Pandai matematika, Andika jadi asisten guru
Selasa, 28 Agustus 2012 - 06:07 WIB
Pandai matematika, Andika jadi asisten guru
A
A
A
ANDIKA Naufal Helmy (11), siswa kelas 5 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Kamil, Dusun Pecantingan, Desa Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo bisa dibilang berbeda dengan teman sebayanya. Saat guru menerangkan pelajaran di kelas, dia tidak menghiraukan dan asyik sendiri. Namun, siapa sangka dia bisa meraih medali emas dalam Olympiade International Mathematics Contest (IMC) Union 2012, di Global Indian International School, Singapura, beberapa waktu lalu.
Dengan mengayuh sepeda onthel, Andika berangkat sekolah dari rumahnya di Perumahan Mutiara Citra Graha (MCG) Blok D6/17, Desa Larangan, Kecamatan Candi. Dia tidak risau meski harus menempuh jarak sekitar dua kilometer untuk sampai di sekolahnya.
Tanpa mengeluh tiap hari dia lakoni, meski kadang peluh bercucuran. Menggunakan baju putih dan celana merah dia terus mengayuh sepedanya. Setiap pagi, dia selalu beriringan dengan adiknya yang juga mengayuh sepeda menuju sekolah di SD yang sama.
"Adik saya kelas 2, tiap pagi berangkat sekolah naik sepeda sama saya. Karena pulangnya tidak bareng, jadi bawa sepeda sendiri-sendiri," ujar Andika.
Sesampai di sekolah, putra pertama dari Elis Widiarini tersebut layaknya seperti siswa lainnya masuk kelas dan duduk dibangku. Ketika guru menerangkan pelajaran, dia seperti acuh dan asyik sendiri. Tapi ketika ada pelajaran yang disampaikan tidak sesuai dia langsung mengacungkan tangan dan bertanya tidak seperti itu pelajarannya.
Meski tergolong cuek saat guru menerangkan pelajaran, namun nilai Andika di atas teman-temannya. Mulai kelas 1 dia sudah meraih ranking pertama dan nilai mata pelajaran rata-ratanya di atas 9. Bahkan, matematika mendapatkan nilai 10
"Kami awalnya heran, saat diterangkan dia cuek tapi nilainya mata pelajarannya bagus," ujar Taufik, wali kelas Andika.
Karena menonjol di mata pelajaran matematika, Andika saat kelas 3 sudah bisa menguasai pelajaran matematika untuk siswa kelas 6. Hal inilah yang membuat Andika dijadikan asisten guru matematika saat mengajar di kelas 5. Dia bisa menerangkan mata pelajaran matematika ke teman-temannya, bahkan dalam beberapa cara penyelesaian soal matematika.
Pernah suatu hari, ketika siswa kelas 6 sedang ada pelajaran matematika dia tidak sengaja lewat dan melihat dari pintu kelas. Anehnya, setelah itu dia bisa menyelesaikan soal matematika yang diajarkan untuk siswa kelas 6 saat itu.
"Saya heran, padahal hanya melihat sebentar tapi dia bisa mengerjakan soal matematika untuk kelas 6 yang saya ajarkan," ujar Syamsul Umar, guru matematika SD Islam Terpadu Insan Kamil.
Tak jarang, jika Syamsul mengajar matematika di kelas 5 dia menyuruh Andika untuk menerangkan pelajaran kepada teman-temannya. Pelajaran yang disampaikan tidak ada yang keliru. Namun, teman-temannya tidak mengerti ketika diajarkan penyelesaian soal matematika yang harusnya belum diajarkan siswa kelas 5.
Andika mudah menyerap apa yang dilihat dan dibaca. Bahkan, meski kini masih kelas 5 SD dia sudah bisa menghafal Alquran hampir dua juz. Padahal, biasanya siswa SDIT Insan Kamil baru bisa menghafal Alquran sebanyak 2 juz setelah lulus SD.
Karena menonjol di mata pelajaran matematika itulah, kemudian dia diikutkan seleksi Olympiade Matematika se-Asia Tenggara. Sebenarnya, SDIT Insan Kamil mengikutkan beberapa siswanya saat seleksi, namun hanya Andika saja yang lolos dan akhirnya bisa meraih medali emas dalam ajang bergengsi di bidang matematika tingkat SD tersebut.
Samsul mengakui jika Andika merupakan siswa mandiri, dia tiap pagi berangkat ke sekolah dengan naik sepeda onthel. Sedangkan saat pulang sesampainya di rumah dia tidak langsung bertemu ibunya karena belum kerja di Direktorat Jendral Pajak (DJP) Gresik Selatan.
"Di rumahnya tidak ada pembantu. Tapi dia memang anak mandiri, pulang langsung mandi. Saat magrib dia salat berjamaah di masjid terdekat. Biasanya anak seumurannya masih manja sama orang tuanya," ujar Saiful Umar.
Demikian pula saat di seolah, siswa yang ngefans Boy Band asal Korea Selatan Super Junior (SuJu) tersebut, ketika istirahat dia gunakan untuk membaca buku. Dia mudah menghafal buku-buku yang dibaca meski hanya sekali. Hal inilah yang membedakan Andika dengan teman-teman sebayanya.
Guru-guru di tempatnya sekolah awalnya mengira jika Andika merupakan anak berkebutuhan khusus. Namun, prilaku dia disekolah seperti anak normal dan hanya lebih senang bertanya serta pendiam. IQ anak pertama dari dua bersaudara ini tergolong tinggi 136, sehingga wajar bila lebih cerdas dibanding teman-temannya.
Meski tergolong cerdas dan mempunyai IQ tinggi, tapi Andika tidak mempunyai cita-cita yang muluk-muluk. Dia hanya ingin menjadi guru dan dosen jika besar nanti. "Saya ingin menjadi guru saja kalau besar," ujar Andika.
Setelah meraih medali emas dalam Olympiade Matematika se-Asia Tenggara, Andika mengaku ingin mengikuti ajang lebih mendunia lagi. Tidak ada persiapan khusus saat mengikuti Olympiade Matematika tingkat Asia Tenggara itu. Bahkan, saat di rumah dia juga jarang membaca pelajaran matematika.
"Kalau belajar saya membaca sekilas-sekilas saja," pungkas siswa yang suka makan sate tersebut.
Dengan mengayuh sepeda onthel, Andika berangkat sekolah dari rumahnya di Perumahan Mutiara Citra Graha (MCG) Blok D6/17, Desa Larangan, Kecamatan Candi. Dia tidak risau meski harus menempuh jarak sekitar dua kilometer untuk sampai di sekolahnya.
Tanpa mengeluh tiap hari dia lakoni, meski kadang peluh bercucuran. Menggunakan baju putih dan celana merah dia terus mengayuh sepedanya. Setiap pagi, dia selalu beriringan dengan adiknya yang juga mengayuh sepeda menuju sekolah di SD yang sama.
"Adik saya kelas 2, tiap pagi berangkat sekolah naik sepeda sama saya. Karena pulangnya tidak bareng, jadi bawa sepeda sendiri-sendiri," ujar Andika.
Sesampai di sekolah, putra pertama dari Elis Widiarini tersebut layaknya seperti siswa lainnya masuk kelas dan duduk dibangku. Ketika guru menerangkan pelajaran, dia seperti acuh dan asyik sendiri. Tapi ketika ada pelajaran yang disampaikan tidak sesuai dia langsung mengacungkan tangan dan bertanya tidak seperti itu pelajarannya.
Meski tergolong cuek saat guru menerangkan pelajaran, namun nilai Andika di atas teman-temannya. Mulai kelas 1 dia sudah meraih ranking pertama dan nilai mata pelajaran rata-ratanya di atas 9. Bahkan, matematika mendapatkan nilai 10
"Kami awalnya heran, saat diterangkan dia cuek tapi nilainya mata pelajarannya bagus," ujar Taufik, wali kelas Andika.
Karena menonjol di mata pelajaran matematika, Andika saat kelas 3 sudah bisa menguasai pelajaran matematika untuk siswa kelas 6. Hal inilah yang membuat Andika dijadikan asisten guru matematika saat mengajar di kelas 5. Dia bisa menerangkan mata pelajaran matematika ke teman-temannya, bahkan dalam beberapa cara penyelesaian soal matematika.
Pernah suatu hari, ketika siswa kelas 6 sedang ada pelajaran matematika dia tidak sengaja lewat dan melihat dari pintu kelas. Anehnya, setelah itu dia bisa menyelesaikan soal matematika yang diajarkan untuk siswa kelas 6 saat itu.
"Saya heran, padahal hanya melihat sebentar tapi dia bisa mengerjakan soal matematika untuk kelas 6 yang saya ajarkan," ujar Syamsul Umar, guru matematika SD Islam Terpadu Insan Kamil.
Tak jarang, jika Syamsul mengajar matematika di kelas 5 dia menyuruh Andika untuk menerangkan pelajaran kepada teman-temannya. Pelajaran yang disampaikan tidak ada yang keliru. Namun, teman-temannya tidak mengerti ketika diajarkan penyelesaian soal matematika yang harusnya belum diajarkan siswa kelas 5.
Andika mudah menyerap apa yang dilihat dan dibaca. Bahkan, meski kini masih kelas 5 SD dia sudah bisa menghafal Alquran hampir dua juz. Padahal, biasanya siswa SDIT Insan Kamil baru bisa menghafal Alquran sebanyak 2 juz setelah lulus SD.
Karena menonjol di mata pelajaran matematika itulah, kemudian dia diikutkan seleksi Olympiade Matematika se-Asia Tenggara. Sebenarnya, SDIT Insan Kamil mengikutkan beberapa siswanya saat seleksi, namun hanya Andika saja yang lolos dan akhirnya bisa meraih medali emas dalam ajang bergengsi di bidang matematika tingkat SD tersebut.
Samsul mengakui jika Andika merupakan siswa mandiri, dia tiap pagi berangkat ke sekolah dengan naik sepeda onthel. Sedangkan saat pulang sesampainya di rumah dia tidak langsung bertemu ibunya karena belum kerja di Direktorat Jendral Pajak (DJP) Gresik Selatan.
"Di rumahnya tidak ada pembantu. Tapi dia memang anak mandiri, pulang langsung mandi. Saat magrib dia salat berjamaah di masjid terdekat. Biasanya anak seumurannya masih manja sama orang tuanya," ujar Saiful Umar.
Demikian pula saat di seolah, siswa yang ngefans Boy Band asal Korea Selatan Super Junior (SuJu) tersebut, ketika istirahat dia gunakan untuk membaca buku. Dia mudah menghafal buku-buku yang dibaca meski hanya sekali. Hal inilah yang membedakan Andika dengan teman-teman sebayanya.
Guru-guru di tempatnya sekolah awalnya mengira jika Andika merupakan anak berkebutuhan khusus. Namun, prilaku dia disekolah seperti anak normal dan hanya lebih senang bertanya serta pendiam. IQ anak pertama dari dua bersaudara ini tergolong tinggi 136, sehingga wajar bila lebih cerdas dibanding teman-temannya.
Meski tergolong cerdas dan mempunyai IQ tinggi, tapi Andika tidak mempunyai cita-cita yang muluk-muluk. Dia hanya ingin menjadi guru dan dosen jika besar nanti. "Saya ingin menjadi guru saja kalau besar," ujar Andika.
Setelah meraih medali emas dalam Olympiade Matematika se-Asia Tenggara, Andika mengaku ingin mengikuti ajang lebih mendunia lagi. Tidak ada persiapan khusus saat mengikuti Olympiade Matematika tingkat Asia Tenggara itu. Bahkan, saat di rumah dia juga jarang membaca pelajaran matematika.
"Kalau belajar saya membaca sekilas-sekilas saja," pungkas siswa yang suka makan sate tersebut.
(azh)