Polres Jaksel lindungi pembunuh Alawy
Kamis, 27 September 2012 - 16:33 WIB
Polres Jaksel lindungi pembunuh Alawy
A
A
A
Sindonews.com - Pelarian FR, pelajar SMAN 70 Jakarta dari kejaran polisi berakhir sudah. Tersangka kasus pembunuhan siswa SMAN 6 Alawy Yusianto Putra (15) itu, berhasil dibekuk saat berada di Yogyakarta. Saat ini, FR telah digelandang ke Polres Metro Jakarta Selatan.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, FR tiba sekira pukul 15.30 WIB. Dengan kepala tertunduk, FR datang diantar mobil Pajero Sport berwarna merah bernomor polisi B 701 NAI, dengan pengawalan ketat petugas kepolisian.
Tidak hanya itu, FR juga terlihat terus menutupi wajahnya dengan jaket. Pelaku digelandang menuju kantor polisi dengan tangan terborgol. Untuk melindungi tersangka, aparat kepolisian bahkan berusaha menghalangi wartawan foto untuk mengambil gambar kedatangan FR.
Sementara itu, Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningingrat telah tiba di Polres Jakarta Selatan. Namun, Wahyu belum mau memberikan alasan mengenai pengawalan FR yang terkesan berlebihan tersebut. "Nanti saja ya penjelasannya," kata Wahyu di Mapolres Jakarta Selatan, Kamis (27/9/2012).
Seperti diketahui, tawuran antara pelajar dua sekolah elite tersebut kerap terjadi. Selama 2012 tercatat, dua pelajar sekolah itu sudah tiga kali tawuran. Puncaknya pecah pada Senin 24 September 2012 lalu. Dalam tawuran itu, siswa SMAN 6 Alawy Yusianto Putra (15) tewas akibat luka tikam di dadanya.
Selain mengakibatkan korban tewas, dua pelajar SMAN 6 lainnya, El Farouq Hassan (15), dan Dimas (15), juga menderita luka ringan. Tawuran dua kelompok pelajar yang sudah bertahun-tahun menjadi musuh bebuyutan ini, terjadi di Bundaran Patung Tangan, belakang Blok-M Plaza.
Farouq menuturkan, seusai jam pelajaran sekolah, dia bersama 15 orang temannya berjalan dari gedung SMAN 6 menuju lokasi parkiran sepeda motor yang berada di luar gedung sekolah.
Ketika berjalan di lokasi kejadian, tiba-tiba saja rombongan itu diserang oleh belasan siswa yang berasal dari SMAN 70. "Mereka membawa celurit, gir, dan parang sambil berlarian menuju arah kami," terangya, menceritakan peristiwa saat itu.
Serangan mendadak ini membuat rombongan pelajar SMAN 6 berhamburan menyelamatkan diri. Ketika berusaha menyelamat diri inilah sejumlah pelajar dari SMAN 70 mengayunkan senjata tajam ke arah Farouq dan Alawy. Farouq mengaku dirinya sempat menangkis celurit yang disabetkan ke arahnya menggunakan tangan hingga terluka.
Nahas bagi Alawy, siswa kelas X-8 ini tak dapat menghindar dari sabetan senjata tajam pelaku yang tepat mengenai bagian dadanya. Alawy pun terkapar sambil memegangi dadanya yang terluka.
Melihat korban terkapar, para pelaku langsung kabur melarikan diri. Farouq dibantu sejumlah temannya bergegas membawa Alawy ke RS Muhammadiyah yang tak jauh dari lokasi kejadian dengan sepeda motor. Karena lukanya yang cukup parah, korban kehabisan daragh dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, FR tiba sekira pukul 15.30 WIB. Dengan kepala tertunduk, FR datang diantar mobil Pajero Sport berwarna merah bernomor polisi B 701 NAI, dengan pengawalan ketat petugas kepolisian.
Tidak hanya itu, FR juga terlihat terus menutupi wajahnya dengan jaket. Pelaku digelandang menuju kantor polisi dengan tangan terborgol. Untuk melindungi tersangka, aparat kepolisian bahkan berusaha menghalangi wartawan foto untuk mengambil gambar kedatangan FR.
Sementara itu, Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningingrat telah tiba di Polres Jakarta Selatan. Namun, Wahyu belum mau memberikan alasan mengenai pengawalan FR yang terkesan berlebihan tersebut. "Nanti saja ya penjelasannya," kata Wahyu di Mapolres Jakarta Selatan, Kamis (27/9/2012).
Seperti diketahui, tawuran antara pelajar dua sekolah elite tersebut kerap terjadi. Selama 2012 tercatat, dua pelajar sekolah itu sudah tiga kali tawuran. Puncaknya pecah pada Senin 24 September 2012 lalu. Dalam tawuran itu, siswa SMAN 6 Alawy Yusianto Putra (15) tewas akibat luka tikam di dadanya.
Selain mengakibatkan korban tewas, dua pelajar SMAN 6 lainnya, El Farouq Hassan (15), dan Dimas (15), juga menderita luka ringan. Tawuran dua kelompok pelajar yang sudah bertahun-tahun menjadi musuh bebuyutan ini, terjadi di Bundaran Patung Tangan, belakang Blok-M Plaza.
Farouq menuturkan, seusai jam pelajaran sekolah, dia bersama 15 orang temannya berjalan dari gedung SMAN 6 menuju lokasi parkiran sepeda motor yang berada di luar gedung sekolah.
Ketika berjalan di lokasi kejadian, tiba-tiba saja rombongan itu diserang oleh belasan siswa yang berasal dari SMAN 70. "Mereka membawa celurit, gir, dan parang sambil berlarian menuju arah kami," terangya, menceritakan peristiwa saat itu.
Serangan mendadak ini membuat rombongan pelajar SMAN 6 berhamburan menyelamatkan diri. Ketika berusaha menyelamat diri inilah sejumlah pelajar dari SMAN 70 mengayunkan senjata tajam ke arah Farouq dan Alawy. Farouq mengaku dirinya sempat menangkis celurit yang disabetkan ke arahnya menggunakan tangan hingga terluka.
Nahas bagi Alawy, siswa kelas X-8 ini tak dapat menghindar dari sabetan senjata tajam pelaku yang tepat mengenai bagian dadanya. Alawy pun terkapar sambil memegangi dadanya yang terluka.
Melihat korban terkapar, para pelaku langsung kabur melarikan diri. Farouq dibantu sejumlah temannya bergegas membawa Alawy ke RS Muhammadiyah yang tak jauh dari lokasi kejadian dengan sepeda motor. Karena lukanya yang cukup parah, korban kehabisan daragh dan menghembuskan nafas terakhirnya.
(san)