Maraknya tawuran buntut aksi senioritas di sekolah
Kamis, 27 September 2012 - 05:59 WIB
Maraknya tawuran buntut aksi senioritas di sekolah
A
A
A
Sindonews.com - Maraknya tawuran yang terjadi beberapa hari terakhir hingga akhirnya menyebabkan korban jiwa dianggap merupakan hasil dari aksi senioritas yang terjadi di setiap sekolah. Dengan kebiasan senioritas itulah yang kemudian menjadi ajang balas dendam bagi para siswa siswa secara turun temurun.
Menurut Sekertaris jendera Komisi Nasional Anak Arist Merdeka Sirait, fenomena tawuran oleh siswa tersebut dianggap merupakan penyakit yang sudah sangat mengakar terjadi di setiap sekolah dan juga siswa. Jika hal tersebut tidak diputus, mustahil aksi tawuran dapat menghilang dari tradisi para siswa.
"Selama ini kekerasan itu dibiarkan terjadi di lingkungan sekolah. Mata rantai yakni aksi senioritas yang menjadi permasalahan tersebut dibiarkan dan tidak diselesaikan dengan baik. Walaupun ada kasus kekerasan di sekolah itu hanya diselesaikan dengan tidak menyentuh masalah sebenarnya," kata Arist saat dihubungi sindonews, Kamis (27/9/2012).
Arist menegaskan, pihak sekolah harus berani mengambil tindakan tegas untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Aksi senioritas yang masih sering dilakukan oleh para siswa ataupun alumni sekolah harus segera dihentikan agar aksi serupa tidak kembali pecah.
"Jadi yang sekarang terjadi adalah daur ulang terhadap yang ditiru dari seniornya. Mata rantai harus diputus dari senior dengan siswa didiknya. Apa yang dipertontokan oleh senioritas itu di daur ulang dan tidak diperotonkan kepada juniornya lagi jadi itu yang harus diputus," jelasnya.
Arist juga menambahkan, peran keluarga para siswa saat ini juga sangat penting untuk dilakukan. Pasalnya, keluarga, jelas Arist, harus ikut bertanggungjawab dalam proses pembentukan anak hingga kemudian dia masuk ke bangku sekolah.
"Tentunya harus dimulai dari rumah. Orangtua jangan hanya menyerahkan anaknya begitu saja ke sekolah. Orangtua harus memberikan ekstra perhatian dan juga perhatian kepada anak anak," tegasnya.
Menurut Sekertaris jendera Komisi Nasional Anak Arist Merdeka Sirait, fenomena tawuran oleh siswa tersebut dianggap merupakan penyakit yang sudah sangat mengakar terjadi di setiap sekolah dan juga siswa. Jika hal tersebut tidak diputus, mustahil aksi tawuran dapat menghilang dari tradisi para siswa.
"Selama ini kekerasan itu dibiarkan terjadi di lingkungan sekolah. Mata rantai yakni aksi senioritas yang menjadi permasalahan tersebut dibiarkan dan tidak diselesaikan dengan baik. Walaupun ada kasus kekerasan di sekolah itu hanya diselesaikan dengan tidak menyentuh masalah sebenarnya," kata Arist saat dihubungi sindonews, Kamis (27/9/2012).
Arist menegaskan, pihak sekolah harus berani mengambil tindakan tegas untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Aksi senioritas yang masih sering dilakukan oleh para siswa ataupun alumni sekolah harus segera dihentikan agar aksi serupa tidak kembali pecah.
"Jadi yang sekarang terjadi adalah daur ulang terhadap yang ditiru dari seniornya. Mata rantai harus diputus dari senior dengan siswa didiknya. Apa yang dipertontokan oleh senioritas itu di daur ulang dan tidak diperotonkan kepada juniornya lagi jadi itu yang harus diputus," jelasnya.
Arist juga menambahkan, peran keluarga para siswa saat ini juga sangat penting untuk dilakukan. Pasalnya, keluarga, jelas Arist, harus ikut bertanggungjawab dalam proses pembentukan anak hingga kemudian dia masuk ke bangku sekolah.
"Tentunya harus dimulai dari rumah. Orangtua jangan hanya menyerahkan anaknya begitu saja ke sekolah. Orangtua harus memberikan ekstra perhatian dan juga perhatian kepada anak anak," tegasnya.
(azh)