Waspada, air tanah tercemar logam berat
Rabu, 12 September 2012 - 16:14 WIB
Waspada, air tanah tercemar logam berat
A
A
A
Sindonews.com - Air Bawah Tanah (ABT) di kawasan Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) ternyata tercemar logam berat. Sehingga jika digunakan untuk kebutuhan minum terus menerus akan menyebabkan gondok dan penyakit lainnya.
Untuk itulah, kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) meminta agar Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Delta Tirta Sidoarjo menyuplai air untuk warga di wilayah kecamatan paling selatan Kabupaten Sidoarjo tersebut.
"Sudah lama kawasan Jabon itu air sumur tercemar logam berat. Sehingga satu-satunya solusi adalah harus menyambung jaringan pipa PDAM ke kawasan tersebut," ujar anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) DPRD Sidoarjo Wijono, Rabu (12/9/2012).
Jika sudah ada jaringan PDAM ke wilayah Jabon, warga yang semula menggunakan air bawah tanah untuk minum beralih menggunakan air PDAM. Sebab, kwalitas air PDAM lebih baik daripada ABT di kawasan Jabon.
Pernyataan Wijono jika ABT di kawasan Jabon tercemar logam berat didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan beberapa kali oleh Dinkes maupun oleh Koalisi Sidoarjo Sehat (KSS).
"Kalau ABT di Jabon tercemar logam berat itu sudah sejak dulu. Sebelum saya menjadi dewan sudah ada data-datanya dari hasil penelitian itu. Di Jabon memang endemis gondok," ungkap politisi yang juga anggota Komisi D DPRD Sidoarjo.
Logam berat yang meresap ke sumur warga berasal dari limbah di Sungai Porong. Sebab, selama ini Sungai Porong dijadikan pembuangan limbah dari perusahaan-perusahaan yang berada di sungai tersebut.
Wijono menjelaskan, dampak dari logam berat tersebut bukan hanya menyebabkan penyakit gondok. Namun, bisa juga menyebabkan beberapa penyakit seperti kemunduran mental (cretisnisme) dan menghambat perkembangan tubuh (kerdil).
"Saya sudah melihat kondisi di Jabon, secara acak memang disana banyak warga yang terserang gondok. Ada juga yang keterbelakangan mental dan fisik cenderung kerdil. logam berat akan menggerus kandungan yodium di air sumur," papar Wijono.
Kepala Dinkes Sidoarjo Ika Harnasti saat dikonfirmasi mengakui jika air bawah tanah di kawasan Jabon kekurangan yudium. Pihaknya sudah turun dan membina masyarakat jabon, mulai PKK sampai tingkat RT untuk mengetahui jenis dan penyakit apa disana. "Sudah lama air di sana terdeteksi kekurangan yodium," ujarnya.
Ditanya terkait berapa jumlah warga di Kecamatan Jabon dan di Sidoarjo yang terserang penyakit gondok, Ika Harnasti mengaku tidak hafal datanya. Namun, pihaknya selama ini terus menanggulangi penyakit gondok dengan menggalakkan garam beryodium.
Sementara itu, Humas PDAM Delta Tirta Sidoarjo Yoyok Supriyanto mengatakan jika pipa PDAM sudah sampai di Desa Keboguyang, Kecamatan Jabon. Sebenarnya tinggal menyambung ke rumah-rumah warga yang membutuhkan. "Tapi warga sana mintanya gratis dan itu tidak mungkin," ujarnya.
Kemungkinan PDAM menyuplai air melalui mobil tangki, Yoyok mengaku itu bisa dilakukan jika ada yang menanggung biayanya. Sampai saat ini warga Jabon masih meminta suplai air secara gratis.
Untuk itulah, kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) meminta agar Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Delta Tirta Sidoarjo menyuplai air untuk warga di wilayah kecamatan paling selatan Kabupaten Sidoarjo tersebut.
"Sudah lama kawasan Jabon itu air sumur tercemar logam berat. Sehingga satu-satunya solusi adalah harus menyambung jaringan pipa PDAM ke kawasan tersebut," ujar anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) DPRD Sidoarjo Wijono, Rabu (12/9/2012).
Jika sudah ada jaringan PDAM ke wilayah Jabon, warga yang semula menggunakan air bawah tanah untuk minum beralih menggunakan air PDAM. Sebab, kwalitas air PDAM lebih baik daripada ABT di kawasan Jabon.
Pernyataan Wijono jika ABT di kawasan Jabon tercemar logam berat didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan beberapa kali oleh Dinkes maupun oleh Koalisi Sidoarjo Sehat (KSS).
"Kalau ABT di Jabon tercemar logam berat itu sudah sejak dulu. Sebelum saya menjadi dewan sudah ada data-datanya dari hasil penelitian itu. Di Jabon memang endemis gondok," ungkap politisi yang juga anggota Komisi D DPRD Sidoarjo.
Logam berat yang meresap ke sumur warga berasal dari limbah di Sungai Porong. Sebab, selama ini Sungai Porong dijadikan pembuangan limbah dari perusahaan-perusahaan yang berada di sungai tersebut.
Wijono menjelaskan, dampak dari logam berat tersebut bukan hanya menyebabkan penyakit gondok. Namun, bisa juga menyebabkan beberapa penyakit seperti kemunduran mental (cretisnisme) dan menghambat perkembangan tubuh (kerdil).
"Saya sudah melihat kondisi di Jabon, secara acak memang disana banyak warga yang terserang gondok. Ada juga yang keterbelakangan mental dan fisik cenderung kerdil. logam berat akan menggerus kandungan yodium di air sumur," papar Wijono.
Kepala Dinkes Sidoarjo Ika Harnasti saat dikonfirmasi mengakui jika air bawah tanah di kawasan Jabon kekurangan yudium. Pihaknya sudah turun dan membina masyarakat jabon, mulai PKK sampai tingkat RT untuk mengetahui jenis dan penyakit apa disana. "Sudah lama air di sana terdeteksi kekurangan yodium," ujarnya.
Ditanya terkait berapa jumlah warga di Kecamatan Jabon dan di Sidoarjo yang terserang penyakit gondok, Ika Harnasti mengaku tidak hafal datanya. Namun, pihaknya selama ini terus menanggulangi penyakit gondok dengan menggalakkan garam beryodium.
Sementara itu, Humas PDAM Delta Tirta Sidoarjo Yoyok Supriyanto mengatakan jika pipa PDAM sudah sampai di Desa Keboguyang, Kecamatan Jabon. Sebenarnya tinggal menyambung ke rumah-rumah warga yang membutuhkan. "Tapi warga sana mintanya gratis dan itu tidak mungkin," ujarnya.
Kemungkinan PDAM menyuplai air melalui mobil tangki, Yoyok mengaku itu bisa dilakukan jika ada yang menanggung biayanya. Sampai saat ini warga Jabon masih meminta suplai air secara gratis.
(azh)