29 PSK Dolli dipulangkan ke kampung halaman
Kamis, 27 September 2012 - 15:28 WIB
29 PSK Dolli dipulangkan ke kampung halaman
A
A
A
Sindonews.com - Pendekatan persuasif yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terhadap para Pekerja Seks Komersial (PSK) dan mucikari selama bulan Ramadan lalu, mulai membuahkan hasil. Kemarin, pemkot memulangkan 29 PSK ke kampung halamannya masing-masing.
Dari puluhan PSK yang dipulangkan, sebanyak 22 orang berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim) seperti Malang, Batu, Blitar, Pasuruan, Lumajang, Banyuwangi, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, Nganjuk, dan Kediri. Sementara dua orang lainnya, dari Surabaya asli.
"Ada juga tujuh orang berasal dari luar Jatim seperti Pekalongan, Kalimantan, Batang (Jabar) dan Karawang," ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Supomo di sela-sela pemulangan PSK di kediaman wali kota, Kamis (27/9/2012).
Para PSK yang dipulangkan, terdiri dari berbagai usia. PSK termuda berusia 26 tahun, dan tertua 56 tahun. Selama ini, mereka menjadi penghuni lokalisasi yang ada di Dolly dan Bangunsari.
Supomo menjelaskan, mereka akan diantar oleh relawan pendamping hingga ke tempat tinggalnya. Untuk yang berasal dari luar provinsi, menjadi tanggung jawab Dinsos Jatim. Untuk memperlancar kehidupan PSK setelah di kampung halaman, mereka mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp3 juta dari Pemprov Jatim.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang ikut melepas pemberangkatan rombongan mengatakan, ini merupakan langkah awal bagi para wanita harapan untuk memulai kehidupan yang lebih baik. "Kalau kita punya niat yang baik, maka Tuhan pasti akan memberikan jalan," tegasnya.
Dia juga berpesan, agar yang sudah pulang ke daerah asal tidak kembali ke dunia lamanya. Jika ketahuan kembali ke Surabaya dengan profesi yang masih sama, wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan ini menegaskan akan langsung mengarahkan yang bersangkutan ke Liponsos.
Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu juga menjelaskan, selama bulan puasa pihaknya rajin memantau ke lokalisasi. Dari sana diketahui, ada beberapa yang ingin pulang ke daerah asal. Pemkot kemudian intensif melakukan pendekatan-pendekatan, khususnya dengan PSK dan para mucikari.
Risma juga menegaskan, pemulangan ini akan terus berlanjut, namun dilakukan secara bertahap. Dengan ini, lambat laun akan berujung pada penutupan lokalisasi.
"Kami punya target menutup lokalisasi tapi harus dilakukan dengan cara humanis, seperti melalui pelatihan dan pemberian rangsangan modal usaha," terangnya.
Dari puluhan PSK yang dipulangkan, sebanyak 22 orang berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim) seperti Malang, Batu, Blitar, Pasuruan, Lumajang, Banyuwangi, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, Nganjuk, dan Kediri. Sementara dua orang lainnya, dari Surabaya asli.
"Ada juga tujuh orang berasal dari luar Jatim seperti Pekalongan, Kalimantan, Batang (Jabar) dan Karawang," ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Supomo di sela-sela pemulangan PSK di kediaman wali kota, Kamis (27/9/2012).
Para PSK yang dipulangkan, terdiri dari berbagai usia. PSK termuda berusia 26 tahun, dan tertua 56 tahun. Selama ini, mereka menjadi penghuni lokalisasi yang ada di Dolly dan Bangunsari.
Supomo menjelaskan, mereka akan diantar oleh relawan pendamping hingga ke tempat tinggalnya. Untuk yang berasal dari luar provinsi, menjadi tanggung jawab Dinsos Jatim. Untuk memperlancar kehidupan PSK setelah di kampung halaman, mereka mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp3 juta dari Pemprov Jatim.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang ikut melepas pemberangkatan rombongan mengatakan, ini merupakan langkah awal bagi para wanita harapan untuk memulai kehidupan yang lebih baik. "Kalau kita punya niat yang baik, maka Tuhan pasti akan memberikan jalan," tegasnya.
Dia juga berpesan, agar yang sudah pulang ke daerah asal tidak kembali ke dunia lamanya. Jika ketahuan kembali ke Surabaya dengan profesi yang masih sama, wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan ini menegaskan akan langsung mengarahkan yang bersangkutan ke Liponsos.
Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu juga menjelaskan, selama bulan puasa pihaknya rajin memantau ke lokalisasi. Dari sana diketahui, ada beberapa yang ingin pulang ke daerah asal. Pemkot kemudian intensif melakukan pendekatan-pendekatan, khususnya dengan PSK dan para mucikari.
Risma juga menegaskan, pemulangan ini akan terus berlanjut, namun dilakukan secara bertahap. Dengan ini, lambat laun akan berujung pada penutupan lokalisasi.
"Kami punya target menutup lokalisasi tapi harus dilakukan dengan cara humanis, seperti melalui pelatihan dan pemberian rangsangan modal usaha," terangnya.
(san)