Sistem pendidikan harus diperbaiki
Jum'at, 28 September 2012 - 06:50 WIB
Sistem pendidikan harus diperbaiki
A
A
A
Sindonews.com - Tawuran antar pelajar semakin marak terjadi di ibu kota ini disebabkan oleh sistem pendidikan yang diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kurang tepat.
Sistem pendidikan yang ada sekarang ini terkesan hanya menekankan aspek kognitif dengan mengejar nilai ujian saja, tanpa memperhatikan pembentukan karakter siswa.
Karena itu menurut pengamat pendidikan Arief Rahman, sekolah dan pemerintah sebaiknya segera mengubah kesalahan dalam sistem pendidikan tersebut. "Sistem pendidikan di sinilah menurut pendapat saya, perlu dikaji dan diteliti kembali," tuturnya kepada Sindonews, Jumat (28/9/2012).
Selain melakukan perubahan kurikulum yang menguatkan aspek pembentukan karakter siswa yang cerdas intelektual, cerdas emosional dan cerdas spiritual di sini pihak sekolah dituntut sebagai pelayan bagi siswanya dalam menyalurkan segala aspirasi dan tidak melulu kegiatan akademis.
"Karena ini anak muda mereka memerlukan sebuah pelayanan agar jati diri mereka tersalur secara positif. Pelajaran itu juga jangan terlalu ditekankan hanya pada kegiatan akademis yang mengunggulkan otak saja tapi hati juga harus dilayani. Perasaan juga harus dilayani," usulnya.
Selanjutnya, tiap-tiap sekolah dituntut untuk serius menjalankan sistem pendidikan tersebut. Manajemen di sekolah harus berjalan dengan baik.
Peraturan harus diberlakukan secara tegas tanpa kompromi. Jika tidak, maka kejadian serupa akan terjadi berulang-ulang dan menimbulkan korban jiwa.
"Pihak sekolah juga harus bisa mengidentifikasi anak didiknya yang terlibat dalam tawuran apalgi brtindak anarkis," imbuhnya.
Sistem pendidikan yang ada sekarang ini terkesan hanya menekankan aspek kognitif dengan mengejar nilai ujian saja, tanpa memperhatikan pembentukan karakter siswa.
Karena itu menurut pengamat pendidikan Arief Rahman, sekolah dan pemerintah sebaiknya segera mengubah kesalahan dalam sistem pendidikan tersebut. "Sistem pendidikan di sinilah menurut pendapat saya, perlu dikaji dan diteliti kembali," tuturnya kepada Sindonews, Jumat (28/9/2012).
Selain melakukan perubahan kurikulum yang menguatkan aspek pembentukan karakter siswa yang cerdas intelektual, cerdas emosional dan cerdas spiritual di sini pihak sekolah dituntut sebagai pelayan bagi siswanya dalam menyalurkan segala aspirasi dan tidak melulu kegiatan akademis.
"Karena ini anak muda mereka memerlukan sebuah pelayanan agar jati diri mereka tersalur secara positif. Pelajaran itu juga jangan terlalu ditekankan hanya pada kegiatan akademis yang mengunggulkan otak saja tapi hati juga harus dilayani. Perasaan juga harus dilayani," usulnya.
Selanjutnya, tiap-tiap sekolah dituntut untuk serius menjalankan sistem pendidikan tersebut. Manajemen di sekolah harus berjalan dengan baik.
Peraturan harus diberlakukan secara tegas tanpa kompromi. Jika tidak, maka kejadian serupa akan terjadi berulang-ulang dan menimbulkan korban jiwa.
"Pihak sekolah juga harus bisa mengidentifikasi anak didiknya yang terlibat dalam tawuran apalgi brtindak anarkis," imbuhnya.
(lns)