Jepang latih Surabaya kelola sampah terpadu
Selasa, 25 September 2012 - 16:17 WIB
Jepang latih Surabaya kelola sampah terpadu
A
A
A
Sindonews.com – Pengelolaan sampah di Surabaya mulai ditata. Untuk menambah skill, Pemkot Surabaya mendapatkan pelatihan pengelolaan sampah dari tim Jepang. Mereka berasal dari Beetle, sebuah perusahaan yang melakukan pengelolaan sampah di Kitayushu.
Para personil dari Beetle juga melakukan studi tentang sampah di Surabaya. Mereka memberikan pelatihan kepada para pemulung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Sutorejo.
Mereka memberikan cara memilah sampah basah dan sampah kering. Dengan pemilahan sampah itu, selain bisa didaur ulang, hal tersebut juga bisa mempanjang usia Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Langkah itu juga tidak membutuhkan biaya tapi bisa dilakukan bersama-sama,” ujar Senior Managing Director Beetle Yasuhiro Nishihara menjelaskan, Selasa (25/9/2012).
Ia melanjutkan, sampah di Surabaya memiliki kharateristik yang sama dengan di Kitayushu. Bahkan dari sisi volume sampah per hari yang dihasilkan baik dari limbah rumah tangga atau industri, sampah di Kitayushu lebih banyak. Di Surabaya, volume sampah yang masuk ke TPA Benowo mencapai 1.200 ton per hari, sedangkan di Kitayushu sekitar 1.300 ton per hari. Padahal jumlah penduduk di sana, hanya sepertiga dari jumlah penduduk di Surabaya.
Meski demikian, pengelolaan sampah di Kitayushu cukup berhasil. Sebab pemerintah setempat sudah membuat aturan soal sampah. “Kita ada aturannya, yakni pemilahan sampah harus sudah dilakukan sejak rumah tangga,” jelas Yasuhiro.
Di kota tersebut juga sudah diatur tentang sampah yang akan dibuang. Misalnya, hari Senin hanya untuk membuang sampah kertas saja, plastik sampah organik dan sebagainya. Dari rumah tangga, sampah yang dikeluarkan sudah harus dipilah-pilah.
Yasuhiro mengatakan keterlibatan swasta juga sangat berperan. Swasta diberikan peluang ikut mengelola sampah. Padahal swasta tidak dibayar oleh pemerintah. Untuk mengorganisir pengelolaan, sampah industri dikelola oleh swasta.
“Kalau sampah rumah tangga yang mengelola pemerintah,” tambahnya.
Naoki Motoshima dari Departemen Lingkungan Hidup pemerintahan Kitayushu menambahkan setelah dipilah, sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dibakar menggunakan incinerator. “Hasil pembakaran digunakan untuk menguruk laut,” kata Naoki.
Tentang TPA Benowo, mereka berpendapat pengelolaan sampah harus dilakukan dengan langkah tepat. Jika tidak, TPA akan penuh.
“Jika sudah dipilah-pilah, maka TPA Benowo bisa berumur panjang. Sehingga sampah yang dibuang ke TPA adalah sisa yang sudah tidak bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Para personil dari Beetle juga melakukan studi tentang sampah di Surabaya. Mereka memberikan pelatihan kepada para pemulung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Sutorejo.
Mereka memberikan cara memilah sampah basah dan sampah kering. Dengan pemilahan sampah itu, selain bisa didaur ulang, hal tersebut juga bisa mempanjang usia Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Langkah itu juga tidak membutuhkan biaya tapi bisa dilakukan bersama-sama,” ujar Senior Managing Director Beetle Yasuhiro Nishihara menjelaskan, Selasa (25/9/2012).
Ia melanjutkan, sampah di Surabaya memiliki kharateristik yang sama dengan di Kitayushu. Bahkan dari sisi volume sampah per hari yang dihasilkan baik dari limbah rumah tangga atau industri, sampah di Kitayushu lebih banyak. Di Surabaya, volume sampah yang masuk ke TPA Benowo mencapai 1.200 ton per hari, sedangkan di Kitayushu sekitar 1.300 ton per hari. Padahal jumlah penduduk di sana, hanya sepertiga dari jumlah penduduk di Surabaya.
Meski demikian, pengelolaan sampah di Kitayushu cukup berhasil. Sebab pemerintah setempat sudah membuat aturan soal sampah. “Kita ada aturannya, yakni pemilahan sampah harus sudah dilakukan sejak rumah tangga,” jelas Yasuhiro.
Di kota tersebut juga sudah diatur tentang sampah yang akan dibuang. Misalnya, hari Senin hanya untuk membuang sampah kertas saja, plastik sampah organik dan sebagainya. Dari rumah tangga, sampah yang dikeluarkan sudah harus dipilah-pilah.
Yasuhiro mengatakan keterlibatan swasta juga sangat berperan. Swasta diberikan peluang ikut mengelola sampah. Padahal swasta tidak dibayar oleh pemerintah. Untuk mengorganisir pengelolaan, sampah industri dikelola oleh swasta.
“Kalau sampah rumah tangga yang mengelola pemerintah,” tambahnya.
Naoki Motoshima dari Departemen Lingkungan Hidup pemerintahan Kitayushu menambahkan setelah dipilah, sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dibakar menggunakan incinerator. “Hasil pembakaran digunakan untuk menguruk laut,” kata Naoki.
Tentang TPA Benowo, mereka berpendapat pengelolaan sampah harus dilakukan dengan langkah tepat. Jika tidak, TPA akan penuh.
“Jika sudah dipilah-pilah, maka TPA Benowo bisa berumur panjang. Sehingga sampah yang dibuang ke TPA adalah sisa yang sudah tidak bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
(azh)