatan pendidikan karakter oleh kepala sekolah dan guru.
Dia tidak meminta pendidikan karakter masuk dalam semua mata pelajaran namun diperlukan kepedulian dari para guru jika melihat ketidakdisiplinan pada sang anak maka harus segera ditegur. Teguran itupun tidak perlu menunggu bimbingan dari wali kelas, guru agama atau guru Bimbingan Penyuluh (BP) karena pemerintah menginginkan jangan terjadi pembiaran yang dapat memupuk tradisi kekerasan dikedua sekolah tersebut.
Kegiatan ekstrakurikuler juga harus diperkuat untuk memfasilitasi anak agar dapat mengekspresikan diri. Dirjen juga meminta kedua sekolah untuk membuat kegiatan bersama sebagai salah satu cara untuk memperpendek sekat perbedaan antara keduanya. Konsolidasi dari para alumni juga harus berperan serta untuk membimbing para yuniornya dengan pendekatan informal. Dia juga meminta ada penataan lingkungan sekolah agar tidak terlihat kumuh seperti yang terlihat kini.
Ketua Gabungan Alumni SMAN 70 dan SMAN 6 Jakarta Alex Asmasoebrata setuju bila pos terpadu itu diaktifkan untuk mengawasi kehadiran sekolah saat masuk dan pulang sekolah. Dia juga meminta kegiatan ekstrakurikuler lebih ditingkatkan agar anak tidak berkeliaran di jalan.
“Polisi ngapain aja kerjanya. Seharusnya mereka lebih mampu mengawasi karena mappingnya pun sudah jelas. Saya bukan menyalahi tapi kenapa polisi tidak pernah menanggapi padahal teknologi mereka pun hebat. Teroris aja mereka sikat karena ada Densus 88. Lalu Pemprov DKI pun ada 9.000 Satpol PP, mereka ngapain aja,” ungkap Alex, Jumat 28 September 2012.
Alumni SMAN 6 Atik meminta Gelanggan Remaja Bulungan untuk dioptimalkan menjadi sarana kegiatan olahraga dan kesenian. Dia juga menganjurkan para alumni untuk intensif datang ke kedua sekolah untuk memberikan pendekatan kepada para yuniorna sehingga menjamin tidak terjadi lagi kasus tawuran.
Ketua Komite SMAN 70 Ricky Agusyadi berpendapat kasus tawuran kemarin menjadi momentum yang bagus bagi pemerintah untuk menurunkan dana untuk membantu kegiatan ekstrakurikuler yang sudah ada.
“Seperti ekskul boxing meskipun tidak ada ring namun tetap berjalan hanya dengan samsak tinju saja,” ungkapnya.
(azh)